Berlangganan

Menu

Bagaimana Cara Mendidik Anak, Agar Tumbuh Dengan Sehat

Catatan Editor

Ibu muda selalu marah saat anak kecil bermain game. Jadi, bagaimana kita bisa mendidik anak-anak, membantu mereka menyingkirkan kebiasaan buruk, dan membimbing mereka untuk tumbuh dengan sehat dan bahagia? Silakan lihat kisah pertumbuhan Saudari Man Yi dan anaknya.

Bagaimana Cara Mendidik Anak, Agar Tumbuh Dengan Sehat

Ketika saya baru saja percaya kepada Tuhan pada tahun 2016, anak saya yang berumur 3 tahun setengah juga mengikut saya pergi menghadiri persekutuan dan belajar menyanyi lagu rohani firman Tuhan. Kadang saya juga menggunakan komputer untuk memutarkan cerita animasi Alkitab untuk anak tonton atau main beberapa game puzzle. Dengan ini anak saya bisa menambahkan pengetahuan tentang Alkitab dan juga menambahkan kecerdasannya. Ini amat bermanfaat bagi pertumbuhan mental dan fisiknya. Anak saya sangat patuh dan saya sangat bangga olehnya. Kemudian ketika anak saya ulang tahun umur 5 tahun, kakeknya memberinya satu iPad sebagai hadiah ulang tahun. Sejak itu, anak saya memegang iPad setiap hari untuk mendengarkan lagu, menonton cerita animasi dan juga menggunakannya untuk bermain game. Ketika saya melihat dia bermain dengan semangat, hati saya merasa khawatir. Game online sekarang beraneka ragam, anak saya masih kecil, jika dia main terlalu banyak game online ini, apa yang harus saya buat jika dia kecanduan dengan game online? Tampaknya saya harus membatasi waktu dia bermain game online. Setelah itu, setiap kali dia menggunakan iPad, saya akan mengajar dia apa yang boleh lihat dan apa yang tidak boleh dilihat. Tetapi selepas saya sibuk, saya tidak mempunyai waktu untuk menemaninya dan saya tidak tahu dengan hal dia bermain iPadnya.

Setelah beberapa waktu, saya menemukan bahwa anak saya selalu membuat gaya memegang senjata untuk menembak ayahnya. Saya merasa ada yang tidak benar. Ayahnya berkata bahwa anak laki-laki suka senjata, jadi saya pun tidak menganggap serius. Setelah beberapa waktu, ketika dia menonton iPad, dia selalu berbicara dengan dirinya sendiri dan berbicara dengan orang yang ada di dalam iPad. Dia tiba-tiba tertawa dan melakukan beberapa gaya yang aneh. Saya merasa heran dan ingin melihat apa yang dia tonton. Ketika dia lihat saya mendekatinya, dia terus mematikan iPad dan berkata, "Bu, ini adalah iPad saya, kamu tidak bisa melihatnya!" Setelah saya mendengar dia berkata seperti ini, saya semakin heran untuk melihat apa yang dia tonton baru-baru ini, jadi saya bertanya apakah dia mempunyai apa yang lucu, bolehkah saya melihatnya?

Setelah itu dia membuka iPadnya. Saya melihat ada beberapa permainan online tembak-menembak. Ternyata belakangan ini dia selalu main permainan ini. Pantas beberapa hari yang lalu dia selalu melakukan gaya menodongkan pistol ke arah ayahnya. Ketika dia melihat saya datang, dia mematikan iPad dan menghindari saya. Saya bertanya, tetapi dia tidak mengatakan dengan jujur. Bukankah mudah baginya untuk menjadi jahat jika ini terus berlanjut? Saya dengan marah berkata kepadanya, "Berikan saya iPad kamu. Saya berikan iPad kepadamu adalah untuk mempelajari hal-hal yang baik, bukannya untuk memainkan permainan online ini!" Lalu saya mengambil iPadnya. Saat ini, anak saya menangis dan berkata, "Ibuku tidak baik. Kakek membelikan iPad untukku, bukan untukmu. Kembalikan iPad padaku." Melihat anak itu menangis dengan sangat sedih, saya juga merasa sakit hati. Tidak peduli bagaimana saya membujuknya dia tetap menangis, saya tidak ada cara lain dan mengembalikan iPad kepadanya, tetapi mengatakan kepadanya bahwa dia tidak boleh lagi main permainan online ini.

Setelah itu, saya menemukan bahwa dia masih bermain-main ketika dia pulang dari sekolah. Dia takut dimarahi oleh saya dan dia bersembunyi saat bermain. Jadi saya memintanya untuk memberi saya iPadya kepada saya dengan nada yang tegas. Ketika anak saya melihat saya mengambil iPad, dia menangis dan berkata, "Orang dewasa kamu ini selalu menipu orang. Kakek juga menonton TV setiap hari, dan Ayah juga main ponsel dan komputer. Kenapa kamu tidak memarahi mereka, kenapa hanya memarahi saya dan tidak membiarkan saya menonton, ini tidak adil! " Saya semakin marah ketika membantah saya. Saya bersiap untuk mengajarinya, tetapi kemudian saya berpikir ini adalah kata-kata dalam hatinya. Apa yang dikatakan oleh dia ini juga benar. Kakek, paman dan suami memang selalu menonton TV dan bermain ponsel setiap hari. Mereka tidak punya waktu untuk menemani anak-anak atau memberikan anak-anak pengaruh yang baik. Saat ini, saya tidak ingin mengajarinya lagi. Saya mulai merenungkan diri saya sendiri, sebagai orang yang percaya pada Tuhan, saya menghadapi hal-hal ini dalam hidup juga ada niat baik Tuhan, saya harus belajar dari Tuhan.

Setelah saya memikirkan hal ini, hati saya merasa lebih tenang sedikit. Kemudian, saya kembali ke kamar saya dan berdoa kepada Tuhan: "Tuhan, tingkat pertumbuhan saya kecil dan saya tidak tahu bagaimana mendidik anak saya. Dia suka menonton permainan online yang melawan dan membunuh. Ketika saya melihat ini, saya akan memarahi dia, tapi dia tetap tidak berubah, saya tidak tahu apa yang harus saya lakukan. Tuhan, apa yang harus saya lakukan padanya, dan apa yang dapat saya lakukan untuk membimbingnya untuk mengikuti jalan yang benar? Tuhan, saya juga tidak mau selalu memarahi anak saya. Semoga Engkau membimbing saya supaya saya dapat mendidik anak-anak saya dengan benar dalam lingkungan seperti ini. " Setelah berdoa, saya mengangkat kepala dan tiba-tiba melihat anak saya juga berlutut di sisi saya dan berkata, "Amin!" Saya sangat tersentuh dengan tindakannya. Saya ingat bahwa ketika saya bersikap buruk terhadap anak saya, anak saya tidak hanya tidak menurut, tetapi juga menentang saya. Sekarang saya berdoa kepada Tuhan tentang hal ini, dan Tuhan menggerakkan hati anak saya. Sikap anak saya juga berubah dan dia juga berdoa bersamaku, saat ini hati saya merasa jauh lebih nyaman.

Tiba-tiba saya teringat satu paragraf Firman Tuhan yang saya pernah baca: "Sebenarnya cukup sederhana. Engkau harus menjadi orang biasa dan tidak dikendalikan status. Perlakukan anak-anakmu, perlakukan mereka yang ada dalam keluargamu sendiri sama seperti engkau akan memperlakukan saudara-saudarimu. Walau engkau memiliki tanggung jawab dan hubungan secara daging, tetapi, posisi dan cara pandang yang engkau harus miliki tetap sama seperti kepada teman atau saudara-saudari biasa. Engkau tidak boleh berdiri di posisi orang tua, menahan mereka atau mengikat mereka atau berusaha dan mengendalikan segala sesuatu tentang mereka. Engkau harus memperlakukan mereka sebagai orang yang sederajat. Engkau harus membiarkan mereka melakukan kesalahan, mengatakan hal yang salah, melakukan tindakan yang kekanak-kanakan, melakukan hal bodoh. Tidak peduli apa yang terjadi, duduklah dan berbicaralah baik-baik dengan mereka dan carilah kebenaran. Dengan cara ini, engkau akan berbicara kepada mereka dengan sikap yang benar dan masalah akan diselesaikan. Apa yang engkau kesampingkan di sini? Engkau mengesampingkan kedudukan dan statusmu sebagai orang tua, mengesampingkan kecongkakanmu sebagai orang tua, dan mengesampingkan semua tanggung jawab yang menurutmu harus kautanggung sebagai orang tua; sebaliknya, engkau cukup melakukan yang terbaik yang kaubisa dalam hal tanggung jawab sebagai saudara-saudari biasa."

"Banyak orang yang benar-benar percaya kepada Tuhan dan secara penampilan mereka terlihat sangat rohani, tetapi dalam hal cara pandang dan sikap orang tua terhadap anak-anak dan anak-anak terhadap orang tua, mereka tidak tahu cara menerapkan aspek kebenaran ini dan prinsip-prinsip apa yang harus diterapkan dalam perkara ini dan cara menanganinya. Di mata orang tua, orang tua selalu orang tua dan anak-anak selalu anak-anak. Oleh karena itu hubungan antara anak-anak dan orang tua menjadi sangat sulit untuk ditangani. Banyak persoalan yang benar-benar diakibatkan oleh orang tua yang menolak beranjak dari status mereka sebagai orang tua. Mereka selalu memandang diri mereka sebagai orang tua, yang dituakan, dan mereka berpikir: Anak-anak harus selalu mendengarkan orang tua mereka dan fakta ini tidak akan pernah berubah—yang membuat anak-anak menentang mereka. Cara pandang seperti ini membuat kedua belah pihak kacau, lelah, hancur. Bukankah ini adalah manifestasi dari seseorang yang tidak memahami kebenaran? Ketika orang-orang tidak memahami kebenaran, mereka selalu dikendalikan oleh status dan bagaimana mereka tidak menderita sebagai hasilnya? Dalam kasus-kasus seperti itu, bagaimana melakukan kebenaran? (Dengan menyangkal dirimu sendiri.) Apa artinya menyangkal diri? Dengan sudut pandang dan sikap seperti apa seharusnya engkau memperlakukan perkara ini untuk benar-benar menyangkal diri? Bagaimana engkau melakukan penyangkalan diri ini? Sebenarnya cukup sederhana. Engkau harus menjadi orang biasa dan tidak dikendalikan status. Perlakukan anak-anakmu, perlakukan mereka yang ada dalam keluargamu sendiri sama seperti engkau akan memperlakukan saudara-saudarimu. Walau engkau memiliki tanggung jawab dan hubungan secara daging, tetapi, posisi dan cara pandang yang engkau harus miliki tetap sama seperti kepada teman atau saudara-saudari biasa. Engkau tidak boleh berdiri di posisi orang tua, menahan mereka atau mengikat mereka atau berusaha dan mengendalikan segala sesuatu tentang mereka. Engkau harus memperlakukan mereka sebagai orang yang sederajat. Engkau harus membiarkan mereka melakukan kesalahan, mengatakan hal yang salah, melakukan tindakan yang kekanak-kanakan, melakukan hal bodoh. Tidak peduli apa yang terjadi, duduklah dan berbicaralah baik-baik dengan mereka dan carilah kebenaran. Dengan cara ini, engkau akan berbicara kepada mereka dengan sikap yang benar dan masalah akan diselesaikan. Apa yang engkau kesampingkan di sini? Engkau mengesampingkan kedudukan dan statusmu sebagai orang tua, mengesampingkan kecongkakanmu sebagai orang tua, dan mengesampingkan semua tanggung jawab yang menurutmu harus kautanggung sebagai orang tua; sebaliknya, engkau cukup melakukan yang terbaik yang kaubisa dalam hal tanggung jawab sebagai saudara-saudari biasa."

Firman Tuhan membuat saya mengerti bahwa jika ingin mendidik anak dan mencapai hasil yang baik, pertamanya harus berdiri pada status yang sama dengan anak dan berkomunikasi dengan mereka dengan tenang. Anda tidak boleh memaksa anak-anak untuk mendengarkan arahanmu dengan status orang tua. Ini tidak hanya akan gagal untuk mencapai hasil yang baik, tetapi akan membuat anak semakin merasa tidak nyaman. Terpikir anak saya itu baru berusia lima tahun. Dia masih muda dan tidak mengetahui hal apapun. Dia tidak bisa membedakan antara hal negatif dan positif. Itu normal baginya untuk bermain permainan video game tanpa pengendalian diri. Tetapi saya tidak dapat memperlakukannya dengan baik, dan saya masih menggunakan status sebagai seorang ibu untuk membatasi, memaksa, dan menahan, bahkan memarahi serta meminta dia untuk mendengarkan saya. Ini menyebabkan dia tidak hanya tidak mendengarkan saya, malah bersembunyi untuk bermain permainan game. Sekarang firman Tuhan telah memberikan saya jalan penerapan. Saya perlu mengesampingkan status sebagai orang tua dan berkomunikasi dengan anak saya dengan sabar. Saya juga dapat membimbingnya melalui bersekutu dengan kebenaran dan memberi tahu dia bahwa bermain game adalah cara iblis untuk merusakkan manusia, dan Tuhan tidak menyukai ini. Setelah itu, saya menurut firman Tuhan dan meletakkan status dan posisi sebagai seorang orang tua serta memperlakukannya seperti saudara kecil, dan berdiri di status yang sejajar untuk berkomunikasi dengannya. Saya tidak perlu menggunakan nada seperti memaksa, menekan, dan keras untuk menuntut dia. Saya belajar untuk mendengarkan suara hati anak saya.

Setelah itu, saya berkata kepadanya dengan nada bernegosiasi: "Sayang, kita adalah orang yang percaya pada Tuhan. Kakek dan Ayah belum percaya pada Tuhan. Mereka bermain ponsel ketika mereka dicobai oleh iblis. Iblis juga memperalatkan kakek dan ayah supaya kamu menonton TV dan main komputer dan juga menggunakan game online ini untuk menarik kamu supaya kamu main lebih banyak game, dan akhirnya jatuh kecanduan game. Pada saat itu Tuhan tidak akan menyukaimu lagi. Sekarang saya tidak mengizinkan kamu bermain game, tetapi kamu tidak mendengar, bahkan bertengkar dengan ibu. Iblis akan merasa gembira ketika iblis melihat ini. Di masa depan, ibu tidak akan memarahimu lagi. Jika kamu melihat ibumu marah lagi, kamu terus beri tahu saja pada ibu secara langsung, ibu akan berubah, dan kemudian itu kita membaca firman Tuhan bersama-sama, kita berdoa sama-sama untuk mengalahkan setan, bolehkah? " Saat ini, anak saya seerti sudah mengerti sedikit dan mengangguk kepalanya serta memeluk saya.

Setelah mengalami hal sebelum ini, saya melihat bahwa anak saya tidak banyak bermain game lagi. Saya pikir setelah mengalami lingkungan ini, anak saya akan menjadi baik, tetapi kenyataan tidak seperti apa yang saya pikirkan. Ketika anak saya liburan musim panas, pada mulanya masih berdiskusi dengan saya bahwa dia hanya akan menonton satu atau dua film kartun atau bermain game puzzle selama setengah jam setiap hari, tapi kemudian hal pertama yang dia lakukan ketika dia bangun setiap hari adalah bermain iPad. Secara perlahan-lahan dia bermain semakin banyak. Tidak peduli bagaimana saya berbicara dengan dia, dia seperti tidak mendengarnya. Melihat bahwa dia tidak mendengarkan kata-kata saya, dan saya berkata dengan nada yang tidak sabar: "Selama libur sekolah, apakah guru menyuruhmu pulang kerumah selalu melihat iPad?Jika kamu terus melihat seperti ini, saat kamu pergi ke sekolah, matamu akan menjadi buta. Kamu jangan menyesal nanti! "Anak saya tidak peduli dengan nasihat saya sama sekali, dan jangka waktu dia bermain iPad juga menjadi semakin lama. Melihatnya dia mengabaikan keberadaan saya. Saya tidak bisa menahan amarah saya lagi dan berkata dengan nada yang keras, "Apakah telingamu tuli?" Dia menjawab dengan tidak senang dan berkata: "Oke, pertandingan terakhir!" Setelah mendengar ini, saya menjadi semakin marah dan berpikir: "Apa yang terjadi dengan anak ini? Selalu tidak bisa mengubahnya. Saya berbicara denganmu tapi kamu tidak mendengar, jadi saya akan mengambil iPadmu, kita lihat bagaimana kamu dapat bermain iPad lagi!" Ketika pikiran saya ini muncul, tiba-tiba saya terpikir bahwa saya mengambil iPadnya sebelum ini pun tidak ada apa-apa hasil malah membuat hubungan kami menjadi sangat kaku. Jadi saya tidak mengambil iPad-nya, tapi saya jatuh ke dalam perasaan amarah ini dan saya tidak tahu harus berbuat apa. Ketika merasa tidak berdaya, saya teringat dengan firman Tuhan: "satu hal yang tidak dapat mereka lakukan tanpanya adalah bahwa dalam segala hal harus melihat kepada Tuhan dan mengandalkan Tuhan. Ini adalah jenis kebijaksanaan terbesar."

Saya tiba-tiba merasa kepala saya seperti mengalami korsleting. Bukankah ada kehendak Tuhan dalam lingkungan ini? Saya harus mengandalkan Tuhan dan memandang Tuhan. Jika saya bertindak atas watak rusak saya sendiri, itu hanya akan memperburukkan keadaan. Jadi saya berseru kepada Tuhan di dalam hati saya: "Oh Tuhan, anak ini telah menjadi kecanduan game online lagi. Dia tidak dapat mendengarkan kata-kata saya ketika saya berbicara dengan nada suara yang baik. Sekarang amarah saya semakin meningkat. Tolong pimpin dan bantu saya supaya saya tidak memperlakukan anak dengan amarah. Saya mau menyerahkan hal kecanduan anak terhadap game online di tangan-Mu. " Setelah berdoa, saya merasa lebih lega dalam hati. Setelah itu, saya melihat firman Tuhan mengatakan: "Ketika engkau mempersekutukan kebenaran sereta menguraikan sesuatu dengan jelas dan dapat dipahami sehingga dapat mendidik dan memberi manfaat kepada orang lain, membuat mereka memahami kehendak Tuhan dan membantu mereka melepaskan diri dari kesalahpahaman dan kekeliruan, apakah perlu bersikap merendahkan? Apakah engkau harus menggunakan nada yang menceramahi? Engkau tidak perlu memarahi mereka, juga tidak perlu berbicara dengan suara keras; tidak perlu berteriak, apalagi bersikap amat kasar dengan perkataan, nada suara, atau intonasimu. Engkau hanya perlu belajar menggunakan nada suara yang normal, mempersekutukan dari posisi yang setara, berbicara dengan tenang, mengucapkan kata-kata di dalam hatimu, dan berusaha untuk berbicara dengan jelas dan dapat dipahami tentang apa yang kaupahami dan apa yang perlu dipahami orang lain. Ketika engkau berbicara secara dapat dipahami, orang lain akan tahu apa yang kaumaksud, bebanmu akan dilepaskan, mereka akan berhenti salah paham, dan engkau akan lebih jelas tentang apa yang sedang kau komunikasikan. Bukankah ini mendidik engkau berdua? Apakah perlu berbicara panjang lebar dengan suara keras bernada marah kepada mereka? Dalam banyak kasus, tidak perlu memaksakan hal ini kepada mereka. Jika engkau tidak memaksakan ajaran apa pun kepada mereka, tetapi mereka tetap menolak untuk menerima apa yang kaukatakan, apa yang harus kaulakukan? Sebagian dari apa yang kaukatakan adalah kebenaran dan merupakan fakta, tetapi dapatkah orang menerima perkataanmu segera setelah engkau mengucapkannya? Apa yang mereka butuhkan untuk dapat menerima perkataan ini dan untuk berubah? Mereka membutuhkan proses; engkau harus memberi mereka proses yang dapat digunakan untuk berubah. ..."

Di bawah pimpinan Firman Tuhan, saya menyadari penyimpangan saya dalam memperlakukan anak saya yang bermain game. Meskipun pada mulanya saya berkomunikasi dengannya sabar, ketika dia tidak mendengarkan kata-kata saya, saya tidak dapat menahannya. Saya ingin dia patuh dan segera menjadi baik dan tidak lagi bermain game. Tapi saya mengabaikan, saya ingin dia melepaskan dengan sepenuhnya dan berhenti bermain game. Saya juga perlu memberinya waktu untuk berubah dan membiarkannya berubah sedikit demi sedikit. Saya sangat ingin mendapatkan hasil dengan cepat sehingga dia tidak bermain game dengan segera. Bukankah saya ini memaksa orang, dan terlalu sombong? Setelah menyadari hal ini, saya secara sadar belajar menunggu dan memberikan waktu kepada anak untuk berubah. Selain berkomunikasi dengannya dengan cara yang benar, yang lain semuanya diserahkan di tangan Tuhan. Beberapa hari setelah itu, meskipun anak saya masih memegang iPad seperti biasanya, hati saya merasa tidak nyaman dan saya ingin memarahinya, tetapi saya akan secara sadar datang ke hadapan Tuhan terlebih dahulu untuk berdoa, mengandalkan Tuhan, dan meminta Tuhan untuk melindungi hati saya. Secara perlahan, amarah saya lenyap. Kemudian, saya juga coba mengubah mentalitas saya, berbicara dengan anak saya dengan baik, dan memberinya waktu untuk berubah. Tentang hasilnya, saya menaati pengaturan Tuhan, dan percaya bahwa apakah anak bisa menghilangkan kebiasaan buruk ini ada di dalam tangan Tuhan.

Ketika saya benar-benar bergantung dan memandang kepada Tuhan, suatu pagi, saya tiba-tiba menemukan bahwa anak saya tidak mengambil iPad, tetapi duduk di sofa. Saya bertanya kepadanya: "Baby, apakah iPad kamu rusak?" Dia menatapku dan berkata, "Tidak." Saya bertanya lagi, "Tidak ada baterai, apakah kamu sedang cas?" Dia berkata, "iPad masih banyak daya baterai." Saat ini, saya menjadi semakin heran dan berkata, "iPad tidak rusak, dan masih banyak daya baterai. Mengapa kamu tiba-tiba bersikap seperti ini hari ini? " Pada saat ini, dia tiba-tiba menangis dan berkata, "Bu, kamu jahat." Kemudian "Waaaaa" menangis. Saya bingung dengannya, dan saya segera bertanya apa yang terjadi. Dia menangis dan berkata, "Saya mengalami mimpi buruk malam tadi. Orang jahat ingin membawaku pergi. Saya terus memanggilmu, tetapi kamu hanya melihatku dibawa pergi saja, Bu, aku sangat takut. Dan sekarang mataku juga sangat sakit. Saya merasa sakit sedikit saat makan sarapan, dan sekarang juga masih sakit. Bu, ibu bilang sebelum ini jika menonton TV atau main game mataku akan buta. Apakah mataku akan benar-benar buta? Saya tidak ingin menjadi buta. Jika saya buta, saya tidak akan bisa melihat ibu lagi. " Setelah mendengar apa yang dia katakan, saya tiba-tiba merasa bahwa lingkungan ini ada niat baik dari Tuhan. Sebelum ini tidak peduli bagaimana saya membujuknya untuk mengurangi menonton TV atau bermain komputer dia tidak mau mendengar. Dia tidak peduli apa yang saya katakan kepadanya menonton dalam jangka waktu yang lama akan merusak matanya. Sekarang matanya tiba-tiba sakit. Aku tahu itu diizinkan oleh Tuhan. Saya dengan tenang berkata, "Terima kasih Tuhan!" Anak saya itu tiba-tiba berhenti menangis dan menatapku, lalu memelukku, dan menangis lagi. "Bu, saya tidak ingin menjadi buta!" Saya bertanya kepadanya, "Kali ini beri tahu saya bahwa kamu tidak ingin menjadi buta. Tapi bisakah ibu membantumu? "Dia menjawab," Tidak bisa. "" Siapa yang bisa membantumu? "Dengan cepat dia menjawab:" Tuhan! "Aku berkata," Ya, hanya Tuhan saja yang dapat membantumu saat ini. Mari kita berdoa bersama dan memberi tahu Tuhan apa yang ada di hatimu? "Dia langsung setuju," Baik. "Kami berdua berlutut di tepi sofa dan saya katakan kepadanya bahwa Tuhan menuntut orang untuk jujur, dan membiarkan dia berbicara kata hatinya kepada Tuhan. Kemudian anak saya mulai berkata: "Tuhan, sebelum ini saya tidak mendengarkan kata-kata ibu dan selalu bermain game. Sekarang mataku sakit. Semalam saya mengalami mimpi buruk. Tuhan, saya tahu bahwa saya salah, saya bersedia untuk berubah, dan saya bersedia untuk menaati! " Setelah berdoa, saya memutarkan lagu pujian firman Tuhan yang dia senang dengar "Tuhan Hargai Mereka yang Mendengar dan Patuhi-Nya"

Setelah mendengar lagu rohani ini, saya berkata kepada anak saya: "Setelah mendengar lagu pujian ini, apakah kamu bisa memahami kehendak Tuhan yang dikatakan dalam lagu pujian ini?" Dia berkata, "Tuhan ingin kita patuh." Saya terus bertanya, "Sudahkah kamu melakukannya?" Dia menjawab, "Tidak. Bu, bisakah aku mengubahnya sekarang? Akankah mataku akan sembuh?" Saya berkata, "Tuhan menyukai orang yang jujur, dan Tuhan akan tahu jika kamu berbohong. Jika kamu dapat melakukan apa yang kamu katakan, matamu akan sembuh secara alami. Mulai sekarang kamu harus belajar berdoa kepada Tuhan dan berbicara dengan jujur dalam segala hal, kamu bisa mengerti? Dia berkata, "Baik, saya mengerti." Terima kasih Tuhan! Setelah mengalami lingkungan tersebut, anak saya mau berdoa kepada Tuhan setiap malam, waktu dia main iPad juga berkurang, dan keadaan matanya juga semakin baik.

Suatu kali, dia dengan senang hati berkata kepada saya: "Bu, saya memberi tahu Ibu satu kabar baiknya, yaitu, beberapa kali saya ingin bermain game dengan iPad saya lagi. Tapi saya teringat mata saya sakit karena bermain dengan iPad sebelum ini, jadi Aku berdoa kepada Tuhan dalam hatiku, aku tidak ingin bermain iPad lagi, jadi aku pergi bermain dengan mainanku. Bu, ini sangat aneh. " Saya berkata dengan rasa ingin tahu setelah mendengarkannya, "Bagaimana kamu memberi tahu Tuhan, bisakah kamu memberi tahu ibu?" Dia mengatakan kepada saya, "Tuhan Yang Mahakuasa, terima kasih dan puji Tuhan, saya teringat mata saya sakit karena bermain iPad sebelum ini, dan sekarang saya tidak lagi ingin bermain game lagi. Amin! Terima kasih, amin! " Ketika setelah mendengarkan doanya, hati saya terharu dan saya berterima kasih kepada Tuhan dalam hati saya.

Kemudian, ketika saya melihat anak saya berperilaku baik di rumah dan di sekolah, saya juga menghadiahkan dan membiarkan dia membaca cerita Alkitab selama setengah jam, dengan harapan dia bisa mengetahui lebih banyak tentang pekerjaan Tuhan. Setelah dia selesai membaca, saya akan meluangkan waktu untuk mengobrol dengannya dan menanyakan apa yang dia paham setelah membacanya. Setelah dia memikirkannya sebentar, dia dapat menjelaskan sebab dan akibat cerita tersebut. Dia juga bisa menyimpulkan pandangannya dan membagikannya dengan saya. Terima kasih Tuhan!

Sekarang, anak saya tidak lagi memegang iPad di tangannya, tetapi mengambil inisiatif untuk bermain dengan mainannya, dan terkadang juga akan bertanya kepada saya dengan nada bernegosiasi: "Bu, kalau ada waktu, bisakah Ibu bermain petak umpet atau bermain bola basket denganku? " Melihat perubahan pada anak saya ini adalah hasil dari pekerjaan Tuhan. Ketika saya bergaul dengan anak saya dan jika saya melihat bahwa dia melakukan sesuatu yang salah, saya tidak marah padanya seperti sebelumnya. Sebaliknya, saya bisa mengandalkan Tuhan untuk berkomunikasi secara baik dengannya, dan anak saya juga menjadi sangat patuh.

Sekarang, hubungan saya dengan anak saya menjadi lebih baik dari sebelumnya. Terima kasih Tuhan karena telah membimbing saya dan anak saya untuk tumbuh bersama. Dari pengalaman saya, saya belajar bahwa ketika mengalami lingkungan, saya harus belajar menerima dari Tuhan, belajar mengandalkan Tuhan, memandang kepada Tuhan, mencari kehendak Tuhan, dan bertindak sesuai dengan kehendak Tuhan. Penerapan seperti ini sangat santai dan lepas.

Tinggalkan komentar