Berlangganan

Menu

Tuhan Telah Menuntunku Melewati Ambang Batas Yang Sulit Dilewati karena Pengkhianatan Pernikahan

Navigasi cepat
1.Bagaimana menjalani hidup yang sengsara ini
2.Pengkhianatan yang kejam membuat hatiku membenci
3.Ketika penderitaan dan ketidakberdayaan, Tuhan datang untuk menyelamatkanku
4.Siapa yang mengendalikan dibalik penderitaan pernikahan
5.Memahami kehendak Tuhan, aku menemukan jalan penerapan
6.Kasih yang tulus berasal dari Tuhan

Tuhan Telah Menuntunku Melewati Ambang Batas Yang Sulit Dilewati karena Pengkhianatan Pernikahan

Catatan editor: Penderitaan akibat Pengkhianatan pernikahan yang sulit dilewati. Beberapa saudara dan saudari yang percaya kepada Tuhan masih dibatasi oleh ayat Alkitab "Jadi mereka bukan lagi dua, tetapi satu daging. Sebab itu, apa yang sudah dipersatukan Tuhan, jangan sampai diceraikan oleh manusia" (Matius 19:6). Tidak peduli seberapa kejam pasangan menyakitinya, tidak akan bercerai. Jadi bagaimana bisa melepaskan diri dari penderitaan pengkhianatan pernikahan ini? Mari kita lihat pengalaman Saudari Xiang He ini.

Bagaimana menjalani hidup yang sengsara ini

Saya dan suami saya bertemu di acara pernikahan adik saya. Saya berada di Taiwan dan dia di Tiongkok. Setelah kami surat-menyurat selama satu tahun, dia melamarku seperti tokoh-tokoh utama dalam novel. Saya sangat pasti dalam hati saya bahwa dia adalah sang pangeran yang tampan. Jadi, saya tidak peduli dengan bujukan orang tua saya. Dengan bodohnya saya memulai jalan peenikaham dua negara ini.

Akan tetapi, kebahagiaan datang dengan cepat dan pergi pun juga cepat. Setelah menikah, kami sering bertengkar karena hal-hal sepele. Suamiku mengkritik saya tidak tahu cara berpakaian dan tidak pandai melakukan pekerjaan rumah. Setiap kali dia menegur saya dan tidak mengizinkan saya menangis. Jika saya memberi penjelasan, dia akan memukuli saya. Pria di depan saya ini sebenarnya adalah seorang "tiran" yang pemarah, dan kelembutan dalam suratnya sebelumnya hilang sepenuhnya. Saya meninggalkan kampung halaman saya dan tidak memiliki kerabat. Saya merasa sangat kesepian dan tidak berdaya. Saya hanya bisa keluar dari rumah secara diam-diam saat dia tertidur pergi ke satu pohon satu kilometer jauhnya dan melihat ke langit, serta menangis di bawah pohon itu. Saya memohon kepada Tuhan untuk membantu saya melewati hidup yang sengsara ini.

Pengkhianatan yang kejam membuat hatiku membenci

Tidal lama setelah menikah, suamiku sudah selingkuh dua kali. Saya sangat sakit hati dan tidak tahu bagaimana menghadapinya, tetapi karena saya ingin menjaga harga diri sendiri, aku tidak berani memberi tahu siapa pun. Jadi aku hanya bisa menahan penderitaan perkawinan secara diam-diam. Aku menghiburkan diri saya sendiri mungkin suamiku hanya sesat untuk sementara waktu. Dia bisa menikahiku, ini membuktikan bahwa hatinya masih ada aku. Suatu hari nanti, suamiku akan melihat kebaikanku. Kemudian, aku menggunakan semua uang simpanan untuk membeli rumah dan melakukan semua pekerjaan rumah. Tetapi suamiku tidak melihat semua usahaku ini .... Ketidakpedulian, pengkhianatan dan kekerasan suamiku membuat saya ingin bercerai. Tetapi saya berpikir ayat Matius 19:6 dalam Alkitab menyatakan bahwa "Jadi mereka bukan lagi dua, tetapi satu daging. Sebab itu, apa yang sudah dipersatukan Tuhan, jangan sampai diceraikan oleh manusia." (Matius 19:6). Selama aku sudah menikah, aku tidak bisa bercerai, jadi aku membiarkannya. Selama suamiku tidak menceraikanku, aku juga tidak akan meninggalkannya.

Kemudian, saya mengetahui dari kerabat suamiku bahwa sebelum aku dan suami menikah, dia punya seorang pacar, tetapi dengan kejam dia meninggalkan pacarnya dan menikahiku demi mendapatkan identitas Taiwan. Saya terkejut. Mungkinkah kelembutan suamiku dalam surat sebelum ini adalah kepalsuan? Suatu hari, putriku berkata kepadaku: "Ayah tinggal dengan seorang karyawan wanita pada tahun pertama dia membuka perusahaan di Tiongkok. Ibu, sudah bertahun-tahun, kita bisa melihat orang seperti apa Ayah itu. Lebih baik engkau bercerai dengan Ayah dan menjalani hidupmu sendiri! " Kata-kata putriku seperti petir di siang bolong, dan aku merasa sakit hati. Aku sudah memaafkannya ketika dia selingkuh satu atau dua kali. Aku tidak bisa memaafkannya lagi untuk kali ketiga dia selingkuh. Aku tidak bisa menahan air mataku yang mengalir dan aku tidak punya cara untuk mengambil balik semua ini. Aku pun tidak beranibercerai, aku hanya bisa menghindari perkara yang menyakitkan hatiku ini.

Kemudian, ketika suamiku tinggal bersama di rumah, aku menemukan bahwa kadang suamiku masih bermalam dengan wanita itu. Dia juga berkata kepada tanpa malu-malu: "Aku seorang pria dengan kebutuhan fisik, dan wanita itu dapat membantuku dalam bisnis, dan kamu tidak bisa membantuku, bagiku dia lebih penting daripada mu."

Apa yang dikatakan suami membuatku tercengang. Hati saya seakan dicabut dan dilempar ke tanah dan diinjak-injak sembarangan di tanah. Semua rasa kesakitan dan keluhan pada saat itu berubah menjadi kebencian. Aku membenci diriku sendiri karena terlalu lemah dan membenci wanita itu yang tidak memiliki rasa malu dan menghancurkan keluargaku, aku semakin membenci dengan ketidakpedulian suamiku. Selama lebih dari 20 tahun, aku telah menghabiskan semua yang aku miliki dan meminjam uang kepadanya, dan bahkan menyiapkan air untuk mencuci kaki. Tetapi pada akhirnya, dia tidak memiliki rasa terima kasih, tetapi mengkhianatiku lagi. Aku benar-benar putus asa. Selama periode itu, aku depresi sepanjang hari, susah tidur di malam hari, dan hampir gila. Rasa sakit di dalam hatiku membuat rambutku putih dan berat badan turun 10 kg.

Ketika penderitaan dan ketidakberdayaan, Tuhan datang untuk menyelamatkanku

Ketika aku dalam penderitaan dan kebingungan serta tidak ada arah dalam hidupku, keselamatan akhir zaman Tuhan datang kepadaku. Aku melihat Tuhan berkata: "Ketika engkau letih dan ketika engkau mulai merasakan adanya ketandusan yang suram di dunia ini, jangan kebingungan, jangan menangis. Tuhan Yang Mahakuasa, Sang Penjaga, akan menyambut kedatanganmu setiap saat. Dia berjaga di sisimu, menantikanmu untuk berbalik. Dia menantikan hari ketika engkau tiba-tiba memperoleh kembali ingatanmu: ketika engkau menyadari bahwa engkau berasal dari Tuhan, bahwa, entah kapan, engkau kehilangan arah, entah kapan, engkau kehilangan kesadaran di jalan, dan entah kapan, engkau mendapatkan seorang 'bapa'; selanjutnya, ketika engkau menyadari bahwa Yang Mahakuasa selama ini selalu mengamati, menantikan di sana sangat lama untuk kedatanganmu kembali."

Setelah membaca firman Tuhan, saya terharu, Tuhan tahu betapa pahit, sakit, dan betapa sepinya aku sekarang. Firman Tuhan menghiburku seperti ibu yang penuh kasih dan menghangatkan hatiku yang dingin dan mati. Ternyata aku tidak lagi sendirian atau kesepian, karena Sang Pencipta telah menjaga dan menemaniku, menungguku datang ke hadapan-Nya. Aku seperti anak domba yang tersesat dan terluka, akhirnya menemukan rumah. Dengan itu aku sudah ada dukungan dan keberanian untuk terus menjalani kehidupan.

Siapa yang mengendalikan dibalik penderitaan pernikahan

Suatu hati, saudari membagikan dua perikop Firman Tuhan kepadaku: "Terlahir di negeri yang najis seperti itu, manusia telah dirusak teramat parah oleh masyarakat, dia telah dipengaruhi oleh etika feodal, dan telah diajar di 'institusi pendidikan tinggi.' Pemikiran terbelakang, moralitas yang rusak, pandangan hidup yang jahat, falsafah hidup yang menjijikkan, keberadaan diri yang sepenuhnya tak berguna, dan adat-istiadat serta gaya hidup yang bejat—semua ini telah sedemikian parahnya memasuki hati manusia, dan telah sangat merusak dan menyerang hati nuraninya. Akibatnya, manusia menjadi semakin jauh dari Tuhan, dan semakin menentang-Nya." "Seluruh hidup manusia dijalani di bawah wilayah kekuasaan Iblis, dan tidak ada seorang pun yang dapat membebaskan diri dari pengaruh Iblis dengan upayanya sendiri. Semua orang hidup di dunia yang cemar, dalam kerusakan dan kekosongan, tanpa makna atau nilai sedikit pun; mereka menjalani kehidupan tanpa beban demi daging, nafsu, dan Iblis. Tidak ada sedikit pun nilai bagi keberadaan mereka."

Setelah membaca firman Tuhan, aku bisa menyadari bahwa pengkhianatan pernikahan adalah hal biasa saat ini. Ini semua disebabkan oleh orang-orang yang hidup di bawah kekuasaan iblis dan di kendalikan oleh berbagai falsafah iblis yang keliru. Kita dibodohi dan dianiaya oleh iblis dengan kejam, barulah kita dapat mengubahkan pandangan kita terhadap hal-hal negatif dan mengagumi hal-hal negatif ini seperti hal-hal positif serta hidup dalam kekotoran dan ketidaksenonohan, merendahkan diri sendiri dan mempermainkan orang lain. Aku terpikir tentang kata-kata terkenal dalam masyarakat saat ini, "Bendera merah di rumah tetap tinggi sementara bendera berwarna-warni di tempat lain berkibar tertiup angin", "Hidup akan membosankan jika pria tidak memiliki wanita simpanan", "Isi harimu dengan kesenangan, karena hidup ini singkat" dan lain-lain falsafah iblis telah membentuk satu jenis tren yang jahat. Jika orang tidak memiliki kebenaran, dia tidak akan bisa membedakan kata-kata mana yang benar dan keliru, sebaliknya dia akan memperlakukan kata-kata ini sebagai hal yang positif. Banyak orang meninggalkan keluarganya untuk memuaskan nafsu daging mereka. Mengganti pacar satu demi satu, berselingkuh sebagai satu jenis kenikmatan dengan sepenuhnya. Orang ini sudah kehilangan hati nurani, kewarasan, martabat pribadi, tidak ada rasa malu atau bersalah. Melihat suamiku selingkuh lagi, dia juga hidup dengan mengandalkan falsafah iblis ini. Dia memberikan kesenangan diantara beberapa wanita, dan tentu saja mereka bersedia mengorbankan diri untuknya. Wanita-wanita ini tidak hanya memuaskan nafsunya, tetapi juga menjadi alat demi kariernya. Dan pengkhianatan pernikahan telah menyebabkan begitu banyak penderitaan bagiku dan anakku, dan suamiku tidak memiliki rasa bersalah sedikit pun. Dia tidak memiliki sifat kemanusiaan di bawah kerusakan tren jahat ini. Aku terpikir tentang pengejaranku yang buta akan pernikahan yang bahagia "tidak akan pergi dan menyerah". Setelah suamiku mengkhianatiku, aku tetap tidak ingin kehilangan dia, dan aku memperlakukannya dengan hati yang tulus, serta masih berusaha menbalikkan hatinya. Ternyata pikiranku ini adalah salah. Manusia yang rusak tidak memiliki kebenaran. Mereka tidak bisa menahan godaan dari tren jahat iblis. Tidak peduli betapa aku berusaha, itutidak ada gunanya. Banyak sekali kasus pengkhianatan pernikahan sekarang, semua ini adalah disebabkan oleh iblis yang telah merusakkan manusia. Setelah aku memahami hal ini, aku tidak lagi bingung tentang perkara perselingkuhan suami. Dibandingkan dengan mereka yang hidup dalam penderitaan pengkhianatan pernikahan dan hidup dalam sengsara. Sebaliknya aku merasa sangat bersyukur dapat datang ke hadapan Tuhan. Jika aku tidak percaya pada Tuhan, aku tidak akan dapat melihat fakta bahwa umat manusia telah dirusak oleh iblis, dan aku tidak akan dapat menghadapi perkara pengkhiantan dari suamiku dan hidupku juga akan sangat menderita.

Memahami kehendak Tuhan, aku menemukan jalan penerapan

Akhir-akhir ini, aku melihat ayat Alkitab yang berkata: "Janganlah kamu menjadi pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tidak percaya: sebab apakah ada persamaan antara kebenaran dengan kejahatan? dan persekutuan apakah yang terang dengan kegelapan?" (2 Korintus 6: 14). "Sebab itu, keluarlah dari antara mereka, dan berpisahlah dari mereka, Tuhan berfirman, dan jangan menjamah yang najis; dan Aku akan menerimamu" (2 Korintus 6:17). "Tetapi jika orang yang tidak percaya bercerai, biarkan dia bercerai. Dengan demikian, saudara atau saudari tidak terikat lagi: tetapi Tuhan telah memanggil kita untuk damai sejahtera" (1 Korintus 7:15). Pada saat itu, hatiku tercerahkan, benar sekali, orang yang percaya dan orang yang tidak percaya, orang yang benar dan orang yang tidak benar tidak akan bersatu. Bahkan jika mereka bersatu, mereka juga tidak akan hidup dengan harmonis dan bahagia. Firman Tuhan juga memberi tahu kita untuk keluar dari yang ketidakbenaran dan jangan menjamah yang najis. Aku terpikir, meskipun suamiku berkata percaya kepada Tuhan dengan mulutnya, tetapi dia sama seperti orang yang tidak percaya, dia tidak berdoa, tidak membaca Alkitab, dan telah selingkuh berkali-kali. Dia telah melanggar hukum dan melakukan hal-hal yang tidak benar. Melihat jalan hidupku dan suamiku dan pandangan kami tentang berbagai hal sangat berbeda. Kami hidup bersama adalah siksaan yang menyakitkan dan tidak ada kedamaian serta kebahagiaan sama sekali. Apalagi suamiku mengkhianatiku beberapa kali, pernikahan kami hanya tinggal nama. Aku dapat memilih untuk berpisah dengan suamiku. Tapi aku terlalu keras kepala, dan selalu berpegang teguh pada ayat Alkitab Matius 19:6 "Jadi mereka bukan lagi dua, tetapi satu daging. Sebab itu, apa yang sudah dipersatukan Tuhan, jangan sampai diceraikan oleh manusia." Oleh karena itu aku tidak berani bercerai. Aku memilih untuk menunggu dan selalu berharap bahwa suatu hari dia dapat kembali. Setelah merenung kembali ayatAlkitab ini, aku menyadari bahwa meskipun Tuhan menuntut bahwa orang tidak boleh berpisah setelah mereka menikah, tapi maksud Tuhan adalah untuk membuat orang saling menghormati dan bertanggung jawab atas pernikahan. Orang-orang tidak boleh meminta untuk bercerai dengan sembarangan, tetapi jika kedua-dua pihak pasangan tidak mau hidup bersama-sama lagi, mereka dapat memilih untuk berpisah. Tetapi aku tidak memahami kehendak Tuhan, jadi aku hanya berpegang teguh pada kata-kata dan aturan Alkitab yang membuatku sangat derita. Setelah memahami semua ini, pikiranku terbuka dan aku sudah mendapatkan jalan keluar. Jika suamiku ingin pergi, aku harus melepaskannya dan meninggalkan pernikahan ini dengan damai dan tenang.

Kasih yang tulus berasal dari Tuhan

Aku melihat Firman Tuhan berkata: "Manusia hidup dalam dunia materi. Engkau mungkin mengikuti Tuhan, tetapi engkau tidak pernah melihat atau menghargai bagaimana Tuhan menyediakan bagimu, mengasihimu, dan memperhatikanmu. Jadi, apa yang engkau lihat? Engkau melihat saudara sedarahmu yang mengasihi atau menyayangimu. Engkau melihat hal-hal yang bermanfaat bagi dagingmu, engkau memedulikan orang-orang dan hal-hal yang engkau kasihi. Inilah yang disebut 'ketidakegoisan' manusia. Namun, orang-orang yang "tidak egois" semacam itu, tidak pernah peduli tentang Tuhan yang memberi kehidupan kepada mereka. Berbeda dengan Tuhan, ketidakegoisan manusia menjadi egois dan tercela. Ketidakegoisan yang manusia percayai adalah kosong dan tidak realistis, tercemar, tidak sesuai dengan Tuhan, dan tidak berhubungan dengan Tuhan. Ketidakegoisan manusia adalah untuk dirinya sendiri, sementara ketidakegoisan Tuhan adalah penyingkapan sejati dari esensi-Nya. Justru karena ketidakegoisan Tuhan-lah manusia terus menerima penyediaan tetap dari-Nya. Engkau semua mungkin tidak terlalu terpengaruh oleh topik yang Aku bahas pada hari ini dan sekadar mengangguk setuju, tetapi ketika engkau mencoba untuk menghargai hati Tuhan dalam hatimu, tanpa disadari engkau akan menemukan bahwa di antara semua orang, semua masalah, dan semua hal yang dapat engkau rasakan di dunia ini, hanya ketidakegoisan Tuhan-lah yang nyata dan konkret, karena hanya kasih Tuhan kepadamu yang tidak bersyarat dan tidak bercacat cela. Selain Tuhan, ketidakegoisan orang lain, semuanya palsu, dangkal, dan tidak asli, memiliki tujuan, niat tertentu, mengandung kompromi, dan tidak dapat bertahan dalam ujian. Engkau bahkan bisa mengatakan bahwa keditakegoisan itu kotor dan hina."

Merenungkan firman Tuhan, aku merasa bahwa apa yang Tuhan katakan itu benar, hanya Tuhan yang paling mengasihi manusia. Mengingkat kembali bahwa Tuhan dua kali berinkarnasi untuk menyelamatkan kita. Pada inkarnasi Tuhan yang kali pertama, Dia rela disalibkan oleh umat manusia untuk sebagai korban penghapus dosa bagi umat manusia untuk membebaskan umat manusia dari kutukan hukum supaya manusia bisa terus bertahan hidup; Sampai di akhir zaman, Tuhan mengambil resiko dikutuk dan dihukum oleh umat manusia yang jahat, Dia kembali berinkarnasi dalam daging untuk mengungkapkan kebenaran, hanya untuk memurnikan kita serta menuntun kita melepaskan diri dari kekuasaan iblis dengan sepenuhnya dan diselamatkan oleh Tuhan. Kasih seperti ini adalah suci, tanpa pamrih , tidak meminta balasan. Kasih antara orang-orang bersifat transaksi, bersifat penipuan, dan tidak bisa tahan ujian apa pun. Sama seperti aku dan suamiku, dia sanggup meninggalkan pacarnya yang telah pacaran selama bertahun-tahun dan menikahiku untuk mendapatkan identitas Taiwan. Ketika dia melihat bahwa aku bisa dimanfaatkan, dia mengatakan kata-kata yang manis. Ketika aku tidak lagi bisa dimanfaatkan lagi dan tidak dapat membantunya dalam bisnis, dia penuh dengan ketidaksukaan terhadap saya dan menendangku jauh-jauh; dia dan wanita itu tinggal bersama, pertama untuk memuaskan nafsu dagingnya, dan kedua memperalatkan dia untuk mengurus urusan perusahaannya. Ada keegoisan dan kekejaman yang tersembunyi dalam kasih yang melimpah dari suamiku ini. Untuk memuaskan keinginan egoisnya sendiri, mereka diperalatkan oleh suamiku ketika bersama dengannya, mereka juga memperalatkan suamiku untuk memenuhi kebutuhan fisik dan materi mereka. Dan aku, untuk mendapatkan cinta suamiku, aku menahan diri dan memberikan semua yang aku miliki untuknya. Ketika suamiku tidak bisa memberiku kehidupan stabil yang aku inginkan, dan mengkhianatiku untuk tinggal bersama wanita itu, aku membencinya karena cinta dan tidak bisa memaafkan pengkhianatan ini. Sebenarnya, aku dan suamiku hanya memanfaatkan satu sama lain, cinta seperti itu sangat konyol. Semua itu adalah kepentingan diri dan transaksional. Aku tidak lagi membencikan wanita itu, tetapi aku merasa bahwa mereka semua adalah mangsa yang malang, mereka semua dirusak dan disiksa oleh Setan. Dan aku bernasib baik karena firman Tuhan membuatku melihat bagaimana iblis merusakkan manusia, dan aku juga menyadari bahwa pandanganku yang keliru, sehingga aku tersadar dan tidak lagi dianiayai oleh iblis.

Meskipun suamiku belum menceraikanku sekarang, tapi hatiku tidak lagi begitu derita, dan ada kebebasan. Akhirnya aku bisa melewati ambang batas pengkhianatan pernikahan dengan bimbingan Firman Tuhan. Aku tidak lagi menuntut cinta suamiku. Dia ada pengejaran sendiri dan aku juga memiliki kehidupan yang harus aku jalani. Aku tidak menuntut dia untuk berubah, tetapi aku hanya ingin mengejar kebenaran, mengenal Tuhan, dan menjalani hidup yang bermakna!

Tinggalkan komentar