Berlangganan

Menu

Hubungan suami dan istri: Bagaimana mengatasi kecurigaan antara suami dan istri

Navigasi cepat
1.Kecurigaan yang menyebabkan badai di dalam keluarga
2.Mencari akar penyebab ketidakharmonisan antara suami dan istri
3.Kecurigaan timbul sekali lagi dan darinya saya menemukan jalan penerapan
4.Berbagi kata-kata di dalam hati dengan istri, akhirnya konflik teratasi

Kecurigaan timbul disebabkan oleh tebakan dan keraguan kita yang tak berdasar. Ini adalah penghalang terbesar bagi hubungan suami istri dan juga bahaya tersembunyi yang merusakkan hubungan suami istri. Lebih parah lagi, itu dapat menghancurkan sebuah keluarga yang bahagia. Jadi, bagaimana cara untuk mengatasi krisis pernikahan yang disebabkan oleh kecurigaan?

Kecurigaan yang menyebabkan badai di dalam keluarga

Sudah 22 tahun sejak saya berpacaran sampai menikahi istri saya. Biasanya saya bekerja mencari uang dan istri saya merawat anak di rumah. Kadang-kadang saya dan istri saya berselisih pendapat tetapi kami bisa berdamai dengan cepat. Kehidupan kami sangat biasa dan bahagia. Sampai beberapa hari yang lalu, istri saya tiba-tiba mendapatkan pekerjaan dan ada sesuatu yang akan menghancurkan kehidupan kami yang tenang…

Istri saya selalu memegang teleponnya setelah balik dari kerja. Kebanyakan masanya digunakan untuk bergaul dengan rekan sekerjanya. Walaupun saya sedikit tidak dapat menyesuaikan diri tetapi pada waktu itu saya masih perlu mengurus hal-hal gereja, jadi saya tidak memperhatikannya. Saya berpikir mungkin dia sedang menyesuaikan diri dengan pekerjaannya. Seiring berjalannya waktu, saya mendapati bahwa istri saya semakin sering bergaul dengan rekan sekerjanya dan semakin mengabaikan saya. Setiap kali dia balik dari kerja, dia menelepon rekan sekerjanya dan sering keluar berbelanja, menyanyi dan menari bersama rekan sekerjanya. Kadang-kadang saya berbicara dengan dia tapi dia bersikap acuh tidak acuh.

Saya merasa sedikit cemas, apa yang terjadi dengan istri saya? Apa dia berselingkuh? Apabila saya berpikir sampai sini, saya tidak dapat tahan lagi. Pada saat yang sama, saya menjadi sangat sensitif dan mulai mengawasi tingkah laku dia setiap hari serta menguping percakapan dia dengan rekan sekerjanya, bahkan saya juga mencuri tengok catatan panggilan dan aplikasi perpesanan. Meskipun saya tidak bisa menemui apa-apa bukti, saya masih tidak patah semangat dan selalu bertanya kepada istri saya: “Apakah sudah tidak ada perasaan cinta di antara kita?” Tanpa diduga, saya semakin mencurigai istri saya dan hubungan kami menjadi semakin buruk. Kami sering berselisih dan berperang dingin setidaknya dua atau tiga hari; paling lama, lima atau enam hari. Kadang-kadang istri saya sangat marah sehingga mau berpisah dengan saya. Sementara saya hidup dalam kecurigaan setiap hari yang membuat saya merasa sangat tertekan dan saya merasa semakin tidak tenteram dari hari ke hari. Hati saya merasa sangat menderita. Dalam sebuah persekutuan, saya mengutarakan keadaan saya ini kepada saudara-saudari dan meminta bantuan dari mereka.

Mencari akar penyebab ketidakharmonisan antara suami dan istri

Saudari Frida membagikan satu bagian Firman Tuhan: “Aku sangat menghargai orang-orang yang tidak menaruh curiga terhadap orang lain dan Aku juga sangat menyukai mereka yang siap menerima kebenaran. Kepada kedua jenis manusia ini, Aku menunjukkan perhatian yang besar, karena di mata-Ku mereka adalah orang-orang yang jujur. Jika engkau seorang yang sangat curang, maka engkau akan memiliki hati yang tidak mudah percaya dan pikiran yang penuh curiga mengenai semua hal dan semua orang…”

Kemudian saudari bersekutu: “Dari firman Tuhan yang dibacakan tadi, Tuhan menyukai orang-orang yang jujur dan menyukai orang-orang yang tidak menaruh curiga terhadap orang lain. Pernikahan dan hidup kita di bawah kedaulatan Tuhan. Pernikahan yang bahagia bukan sesuatu yang bisa dikendalikan oleh kita. Kita sering berpikir bahwa kita dapat mengendalikan segala hal, mencurigai bahwa istri berselingkuh, bahkan mengawasi istri. Akhirnya, tidak hanya tidak dapat menyelesaikan masalah, tetapi sebaliknya akan menyakiti satu sama lain. Oleh karena itu, akar penyebab penderitaan kamu bukannya istri kamu melainkan adalah kamu sendiri yang hidup dalam watak rusak yang penuh tipu daya dan dipermainkan oleh watak rusak.

Melalui firman Tuhan dan persekutuan dari saudari, saya bisa memahami bahwa ketidakharmonisan hubungan saya dengan istri disebabkan oleh tipu daya dan kecurigaan saya. Saya senantiasa berpikir bahwa saya adalah orang yang jujur dan tidak pernah menipu orang lain. Tetapi setelah membaca firman Tuhan, saya bisa memahami orang yang benar-benar jujur bukan hanya tidak bercakap bohong di mulutnya, yang paling penting adalah tidak ada penipuan dalam hatinya. Ketika berpikir kembali, saya menemukan bahwa tanpa dasar saya curiga bahwa istri saya telah mengkhianati saya, mencuri tengok teleponnya dan aplikasi perpesanannya. Walaupun saya tidak menemui hal-hal yang meragukan, saya masih sering mengucapkan kata-kata yang mencurigai dia dan menyebabkan dia membenci saya. Karena itu, hubungan antara saya dan istri juga semakin tegang dan renggang. Jadi, semua ini disebabkan oleh kecurigaan saya. Saya juga menyadari bahwa saya sering mencurigai istri mengkhianati saya karena saya takut akan kehilangan dia. Sebenarnya, pernikahan kita diatur dan ditata oleh Tuhan. Saya tidak boleh mencurigai istri saya dengan mengandalkan watak saya yang penuh tipu daya. Saya harus belajar memercayakannya kepada Tuhan dan menaati pengaturan dan kedaulatan Tuhan.

Setelah menyadari hal ini, hati saya sangat cerah, dan saya merasa beban di dalam hati saya tiba-tiba hilang. Saya berdoa kepada Tuhan, “Oh Tuhan! Sifat saya penuh tipu daya. Saya selalu curiga bahwa istri saya berselingkuh. Karena kecurigaan, saya tidak bisa mempercayai istri saya, jadi saya tidak bisa hidup secara harmonis dengan istri saya. Saya tahu itu adalah kesalahan saya. Semoga Tuhan memimpin saya supaya saya bisa melepaskan kecurigaan saya dan menjadi orang yang jujur tanpa kecurigaan di dalam hati saya.”

Setelah itu, saya secara sadar datang ke hadapan Tuhan dan banyak berdoa. Saya tidak lagi menyimpan pemikiran yang berupa kecurigaan terhadap istri saya. Terima kasih Tuhan, secara bertahap, saya menemukan bahwa istri saya sudah mengalami sedikit perubahan dan dia dapat meluangkan banyak waktu untuk berkomunikasi dengan saya. Sikap dia terhadap saya juga menjadi semakin baik.

Kecurigaan timbul sekali lagi dan darinya saya menemukan jalan penerapan

Tetapi sifat yang penuh tipu daya tidak berubah dengan mudah, dan ia akan terungkap lagi di lingkungan yang sesuai …

Suatu hari, saya pulang dari kerja beberapa jam lebih awal dari sebelumnya. Sesampainya di rumah, saya melihat istri saya duduk di ruang tamu dan sedang menelepon seseorang. Ketika dia melihat saya kembali, dia berdiri dan naik ke kamar atas. Tindakan istri saya telah membangkitkan ketidaktenteraman dan kecurigaan saya: Mengapa dia mau menghindari saya dan naik ke tingkat atas untuk beromong-omong di telepon? Apakah dia menyembunyikan sesuatu dari saya? Saya ingin tahu yang mereka bicarakan. Saya berbohong kepada istri saya dan mengatakan bahwa saya mau pergi ke toko. Sebenarnya, saya bersembunyi di tangga untuk menguping obrolan istri saya dengan orang di telepon. Saat itu, saya memiliki semacam rasa ketidaktenteraman di dalam hati saya. Ada perasaan samar-samar dalam hati saya bahwa itu adalah teguran Tuhan. Tetapi pada saat itu saya tidak mengindahkan perasaan itu dan melanjutkan menguping, sampai ketika rasa bersalah dalam hati saya menjadi semakin kuat, barulah saya menyadari bahwa perbuatan saya ini tidak benar. Ini bukanlah hal yang seharusnya dilakukan oleh orang yang jujur. Jadi saya berdoa kepada Tuhan di dalam hati saya, berhenti menguping, dan kemudian pergi ke toko.

Kemudian setelah saya pulang, hati saya merasa serba salah karena saya menolak bimbingan Tuhan. Saya tahu bahwa saya melakukan hal-hal lagi dengan mengandalkan watak rusak yang penuh tipu daya. Saya berdoa kepada Tuhan untuk meminta pengampunan, dan berpikir tentang bagaimana menyelesaikan masalah ini. Kemudian saya melihat firman Tuhan:

Ketika Tuhan meminta agar orang-orang mempraktikkan setiap kebenaran, mereka diharuskan membayar harga, serta secara nyata dan praktis bertindak, menerapkan, dan mengalami, untuk memasukkannya ke dalam kehidupan nyata mereka. Tuhan tidak meminta orang-orang mengucapkan slogan mereka atau menghabiskan sepanjang hari mengulangi bahwa mereka curang, pembohong, dan bersikap manipulatif, dan bahwa ada motivasi dalam segala hal yang mereka lakukan, namun ketika sesuatu terjadi pada mereka, tetap menggunakan cara yang sama dan metode seperti sebelumnya; cara dan metode mereka tidak pernah berubah, cara mereka berperilaku terhadap orang lain tidak pernah berubah, dan cara mereka bertindak tidak pernah berubah. Bagaimana menurutmu, apakah seseorang seperti ini mampu berubah? Tidak, mereka tidak akan pernah mampu berubah! … Jika engkau tidak secara terus terang menyingkapkan dirimu, bagaimana engkau bisa membuktikan bahwa engkau mengakui bahwa engkau benar-benar penipu?

Begini, pada awalnya, ada kemungkinan sepasang suami istri tidak begitu memahami satu sama lain, karena mereka belum pernah tinggal bersama dan tidak tumbuh dalam keluarga yang sama. Setelah hidup bersama selama beberapa tahun, mereka akan terbiasa satu sama lain, dan bertengkar beberapa kali. Tetapi jika engkau berdua adalah manusia normal, engkau akan selalu mengucapkan kata-kata di dalam hatimu kepadanya, dan dia juga akan melakukan hal yang sama kepadamu. Apa pun kesulitan yang engkau hadapi dalam hidup, masalah dalam pekerjaanmu, apa yang engkau pikirkan dalam hati, bagaimana engkau berencana untuk menyelesaikan masalahmu, serta rencana apa yang engkau miliki untuk pekerjaan atau anak-anakmu—engkau akan menceritakan semuanya kepadanya. Dalam hal ini, apakah engkau berdua sangat dekat satu sama lain, dan sangat intim satu sama lain? Jika dia tidak pernah memberi tahu engkau kata-kata di dalam hatinya, dan tidak melakukan apa pun selain membawa pulang gaji, dan jika engkau tidak pernah berbicara dengannya tentang kata-kata di dalam hatimu, dan tidak pernah curhat kepadanya, lalu apakah tidak ada jarak di antara kalian berdua di hati kalian? Pasti ada. Dia jauh darimu, dan engkau juga jauh darinya, karena engkau tidak memahami pikiran atau niat di dalam hatinya. Pada akhirnya, engkau tidak bisa membedakan orang macam apa dia, dan dia juga tidak bisa membedakan orang seperti apa engkau; engkau tidak memahami kebutuhannya, dan dia juga tidak memahami kebutuhanmu. Jika orang tidak memiliki komunikasi secara lisan atau rohani, tidak ada kemungkinan keintiman di antara mereka, dan mereka tidak dapat saling menyediakan atau membantu satu sama lain. Apakah engkau punya perasaan seperti itu? Jika teman engkau mengatakan segalanya kepadamu, mengatakan semua yang dia pikirkan dalam hatinya, dan penderitaan atau kebahagiaan apa yang ada di dalam hatinya, lalu apakah engkau tidak merasa terlalu intim dengan mereka? Bahwa mereka bersedia menceritakan hal-hal ini kepadamu adalah karena engkau juga telah mengucapkan kata-kata di dalam hatimu kepada mereka—engkau sangat dekat dengan mereka, dan karena itulah engkau dapat bergaul secara damai dengan mereka dan saling membantu.”

Saya terpikir saudari pernah bersekutu dengan saya sebelum ini bahwa gesekan antara dua orang yang hidup bersama tidak bisa dihindari. Tetapi selama kamu menjadi orang yang jujur menurut firman Tuhan, berkomunikasi secara terbuka dalam segala hal dan dapat mencapai keintiman, maka kecurigaan dan kesalahpahaman tidak akan ada lagi. Hubungan juga akan membaik.

Merenungkan firman Tuhan, saya berpikir dalam hati saya, iya! Walaupun saya sudah menyadari bahwa tipu daya dan kecurigaan yang menyebabkan saya mencurigai istri saya, saya hanya berdoa kepada Tuhan di dalam hati saya dan tidak mencari cara penerapan. Sekarang saya sudah mengerti, ketika watak rusak yang penuh tipu daya diungkapkan, dari satu sisi saya harus berdoa dan terus meluluskan pemikiran saya. Selain itu, saya juga perlu berkomunikasi secara jujur dengan istri saya. Dengan ini, kami bisa mengetahui pemikiran satu sama lain dan tidak akan dipermainkan oleh iblis.

Berbagi kata-kata di dalam hati dengan istri, akhirnya konflik teratasi

Kemudian, saya mengumpulkan keberanian untuk membuka serangkaian pikiran saya yang berupa kecurigaan kepada istri saya. Di luar dugaan, istri saya tidak marah, dia memberi tahu saya bahwa alasan dia bersikap dingin terhadap saya adalah karena saya memusatkan sepenuh perhatian saya ke dalam pekerjaan saya serta pekerjaan gereja, dan jarang peduli padanya. Dia merasa dirinya telah ditinggalkan oleh saya. Itu sebabnya dia dekat dengan rekan-rekannya. Dia juga berinisiatif memberi tahu saya apa yang dia bicarakan dengan rekannya di telepon. Kata-kata istri saya mengejutkan saya. Ternyata kami berdua peduli satu sama lain, namun pada saat kami merasa diabaikan oleh satu sama lain, kami tidak membuka hati kami untuk berkomunikasi, sehingga kami dipermainkan oleh iblis dan hidup dalam kecurigaan serta menyebabkan konflik terus-menerus timbul. Pernikahan kami hampir menyalakan lampu merah, benar-benar berbahaya!

Setelah kami saling membuka hati, kami berdua merasa bebas. Ketika istri saya menelepon rekan sekerjanya, saya tidak lagi menguping, apalagi menerka-nerka. Saya merasakan kedamaian dan kebahagiaan di dalam hati saya. Istri saya juga akan mempertimbangkan perasaan saya ketika melakukan sesuatu. Ada lebih banyak suara tawa di antara kami, dan kedamaian di rumah juga pulih seperti sedia kala …