Berlangganan

Menu

Kehidupan pernikahan Kristen: Pertengkaran dengan suami tentang hal-hal sepele, begini akhirnya(I)

Banyak orang berkata “Pernikahan adalah makam cinta”, setelah pernikahan, ketika suami dan istri sudah lama bersama, berbagai masalah akan tersingkap, sama seperti aku dengan suami aku. Hubungan aku dengan suami tidak sama bagusnya seperti sebelum menikah, aku pikir kami berdua bisa saling mendukung dan saling pengertian setelah menikah. Siapa sangka, kami sering bertengkar sehingga hidup kami tidak bahagia karena beberapa hal sepele kehidupan, bahkan sampai pernikahan kami hampir berakhir. Kemudian, untungnya aku telah menerima pekerjaan Tuhan di akhir zaman, firman Tuhanlah yang menyelesaikan masalah antara kami….

Hal-hal Kehidupan yang Sepele Membiarkan Aku Dan Suamiku Menjadi Orang Asing

Setelah menikah, untuk mengelola keluarga ini dengan baik, suamiku bangun pagi setiap hari dan bekerja sampai malam, dan aku akan mengurus pekerjaan rumah sebanyak mungkin selain pergi bekerja. Setiap hari setelah bekerja, aku menyiapkan makanan dengan hati yang sungguh-sungguh, tetapi suamiku selalu pilih-pilih makanan yang aku buat, sering mengeluh bahwa aku memasak terlalu santai. Ketika mendengar suamiku berkata ini, aku merasa sangat geram di dalam hati: “Aku membuat makanan dengan susah payah, kamu tidak memberi kata-kata pujian, sebaliknya kamu masih cerewet dan bilang apa yang aku masak ini tidak baik, itu tidak baik.” Karena alasan ini, aku sering tidak berbicara dengannya di meja makan, untuk menunjukkan protes; Saat mencuci piring, kadang kali aku membuat suara dengan sengaja menabrak mangkuk dan piring, membiarkan dia tahu bahwa aku tidak gembira. Siapa sangka, suamiku sama sekali tidak menyadarinya, masih bertanya kepada aku mengapa aku tidak gembira, segera setelah aku mendengar ini, hati aku menjadi lebih marah, aku berkata dalam hati: “Apakah kamu benar-benar tidak tahu atau berpura-pura tidak tahu?” Ketika melihat dia bertindak seperti ini, aku tidak ingin mengatakan lebih dari satu kata pun kepadanya. Ketika dia melihat aku mengabaikannya, dia juga tidak berdaya. Dengan cara inilah, aku sering mengalami perang dingin dengan suamiku karena hal-hal sepele ini, sehingga hubungan antara suami dan istri menjadi semakin jauh….

Kemudian, aku juga menemukan bahwa suamiku tidak akan mengatakan perkataan-perkataan yang ramah, menikah selama bertahun-tahun, pada hari ulang tahun atau ulang tahun pernikahan, dia tidak pernah memberi aku hadiah. Sebenarnya, dia tidak perlu membelikan aku hadiah, bahkan jika dia bisa mengatakan satu kata: “Istri, kamu telah bekerja keras”, ini pun bagus. Suatu kali hari ulang tahun menjelang, aku sengaja mengingatkan suamiku tentang hari ulang tahun di depannya: “Minggu depan adalah hari ulang tahun aku ke mana kita akan rayakan?” Kemudian suami berkata: “Setiap tahun ada ulang tahun, tidak ada yang perlu dirayakan!”, kata-kata suamiku membuat aku mengeluh tanpa sadar: “Mengapa aku bisa menikah dengan laki-laki yang seperti kayu? Kita telah menikah selama bertahun-tahun, mengapa kamu tidak memahami aku sama sekali?” Perlahan-lahan, prasangkaku terhadap dia menjadi semakin besar. Terkadang suamiku melihat aku tidak suka berbicara dengannya, dia sengaja menemukan beberapa topik untuk mengobrol denganku, tetapi aku terlalu malas untuk memedulikannya, aku membalikkan wajah dan kembali ke kamar. Perlahan-lahan, dia tidak mengatakan apapun lagi, dan merokok sendiri disana. Aku dan dia juga tidak ada topik umum yang bisa diobrol.

Selain itu pilihan kami juga berbeda, biasanya waktu luang, aku suka bermain mahjong dengan teman-teman aku, tetapi ayah suamiku kehilangan rumahnya karena berjudi, karena itu, suamiku membenci orang lain untuk bermain mahjong. Setiap kali aku pulang ke rumah setelah bermain mahjong, dia menarik muka yang panjang, aku merasa sangat sedih dalam hati, lalu berpikir: “Aku tidak suka berbelanja membeli barang dan melakukan perawatan wajah, juga tidak pergi karaoke dengan teman, makan dan minum. Ketika waktu luang, aku hanya bermain mahjong untuk bersenang-senang sebentar, tetapi mengapa kamu menunjukkan wajah itu kepadaku setiap waktu. Suatu hari, suamiku mendengar teleponku berdering, dia tahu bahwa aku harus keluar untuk bermain mahjong lagi, lalu berkata dengan nada yang marah: “Bisakah kamu tidak bermain mahjong?” Aku berkata: “Tidak!” Dia berkata dengan sedikit marah: “Apakah kamu akan mati jika tidak pergi sekali saja?” Setelah mendengar kata-katanya, aku juga tidak ingin mengalah lalu berkata: “Aku tetap mau pergi….” Karena itu, kami berdua bertengkar tanpa henti. Ketika aku berbicara, emosiku menjadi sangat intens. Ketika aku terpikir selama bertahun-tahun ini suamiku tidak pernah mengerti dan bertimbang rasa terhadap aku, bahkan sekali pun tidak ada…. Ketika memikirkan hal ini, hatiku merasa sangat tertekan, keluhan yang telah menumpuk di hatiku selama bertahun-tahun sepertinya tiba-tiba meledak, aku hilang akal dan menabrak pagar dengan keras. Suami melihat aku seperti ini, lalu dia cepat menghalangi aku dengan tangan, pada saat ini udara tampaknya telah membeku, aku menangis dengan sedih, suami tidak ada pilihan dan merokok di sana.

Pada hari-hari berikutnya, kami berdua masih sering bertengkar, sebenarnya aku dan suamiku saling memiliki di hati, kami juga tidak ingin pernikahan kami berakhir dengan kegagalan, tetapi kami sepertinya tidak berdaya. Selama waktu itu, aku sering berpikir: “Kita berdua adalah orang yang ingin menjalani kehidupan dengan baik, lalu mengapa kita tidak bisa bergaul akrab?

Memahami Akar Penyebab Penderitaan, dan Mendapatkan Jalan Penerapan

Ketika aku menderita dan tidak berdaya, seorang teman memberitakan Injil Tuhan pada akhir zaman kepadaku. Ketika saudari mengetahui tentang masalah ini antara aku dan suamiku, dia membaca satu paragraf firman Tuhan dengan aku : “Pada mulanya, Aku menciptakan umat manusia, yaitu nenek moyang manusia bernama Adam. Dia diberkati dengan rupa dan gambar, penuh kekuatan, penuh kegagahan, dan selain itu, ada di dalam kemuliaan-Ku. Itulah hari mulia ketika Aku menciptakan manusia. Setelah itu, Hawa diciptakan dari tubuh Adam, dan dia juga merupakan nenek moyang manusia, sehingga orang-orang yang Kuciptakan dipenuhi dengan napas dan kemuliaan-Ku…. Mereka merupakan nenek moyang umat manusia, harta paling murni, dan berharga, sejak awal, mereka adalah makhluk hidup yang diberkati dengan roh. Namun, si jahat mengambil keturunan dari nenek moyang umat manusia itu dan menindas, serta menawan mereka, menjerumuskan dunia manusia ke dalam kegelapan total, dan membuatnya sedemikian rupa sehingga keturunan manusia itu tidak lagi percaya akan keberadaan-Ku. Bahkan yang lebih keji lagi, ialah ketika si jahat merusak dan menindas mereka, dia juga dengan kejamnya merenggut kemuliaan-Ku, kesaksian-Ku, daya hidup yang Kuberikan, napas dan kehidupan yang Kuhembuskan kepada mereka, seluruh kemuliaan-Ku di dunia manusia, dan darah yang telah Kucurahkan untuk umat manusia.

Saudari bersekutu dengan mengatakan: “Dari firman Tuhan kita bisa melihat, pada mulanya, umat manusia yang diciptakan oleh Tuhan tidak dirusak oleh Iblis, Adam dan Hawa hidup bersama tanpa kekhawatiran, tanpa pertengkaran, tanpa kesedihan. Tetapi, sejak manusia digoda oleh Iblis, setelah manusia memakan buah dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat, wujudlah dosa di dunia manusia. Sejak saat itu, ada kebohongan, penipuan, pertempuran, kebencian, pembunuhan berlaku di kalangan umat manusia…. Sehingga sampai hari ini, manusia dirusak oleh Iblis semakin mendalam, kehilangan kemanusiaan yang normal, semua orang menjadi sangat egois dan keji, semua orang mempertimbangkan diri sendiri, sedikitpun tidak mempertimbangkan perasaan orang lain, juga tidak pernah memikirkan orang lain, bahkan dalam sebuah keluarga, antara orang tua dan anak-anak, antara suami dan istri, antara teman-teman, juga tidak bisa bergaul akrab, sering bertengkar untuk hal-hal yang sepele. Inilah kebenaran bahwa seluruh umat manusia sekarang dirusak oleh Iblis. Tuhan bekerja hari ini untuk menyelamatkan manusia, yaitu mengubah watak kita yang rusak dengan mengungkapkan kebenaran, menyelamatkan kita dari penderitaan Iblis.”

Setelah mendengar persekutuan yang disampaikan oleh saudari, aku merasa sangat cerah dalam hatiku. Aku berpikir kembali bahwa tahun-tahun ini aku sering bertengkar dan berperang dingin dengan suami aku karena beberapa hal yang sepele tentang kehidupan, kami berdua sangat sengsara, ternyata ini adalah karena kita telah dirusak oleh Iblis. Sejujurnya, meskipun aku selalu mengeluh kepada suamiku, aku juga bisa merasakan beberapa masalah dalam diriku, lagi pula satu tamparan tidak bisa membuat suara, tetapi aku tidak tahu di mana masalahnya. Setelah aku melihat firman Tuhan hari ini, aku merasa sangat cerah, aku ingin mengubah diriku dengan firman Tuhan. Jadi, dengan senang hati aku telah menerima pekerjaan Tuhan di akhir zaman.

Ingat pertama kali aku menghadiri kebaktian, aku sengaja memberikan makanan kepada suamiku terlebih dahulu. Dalam perjalanan ke kebaktian, aku menerima telepon dari suamiku, pada awalnya aku sangat gembira, karena suamiku sangat jarang menelepon aku, lalu aku berpikir apakah dia khawatir dengan apa yang aku lakukan di luar? Siapa sangka, baru saja aku mengangkat telepon, suamiku kehilangan kesabaran dan mengatakan bahwa makanan yang aku buat tidak enak, dia juga mengatakan bahwa sebelum itu dia sudah memberi tahu aku jangan memasak untuk dia lagi, mengapa aku masih melakukannya. Saya menjadi amarah begitu mendengarnya, berpikir: “Saya memasak untuk kamu dengan niat baik, supaya kamu makan malam setelah bekerja, kamu tidak hanya tidak menghargainya tetapi masih menegur aku, itu memang tidak masuk akal. Jadi, dari tunggu bus sampai naik bus, aku bertengkar dengannya di telepon.

Ketika tiba di rumah saudari, aku mencurahkan hal-hal yang terjadi sekarang dengan para saudari. Setelah mendengar, saudari bersekutu: “Pada masa lalu ketika kita tidak percaya pada Tuhan, apapun yang terjadi, kita semua hanya terjebak di dalam hal-hal tentang siapa yang benar dan siapa yang salah. Hari ini kita telah datang di hadapan Tuhan, dan mengetahui bahwa dalam orang-orang, hal-hal dan perkara-perkara yang terjadi setiap hari mengandung jerih payah Tuhan, tidak peduli apakah itu hal yang baik atau buruk, tujuannya adalah membuat kita mendapatkan kebenaran. Alkitab pernah mengatakan bahwa segala sesuatu bekerja bersama-sama, supaya mereka yang mengasihi Tuhan memperoleh manfaat darinya. Ayat Alkitab ini adalah benar. Saudari, mari kita bersama-sama membaca satu paragraf dari persekutuan Saudara.

“Sekarang hubungan interpersonal semua orang tidak normal, terutama karena orang-orang terlalu dirusak oleh Iblis, dan kepribadian mereka sangat rendah … Semua orang hidup untuk diri mereka sendiri dan daging mereka sendiri, mereka tidak memiliki sedikitpun kepedulian dan kasih sayang terhadap orang lain, bahkan perasaan dan kasih sayang yang harus dimiliki oleh manusia pun tidak ada. Dalam hubungan manusia ada pertikaian, mereka saling berjaga-jaga, bersaing dengan cara terbuka dan rahasia, dan tidak dapat bergaul secara normal dengan satu sama lain. Hati nurani dan akal sehat yang seharusnya dimiliki manusia sama sekali tidak ada. Di antara manusia, tidak ada yang bertindak sepakat. Jika kesabaran tidak ditambahkan kepada mereka, mereka semua akan saling bermusuhan. Hati manusia penuh dengan kejahatan dan penuh persaingan, mereka saling bermusuhan dan saling bertentangan, dan hampir tidak memiliki sedikitpun keserupaan dengan manusia sejati, mereka sepenuhnya dikuasai oleh Iblis, dan hati mereka penuh dengan filosofi Iblis.”

Saudari bersekutu dengan mengatakan: “Persekutuan ini telah mengungkapkan situasi kita saat ini, setelah dirusak oleh Iblis, kita hidup dengan mengandalkan watak rusak Iblis yang egois dan tercela. Dalam hubungan manusia, mereka sama sekali tidak tahu bahwa mereka harus saling bertimbang rasa, memahami, dan membantu satu sama lain dengan kasih sayang. Mereka meminta orang lain untuk melakukan segalanya sesuai dengan kepentingan mereka sendiri, serta memenuhi permintaan dan pilihan mereka sendiri. Begitu pihak lain melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan maksud kita, kita akan merasa marah, bertengkar dan marah dengan pihak lain, bahkan bisa berubah menjadi musuh satu sama lain. Sebagai contoh, ketika kita bergaul dengan pasangan hidup kita, karena watak rusak kita yang egois dan tercela, kita berharap suami dapat menjaga dan mempertimbangkan kita dalam semua hal, ingin mendapat pujian dari suami ketika memasak untuknya, ingin suami memberi kejutan kepada kita ketika hari ulang tahun atau ulang tahun pernikahan, kita bahkan meminta suami untuk memaafkan kita tentang bermain mahjong padahal bermain mahjong adalah hobi yang buruk. Ketika pihak lain tidak mengikuti keinginan kita, kita akan merasa dirugikan dan tidak nyaman, berpikir bahwa pihak lain tidak memahami dan peduli dengan kita, lalu kehilangan kesabaran dan menunjukkan kemarahan kepada pihak lain, untuk mengekspresikan ketidakpuasan kita, menyebabkan pihak lain tidak tahu bagaimana bergaul dengan kita, sehingga hubungan antara dua orang semakin kaku, dan hidup dalam penderitaan, kamu katakan apakah semua masalah ini disebabkan oleh watak kita yang rusak?”

Setelah mendengar persekutuan yang disampaikan oleh saudari, aku baru dapat melihat dengan jelas alasan mengapa hubungan aku dengan suamiku semakin buruk adalah disebabkan oleh watak egois aku. Tetapi aku tidak memahami diriku sendiri di masa lalu, selalu menganggap itu adalah masalah suami, berpikir bahwa aku memasak dengan niat baik, suamiku tidak hanya tidak memujiku, tetapi dia masih cerewet tentang makanan yang aku masak, jadi dia yang salah; suamiku tidak tahu bagaimana memerhatikan aku ketika ulang tahun pernikahan, jadi dia juga salah dalam hal ini; Dia tidak mendukung aku untuk bermain mahjong, saya juga menyalahkan dia. Karena itu, aku sering cemburut dengan suamiku, atau bertengkar dengannya. Aku tidak pernah merefleksikan diriku, dan juga tidak berdiri di sudut suamiku untuk mempertimbangkannya. Aku bahkan sengaja membuat dia marah. Dari semua hal ini, aku melihat diriku terlalu egois dan keras kepala.

Kemudian, saya melihat lagi sebuah perikop dari “Khotbah dan Persekutuan tentang Jalan Masuk Ke Dalam Kehidupan” yang mengatakan: “Seharusnya ada beberapa prinsip penerapan agar orang bisa rukun satu sama lain, mereka tidak bisa hanya puas dengan tidak mengambil keuntungan dari orang lain dan merugikan orang lain, tetapi juga harus memiliki beberapa kasih sayang, dan memiliki hati nurani dan akal sehat, dapat saling bertoleransi dan saling membantu, dapat peduli dengan orang lain, membiarkan orang lain mendapatkan manfaat dalam hal apapun, dapat memikirkan orang lain, jangan hanya mempertimbangkan diri sendiri, juga dapat memaafkan orang lain atas kelemahan mereka, dan memaafkan orang lain atas pelanggaran-pelanggaran mereka. Dengan prinsip-prinsip ini, kita dapat membangun hubungan normal dengan orang-orang dan mencapai pergaulan yang rukun.”

Setelah melihat persekutuan ini, aku menemukan beberapa jalan penerapan, memahami bahwa untuk membangun hubungan interpersonal yang normal, dan mencapai pergaulan yang rukun, kita perlu melepaskan diri kita sendiri, belajar memikirkan masalah dari sudut pandang orang lain, banyak memikirkan orang lain, mempertimbangkan kelemahan orang lain, belajar memperlakukan orang lain dengan benar. Sebenarnya, suamiku juga seorang yang menjaga keluarga, dia bekerja keras setiap hari untuk rumah tangga ini, hanya saja orangnya lebih jujur dan tidak pandai mengucapkan kata-kata yang manis, tetapi dia memperlakukan aku dan anak-anakku dengan baik. Lebih jauh, dia membenci orang-orang yang bermain mahjong karena kebiasaan judi ayahnya telah menghancurkan keluarganya. Sedangkan aku selalu membiarkan emosiku bersaing dengannya, tidak pernah memikirkan perasaannya, apalagi memperlakukannya dengan kesabaran. Setelah mengenal hal-hal ini, aku bertekad untuk menjadi manusia sesuai dengan firman Tuhan, aku tidak bisa hanya menjaga diri sendiri, dan harus belajar banyak mempertimbangkan suamiku. Hari-hari berikutnya, aku mengambil inisiatif untuk memperbaiki hubunganku dengan suamiku, kadang-kadang suamiku memberi saran kepada aku, dia bilang dengan aku bahwa dia ingin berjalan-jalan dan berbelanja di luar, aku setuju dan pergi bersama dengannya. Ketika aku berjalan-jalan dengan suamiku, aku juga dapat mengobrol dengannya tentang hal-hal kehidupan. Dengan demikian, jarak antara aku dan suamiku juga semakin dekat.

Bersambung …

Bacaan Diperpanjang:
Kehidupan pernikahan Kristen: Pertengkaran dengan suami tentang hal-hal sepele, begini akhirnya(II)