Berlangganan

Menu

Bagaimana Seharusnya Orang Kristen Menanggapi Krisis dalam Pernikahan Mereka

Navigasi cepat
1.Pernikahan yang Indah dan Bahagia
2.Panggilan Telepon Seorang Wanita Tak Dikenal
3.Firman Tuhan Meluluhkan Hatiku yang Beku
4.Firman Tuhan Melarutkan Kebencian di Hatiku
5.Firman Tuhan Memimpinku untuk Mengatasi Tipu Daya Iblis
6.Aku Memiliki Keluarga yang Benar-Benar Bahagia dan Damai

Pernikahan yang Indah dan Bahagia

Sepanjang yang bisa kuingat, orang tuaku bertengkar sepanjang waktu dan aku sering melihat ibuku menangis. Pada saat itu, aku sangat mendambakan keluarga yang damai dan bahagia. Ketika aku tumbuh dewasa, aku bertekad untuk menemukan seorang suami yang akan memperhatikan aku dan yang bisa mengurus keluarganya, dan aku mengharapkan sebuah pernikahan yang indah dan bahagia.

Aku bertemu suamiku melalui perkenalan oleh seorang kerabat, dan kami menikah dan dikaruniai dua orang putri. Pada waktu itu, kami dikontrak untuk menjalankan penambangan pasir, dan suamiku bekerja sangat keras setiap hari. Meskipun demikian, begitu sampai di rumah, dia masih akan melakukan hal-hal seperti mencuci pakaian dan membuat makan malam. Suamiku sangat menyayangiku, dan dia tidak pernah membiarkan aku khawatir atau meminta bantuan kepadaku dalam masalah apa pun, entah besar atau kecil. Semua tetanggaku iri karena aku memiliki suami yang begitu baik dan keluarga yang begitu bahagia. Aku sangat puas dan merasa telah menikah dengan seorang pria yang baik, dan bahwa aku akan memiliki seseorang untuk menopangku selama sisa hidupku. Belakangan, suami dan seorang kerabatku pergi untuk memulai sebuah bisnis, dan aku mengelola bisnis penambangan pasir dari rumah. Meskipun itu sangat sulit dan melelahkan, aku merasa itu sepadan, tidak hanya untuk menghilangkan tekanan yang diemban suamiku, tetapi juga agar kehidupan kami semakin lama semakin baik. Dengan cara ini, yaitu dengan aku dan suamiku bekerja demi tujuan yang sama, setahun kemudian kami membeli sebuah rumah di kota. Aku kemudian mendapat pekerjaan di kota, dan kami menyerahkan tambang pasir kepada ayah suamiku untuk dikelola.

Hidup kami bersama semakin lama semakin baik dan hidup terasa begitu manis. Aku sering menantikan suamiku dan aku menghabiskan sisa hidup kami seperti ini, saling mencintai, bergandengan tangan, menciptakan kehidupan yang lebih baik bersama. Tidak pernah aku bayangkan ketika kemalangan diam-diam menghampiriku ...

Panggilan Telepon Seorang Wanita Tak Dikenal

Suatu hari, suamiku mengatakan bahwa bisnisnya tidak berjalan dengan baik dan dia ingin membuka restoran di Shanghai bersama seorang teman. Aku menyetujui rencana ini dan memberinya 20 ribu yuan. Setelah itu, suamiku berhenti mengirim uang ke rumah dan, setiap kali dia pulang, dia akan mengerang dan mengeluh, mengatakan bagaimana bisnis restoran tidak berjalan terlalu baik. Aku akan menghiburnya dan mengatakan kepadanya untuk tidak terlalu khawatir, dan akan memberinya uang sehingga dia akan memiliki cukup untuk usahanya agar terus berjalan. Meskipun demikian, suamiku tidak lagi seoptimis sebelumnya, dan kadang-kadang dia sengaja menghindari aku ketika menjawab telepon. Namun aku tidak terlalu memikirkan perilaku yang tidak biasa ini, berpikir bahwa dia pasti sedang mengalami banyak tekanan dan tidak ingin aku khawatir!

Suatu hari selama liburan musim panas, suamiku pulang dari Shanghai dan membelikan aku dan putri kami beberapa pakaian. Aku sangat senang. Aku berpikir pasti sulit bagi suamiku untuk meluangkan waktu mengunjungi kami, jadi kami harus memanfaatkan waktu kebersamaan ini sebaik mungkin, tetapi ia berkata bahwa ia ada urusan untuk dihadiri sore itu, dan ia pun pergi sendirian. Meskipun aku merasa sedikit kecewa, aku berpikir bahwa suamiku sangat sibuk demi keluarga kami, dan aku tidak terlalu ambil pusing dengan hal ini.

Malam itu, telepon rumah kami berdering, dan aku menjawabnya. Seorang wanita muda minta bicara dengan suamiku dengan menyebutkan nama suamiku, kemudian berkata dengan agresif bahwa dia dan suamiku telah hidup bersama di Shanghai dan bahwa mereka memiliki seorang putra berusia delapan bulan ... Begitu mendengar hal ini, aku seketika itu juga merasa sangat terkejut dan pikiranku menjadi kosong. Dalam hatiku, aku berteriak berulang-ulang: "Itu tidak mungkin, itu tidak mungkin. Suamiku tidak akan pernah mengkhianatiku dan melakukan hal seperti itu! Dia sangat mencintaiku, bagaimana dia bisa mengkhianatiku? Itu tidak mungkin!" Tetapi wanita muda itu berbicara dengan sangat jelas, dan aku memikirkan perilaku suamiku yang tidak biasa—mungkinkah apa yang dikatakannya benar? Bagaimana ini bisa terjadi? Aku ingin menangis tetapi air mata tidak kunjung turun dan, untuk menyelesaikan semuanya, aku segera menelepon suamiku dan menyuruhnya pulang.

Ketika aku bertanya kepada suamiku tentang hal itu, dia mengejutkanku dengan menangis, dan dia berkata kepadaku: "Aku minta maaf. Tolong berilah aku kesempatan lain ...." Dua kata "Maafkan aku" pada saat itu seperti pisau es yang menusuk ke dalam hatiku. Aku merasa seolah-olah hatiku terkoyak. Sangat menyakitkan.... Semua yang aku lakukan selama beberapa tahun terakhir adalah agar aku dapat memiliki keluarga yang bahagia. Aku tidak pernah berpikir bahwa semua yang aku dapatkan sebagai balasan adalah pengkhianatan suamiku! Aku menahan rasa sakit di hatiku dan, menangis, aku bertanya kepadanya bagaimana dia bisa melakukan itu kepadaku. Tersedak oleh isak tangis, dia berkata bahwa dia tidak tahan kesepian bekerja jauh dari rumah dan, ketika dia melihat bahwa begitu banyak rekan kerjanya memiliki wanita lain di samping mereka, dia tidak bisa menahan godaan lagi dan ... Pada saat itu, hal pertama yang masuk ke pikiranku adalah perceraian. Tetapi melihat suamiku merasa sangat menyesal dan menyalahkan dirinya sendiri tentang hal itu, aku ragu-ragu. Jika aku benar-benar menceraikannya, maka keluargaku akan hancur, dan putri kami juga akan menderita…. Aku merasakan sakit yang tak tertahankan rasanya, seolah-olah sebilah pisau telah mengukir hatiku, dan aku terus menangis: "Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan?"

Aku mempertimbangkannya untuk waktu yang lama. Pada akhirnya, agar anak perempuan kami tidak tumbuh dalam keluarga yang hancur, aku memilih untuk memaafkan suamiku. Aku memintanya pergi ke Shanghai untuk menjual restoran dan kemudian kembali ke rumah. Dia berjanji dengan setia bahwa dia akan melakukannya. Aku tidak pernah berpikir bahwa, begitu suamiku kembali ke Shanghai, dia akan mengirimkan pesan kepadaku yang membuatku hancur berkeping-keping: "Aku benar-benar tidak punya pilihan lain. Aku harus berbohong kepadamu ...." Setelah membaca pesannya, aku sejenak tercengang. Aku memikirkan bagaimana dia telah meminta maaf dengan sangat tulus dan membuat janji setia di hadapanku, tetapi itu semua adalah dusta untuk menipuku. Hatiku terasa seperti jatuh ke dalam lubang es, dan aku merasa sangat kecewa ...

Melihat keluargaku yang sangat bahagia hancur, dan semua kebahagiaan yang telah kualami, aku berbaring di tempat tidur dan menangis. Aku memikirkan bagaimana, ketika suamiku pergi ke Shanghai untuk membuka restorannya, dia selalu mengatakan bahwa dia tidak dapat menghasilkan uang karena persaingan begitu sengit, dan aku percaya setiap kata dan memberinya semua uang yang aku dapatkan dari bekerja keras. Aku tidak pernah membayangkan bahwa dia menyimpan wanita lain di sana, dan aku tidak bisa mengerti bagaimana dia bisa melakukannya kepadaku. Apa yang salah yang telah kulakukan? Selama waktu itu, aku menghabiskan setiap hari menangis. Aku tidak bisa makan atau tidur, dan aku benar-benar kehilangan tujuan dan arah hidupku, dan aku merasakan sakit dan kebingungan yang begitu besar. Ketika aku melihat keluarga-keluarga lain mengobrol dan tertawa saat mereka berjalan bersama setiap kali aku selesai bekerja, atau mendengar suara-suara gembira tetanggaku, aku akan menjadi sangat sedih. Kadang-kadang, aku merasakan sakit yang sedemikian rupa sehingga aku benar-benar ingin membalas dendam kepada suami dan wanita barunya, dan kemudian mengakhiri hidupku sendiri. Tetapi ketika aku memikirkan kedua anak perempuanku dan orang tuaku yang sudah lanjut usia, aku merasa tidak mungkin aku dapat meninggalkan mereka. Yang bisa kulakukan hanyalah merana kesakitan, dan setiap hari dalam hidupku terasa seperti setahun.

Firman Tuhan Meluluhkan Hatiku yang Beku

Tepat ketika aku berada di titik paling menderita, kolegaku memberikan kesaksian kepadaku tentang keselamatan dari Tuhan pada akhir zaman.. Aku membaca firman Tuhan: "Yang Mahakuasa berbelas kasihan kepada orang-orang yang sudah sangat menderita ini; pada saat yang sama, Dia muak dengan orang-orang yang tidak memiliki kesadaran ini, karena Dia harus menunggu terlalu lama untuk mendapatkan jawaban dari umat manusia. Dia ingin mencari, mencari hati dan rohmu, untuk membawakanmu air dan makanan, serta membangunkanmu, agar engkau tidak akan haus dan lapar lagi. Ketika engkau letih dan ketika engkau mulai merasakan adanya ketandusan yang suram di dunia ini, jangan kebingungan, jangan menangis. Tuhan Yang Mahakuasa, Sang Penjaga, akan menyambut kedatanganmu setiap saat. Dia berjaga di sisimu, menantikanmu untuk berbalik. Dia menantikan hari ketika engkau tiba-tiba memperoleh kembali ingatanmu: ketika engkau menyadari bahwa engkau berasal dari Tuhan, bahwa, entah kapan, engkau kehilangan arah, entah kapan, engkau kehilangan kesadaran di jalan, dan entah kapan, engkau mendapatkan seorang 'bapa'; selanjutnya, ketika engkau menyadari bahwa Yang Mahakuasa selama ini selalu mengamati, menantikan di sana sangat lama untuk kedatanganmu kembali" (Keluhan Yang Mahakuasa). Dihadapkan pada firman Tuhan yang begitu menyentuh, air mataku jatuh seperti hujan, dan semua rasa sakit dan emosi tertahan yang telah terbentuk sekian lamanya mencair menjadi air mata yang mengalir ke luar dengan bebas. Sebelumnya, aku selalu menganggap suamiku sebagai satu-satunya penopangku, dan menganggap memiliki keluarga yang baik dan bahagia sebagai tujuan hidupku. Setelah suamiku mengkhianatiku dan pergi, hatiku terasa seperti telah dikosongkan dan kemudian dibiarkan terapung, dan aku kehilangan tujuan hidupku dan hidup dalam kesakitan tanpa tahu apa yang harus aku lakukan selanjutnya. Namun Tuhan selalu ada di sampingku, mengawasiku. Tuhan tahu rasa sakit dan kebingungan yang aku rasakan dan, tepat pada saat aku merasa paling tidak berdaya, Dia memimpinku di hadapan-Nya, Dia menggunakan firman-Nya untuk menghibur hatiku yang terluka, dan membuatku melihat cahaya dalam kegelapan. Firman Tuhan menghangatkan hatiku, memberiku keberanian untuk terus hidup, dan membuatku mengerti bahwa hanya Tuhan-lah yang bisa menjadi penopang kita. Tuhan sedang menunggu kita untuk kembali ke rumah-Nya dan, dengan Tuhan di sampingku, aku berpikir, aku tidak akan merasa sendirian. Sejak saat itu, aku secara aktif mengambil bagian dalam kehidupan bergereja, dan sering menyanyikan lagu-lagu pujian, berdoa dan membaca firman Tuhan bersama saudara-saudariku. Kami bersekutu tentang kebenaran bersama, saling membantu dan memperlakukan satu sama lain dengan tulus. Aku merasakan kedamaian dan sukacita yang tidak pernah kualami sebelumnya.

Firman Tuhan Melarutkan Kebencian di Hatiku

Setelah aku mulai percaya kepada Tuhan, semangat dan penampilanku meningkat secara dramatis. Tetapi setiap malam, kala semuanya sunyi, aku akan teringat hal-hal yang ditinggalkan suamiku, dan aku tidak dapat menghentikan diriku memikirkan setiap hal kecil yang pernah aku lakukan untuk suamiku. Aku memikirkan bagaimana suamiku telah menipu dan mengkhianatiku dan aku akan merasakan sakit yang menyayat hati. Berlawanan dengan kehendakku, aku jadi dipenuhi dengan kebencian sedemikian rupa, sehingga aku mempertimbangkan untuk membalas dendam kepada mereka. Namun aku tahu bahwa, bahkan kalaupun aku menang pada akhirnya, aku akan menyebabkan kerusakan besar pada kedua belah pihak dan akan menyebabkan lebih banyak orang hidup dalam kesakitan. Tetapi aku tidak bisa melepaskan kebencianku terhadap suamiku, dan satu-satunya yang bisa kulakukan dalam rasa sakitku adalah datang ke hadapan Tuhan dan berdoa, memohon kepada-Nya agar membantuku melewati kegelapan rasa sakit ini.

Kemudian, aku membaca di dalam firman Tuhan: "Tren-tren ini muncul satu demi satu, dan semua itu membawa pengaruh jahat yang terus-menerus merendahkan manusia, menyebabkan orang kehilangan hati nurani, kemanusiaan, dan nalar, semakin melemahkan moral mereka dan kualitas karakter mereka, sampai-sampai kita bahkan bisa mengatakan bahwa sebagian besar orang sekarang ini tidak memiliki integritas, tidak memiliki kemanusiaan, dan tidak memiliki hati nurani, apalagi nalar. ... Satu demi satu, tren-tren semacam ini menyebabkan manusia, yang tubuh dan pikirannya tidak sehat, tidak mengetahui apa itu kebenaran, dan tidak dapat membedakan antara hal-hal yang positif dan negatif, dengan senang hati menerima tren-tren tersebut, juga pandangan hidup dan nilai-nilai yang berasal dari Iblis. Mereka menerima apa yang Iblis katakan kepada mereka tentang bagaimana menjalani hidup dan cara hidup yang Iblis 'anugerahkan' kepada mereka, dan mereka tidak memiliki kekuatan ataupun kemampuan, apalagi kesadaran untuk menentangnya" (Tuhan itu Sendiri, Tuhan yang Unik VI). Ketika aku merenungkan firman Tuhan, aku mulai memahami bahwa pengkhianatan suamiku dan rasa sakitku disebabkan oleh kecenderungan jahat Iblis. Saat ini, seluruh dunia semakin memburuk dari hari ke hari. Semua orang mengagumi kejahatan dan menjadi semakin rusak, mengolok-olok orang miskin namun menerima pelacur, dan mengangkat hal-hal negatif seolah-olah semua itu positif. Sama seperti pandangan jahat Iblis tentang "Memiliki istri atau suami di rumah tetapi juga mengambil kekasih," dan "Tanpa wanita simpanan, seorang pria tidak memiliki semangat hidup; tanpa kekasih, seorang wanita tidak lebih baik daripada seorang penabur." Pandangan seperti ini telah membanjiri masyarakat dan telah meresap ke dalam hati setiap orang, merusak pikiran kita dan mengubah pendapat banyak orang tentang berbagai hal. Semua orang berpikir bahwa "memiliki kekasih," "memelihara wanita simpanan," "berselingkuh," dan "cinta satu malam" adalah norma, mereka hidup dalam kuali besar pergaulan bebas dan kejahatan, mereka memuaskan nafsu fisik mereka dan dengan rakus menikmati kesenangan yang penuh dosa. Tidak ada yang berbicara tentang kesetiaan pernikahan atau tanggung jawab keluarga lagi, dan orang tidak lagi memiliki moral ataupun rasa malu. Orang-orang hanya memperhatikan kepuasan keinginan fisik mereka sendiri dan tidak memedulikan bagaimana perasaan keluarga mereka, mereka menjadi semakin jahat dan bejat, dan mereka menjadi semakin egois dan serakah. Siapa yang tahu berapa banyak keluarga yang hancur dan menjadi terpencar karena alasan ini? Berapa banyak orang yang hidup dalam rasa sakit yang tak terhindarkan sampai pada titik di mana, karena mereka tidak tahan dengan pengkhianatan pasangannya, mereka mengakhiri hidup mereka sendiri? Berapa banyak orang, karena mereka dipenuhi kebencian, secara ceroboh membalas dendam kepada pasangan mereka, sehingga mengakibatkan tragedi tanpa akhir? Aku memikirkan bagaimana suamiku telah menunjukkan kepadaku pertimbangan dalam setiap cara yang mungkin, tentang bagaimana kami telah saling mencintai dan bersikap baik satu sama lain dan memiliki keluarga yang indah dan bahagia. Tetapi setelah dia mulai bekerja jauh dari rumah, dia melihat begitu banyak rekan kerja dan teman-temannya berselingkuh dan, tanpa sadar, dia dipengaruhi dan diperdaya oleh kecenderungan yang jahat ini. Dia mengikuti kecenderungan yang jahat ini dan mulai memelihara wanita simpanan, dia punya anak bersamanya, benar-benar tidak memedulikan perasaanku ataupun perasaan anak perempuan kami, tetapi sebaliknya dia begitu saja berbohong kepadaku dan menipuku berulang kali, dan dia kehilangan hati nurani dan kemanusiaan yang seharusnya dimiliki manusia. Semua ini adalah buah yang pahit dan kemalangan yang dibawa oleh kecenderungan yang jahat kepada manusia! Kita manusia adalah tanpa kebenaran, tidak bisa membedakan kecenderungan jahat Iblis, dan tidak tahu apa yang baik dan apa yang jahat, tanpa sengaja dicobai dan dirusak oleh kecenderungan jahat dan dimainkan dan dirusak oleh Iblis. Setelah aku memahami hal-hal ini, aku menyadari bahwa suamiku tidak memahami kebenaran dan tidak dapat memahami tipu daya Iblis. Dia telah mengikuti kecenderungan yang jahat dan mengkhianati aku tanpa sadar. Pada saat itu, aku mulai sedikit memahami pengkhianatannya, dan tidak lagi membencinya sebesar sebelumnya.

Setelah itu, aku berdoa kepada Tuhan. Aku tidak lagi ingin terjebak dalam masalah ini yang menyebabkan aku hidup dalam kesakitan seperti itu, dan sebaliknya aku ingin membaca firman Tuhan dengan sungguh-sungguh dan mengejar kebenaran. Kemudian, aku mulai melakukan tugasku sebagai penerima tamu di gereja, dan menjalani kehidupan bergereja dan menyembah Tuhan dengan saudari-saudari seiman. Dalam hatiku merasakan kelepasan yang luar biasa dan senyum kembali muncul di wajahku.

Firman Tuhan Memimpinku untuk Mengatasi Tipu Daya Iblis

Suatu hari, istri adik laki-laki suamiku mengunjungi rumahku dan mengatakan bahwa suamiku dan wanita barunya telah kembali ke kota asal kami bersama putra mereka. Wanita barunya mengenakan busana dengan label terkenal dari ujung rambut sampai kaki dan memakai banyak perhiasan emas dan perak, dan dia mengatakan kepadaku bahwa aku harus memastikan diriku terlihat baik setiap saat.... Ketika aku mendengarnya mengatakan ini, aku merasa sangat sedih. Aku memikirkan bagaimana suamiku dan aku selalu irit dan berhemat ketika kami hidup bersama dan tidak pernah menghabiskan uang dengan sia-sia. Sekarang dia benar-benar kebalikannya dan menghabiskan semua uangnya untuk wanita barunya. Aku merasa sangat tertekan dan aku menangis, diliputi oleh perasaanku. Adik iparku menghiburku dan berkata: "Sejujurnya, aku tidak tahan melihat mereka. Aku pikir engkau dan dia adalah pasangan yang lebih baik. Jika engkau menuduhnya bigami, wanita barunya itu akan pergi, dan dia akan kembali kepadamu...." Aku sedikit terpengaruh oleh apa yang dikatakannya, dan aku berpikir, "Jika aku melakukan itu, suamiku akan kembali kepadaku, dan keluarga anak-anak kami akan menjadi utuh kembali." Tetapi kemudian aku berpikir, "Jika aku benar-benar menuduhnya melakukan bigami, itu tidak hanya akan menyakiti kami berdua, tetapi juga akan berdampak besar pada putri-putri kami. Apa yang harus kulakukan?" Pada saat itu, aku merasakan sakit yang luar biasa di hatiku. Aku menyadari bahwa situasiku tidak benar, jadi aku segera berseru kepada Tuhan memohon kepada-Nya untuk menjaga hatiku agar tetap tenang dan membimbingku. Setelah itu, aku memikirkan satu bagian dari firman Tuhan: "Engkau semua harus berjaga-jaga dan menanti-nantikan setiap saat, dan engkau harus lebih banyak berdoa di hadapan-Ku. Engkau harus mengenali berbagai tipu muslihat dan rencana licik Iblis…" ("Bab 17, Perkataan Kristus pada Awal Mulanya"). Firman Tuhan membangunkanku dengan keras dan aku menyadari bahwa ujian dari Iblis sedang kualami. Adik iparku menyuruhku berpakaian bagus dan menuduh suamiku melakukan bigami. Di permukaan, semua itu tampaknya demi kebaikanku, supaya suamiku kembali kepadaku sekali lagi. Tetapi setelah dipikirkan dengan saksama, esensi dari tindakan ini adalah bertindak menurut gagasan beracun Iblis yaitu "Jika kau tidak baik, aku tidak akan bersikap adil!" Jika aku hidup dalam watak rusakku dan membalas dendam kepada suamiku, itu akan melukai keluarga yang dia miliki sekarang dan akan membuatnya membenciku. Iblis berusaha menipuku, membuat aku dan suami saling menyerang dan menyakiti satu sama lain, sehingga kami akan hidup dalam kesakitan tanpa jeda. Sebenarnya, karena suamiku sudah memilih wanita lain daripada diriku, itu menunjukkan bahwa dia tidak punya perasaan lagi terhadapku. Bahkan jika aku bisa merebutnya kembali dengan beberapa cara curang, yang akan aku dapatkan hanyalah dia, dan bukan hatinya, dan apa arti pernikahan seperti itu yang tanpa perasaan? Bukankah itu hanya akan membuatku lebih sakit?

Pada saat ini, aku memikirkan bagian lain dari firman Tuhan: "Mengapa suami mengasihi istrinya? Dan mengapa istri mengasihi suaminya? Mengapa anak-anak berbakti kepada orang tuanya? Mengapa orang tua menyayangi anak-anak mereka? Niat macam apa yang sebenarnya dimiliki orang? Bukankah niat mereka adalah untuk memuaskan rencana dan keinginan egois mereka sendiri?" (Tuhan dan Manusia akan Masuk ke Tempat Perhentian Bersama-sama). Dari firman Tuhan, aku jadi paham bahwa manusia itu egois. Baik itu suami yang mencintai istrinya atau istri yang mencintai suaminya, kita semua melakukannya untuk memuaskan hasrat egois kita sendiri, dan kita semua saling memanfaatkan satu sama lain—ini bukan cinta sejati. Aku memikirkan bagaimana aku telah bersikap baik kepada suamiku hanya supaya dia akan bersikap baik kepadaku, memperhatikan aku dan merawatku. Sementara suamiku peduli kepadaku dan memujaku, dan mampu memenuhi setiap keinginanku, aku pun merasa bahagia; ketika suamiku mengkhianati aku, aku hidup dalam kesakitan, berpikir bahwa suamiku tidak layak atas semua yang telah aku lakukan demi dia, dan karenanya aku membencinya. Ketika aku mendengar bahwa suamiku hidup bahagia dengan wanita barunya, aku merasa cemburu dan kesal, aku ingin melakukan apa yang disarankan oleh adik ipar perempuanku dan menuduhnya bigami dan tidak membiarkan dia memiliki segalanya dengan caranya sendiri. Aku bahkan ingin dia masuk penjara, dan menggunakan ancaman itu sebagai cara agar dia berubah pikiran dan kembali kepadaku. Aku melihat bahwa aku begitu egois, hina dan jahat, dan semua yang aku lakukan sebenarnya untuk memuaskan keinginanku sendiri.

Ketika aku merenungkan firman Tuhan, hatiku perlahan-lahan mulai cerah, dan aku tahu apa yang harus kulakukan. Jadi aku berkata kepada saudari iparku, "Melihat mereka memiliki anak bersama, jika aku benar-benar menuntutnya, itu tidak akan ada gunanya bagi siapa pun. Jika mereka hidup bahagia, maka aku pun akan merestui mereka." Ketika dia mendengar aku mengatakan ini, dia menatapku dengan heran, dan tidak bisa menemukan hal lain untuk dikatakan. Setelah dia pergi, aku mengucapkan doa syukur kepada Tuhan dan aku melihat betapa nyata situasi yang diatur Tuhan untukku. Dihadapkan dengan tipu daya Iblis, jika bukan karena kepemimpinan dan bimbingan firman Tuhan, aku pasti akan jatuh kembali ke kehidupan yang menyakitkan dan merasa kebingungan, sehingga aku akan jatuh ke dalam rencana licik Iblis dan akan melakukan hal-hal yang bertentangan dengan kehendak Tuhan. Aku akan menyebabkan kedua keluarga kami hidup dalam tipu daya Iblis dalam rasa sakit yang tak tertahankan—aku sangat berterima kasih kepada Tuhan atas bimbingan-Nya!

Aku Memiliki Keluarga yang Benar-Benar Bahagia dan Damai

Kemudian, aku membaca di dalam firman Tuhan: "Hanya melalui Tuhan, engkau dapat mengetahui makna hidup ini; hanya melalui Tuhan, engkau dapat hidup dalam kemanusiaanmu yang nyata dan memiliki serta mengenal kebenaran. Hanya melalui Tuhan, engkau dapat memperoleh kehidupan dari kebenaran. Hanya Tuhan itu sendiri yang dapat menolongmu untuk menjauhi kejahatan dan menyelamatkanmu dari bahaya dan kendali Iblis. Selain Tuhan, tidak ada seorang pun atau apa pun yang dapat menyelamatkanmu dari lautan penderitaan sehingga engkau tidak lagi menderita. Ini ditentukan oleh esensi Tuhan. Hanya Tuhan itu sendiri yang menyelamatkanmu dengan tanpa pamrih; hanya Tuhan yang pada akhirnya bertanggung jawab atas masa depanmu, nasibmu, dan hidupmu, dan Dia mengatur segala sesuatu bagimu" (Tuhan itu Sendiri, Tuhan yang Unik VI). Ketika aku merenungkan firman Tuhan, aku sangat tersentuh. Memikirkan jalan yang telah aku lalui, kasih Tuhan selalu bersamaku dan membimbingku. Setelah suamiku mengkhianatiku, aku hidup dalam kesakitan dan kehilangan semua harapan untuk hidup. Aku tidak bisa lagi merasakan kegembiraan dalam hidup, dan jika Tuhan tidak menyelamatkan aku, aku akan selalu hidup dalam kesakitan tanpa kekuatan untuk membebaskan diriku, aku tidak akan memiliki arah atau tujuan dalam hidup, dan aku akan hidup kacau tanpa tujuan menjalani hidup sama seperti mayat berjalan. Firman Tuhan memampukanku untuk memahami kebenaran tentang kerusakan manusia oleh Iblis dan untuk melihat kerugian dan kerusakan yang disebabkan oleh kecenderungan jahat si Iblis terhadap kita, dan itu memampukanku untuk melepaskan kebencianku terhadap suamiku. Ketika Iblis menggunakan saudara iparku untuk mencobaiku, yang menginginkan aku untuk mengikuti pikiran jahatku dan membalas dendam kepada suamiku, hanya pencerahan dan bimbingan firman Tuhan-lah yang memungkinkanku untuk memahami tipu daya Iblis, dan memahami secara menyeluruh bahwa tidak ada kasih sayang atau cinta sejati di antara orang-orang, dan bahwa kita semua hanya saling memanfaatkan satu sama lain, sehingga aku tidak lagi berusaha untuk mencari hal-hal seperti itu. Semua ini membuatku benar-benar merasa bahwa Tuhan ada di sampingku, membimbingku dan menuntunku dengan firman-Nya, memampukan aku untuk meninggalkan rasa sakitku dan mengenyahkan kerusakan oleh Iblis. Kasih Tuhan kepadaku sungguh nyata! Pada saat yang sama, aku jadi memahami melalui refleksi diri bahwa, sejak aku menikah dengan suamiku, aku menganggapnya sebagai satu-satunya penopangku dan percaya bahwa dia bisa memberiku kehidupan yang indah dan bahagia. Hanya setelah mengalami rasa sakit ini, aku menyadari bahwa suamiku hanyalah manusia yang telah dirusak oleh Iblis, dan bahwa dia sendiri hidup dalam kerusakan oleh Iblis, dan aku tidak bisa mengandalkan dirinya sama sekali. Hanya Tuhan-lah penopangku, dan hanya dengan datang ke hadapan Tuhan, mengalami pekerjaan Tuhan, memahami kebenaran dan hidup di bawah bimbingan-Nya aku dapat memperoleh kebahagiaan sejati.

Sejak saat itu, aku sepenuhnya meninggalkan semua rasa sakit akibat pengkhianatan suamiku. Sekarang aku hidup dalam sebuah keluarga besar, dipenuhi dengan kasih Tuhan. Setiap hari aku membaca firman Tuhan, mengejar kebenaran dan memenuhi kewajibanku sebagai makhluk ciptaan, dan aku merasa sangat damai dan tenang. Terlebih lagi, di dalam gereja, saudara dan saudariku dan aku saling mengasihi dan mendukung satu sama lain seperti keluarga sejati. Bahkan jika keterasingan dan prasangka muncul, kami dapat sepenuhnya terbuka satu sama lain dan bersekutu tentang kebenaran untuk menyelesaikan masalah kami. Ini benar-benar keluarga yang benar-benar bahagia dan damai yang selalu aku inginkan! Terima kasih Tuhan! Aku akan dengan rajin mengejar kebenaran dan memenuhi kewajiban seorang makhluk ciptaan untuk membalas cinta Tuhan!

Tinggalkan komentar