Dalam kehidupan iman, banyak orang mengatakan bahwa mereka mengasihi Tuhan. Kita bersedia berdoa, beribadah, membaca Alkitab, dan juga bersyukur kepada Tuhan saat hidup berjalan damai dan lancar, serta memuji Tuhan ketika menerima berkat-Nya. Namun ketika penderitaan datang, ketika tuntutan Tuhan tidak sesuai dengan pemahaman kita, atau ketika kita harus membayar harga dan melepaskan kepentingan diri sendiri, apakah kita masih dapat terus mengikuti Tuhan dan menaati-Nya? Pada saat itulah kita menyadari bahwa "kasih kepada Tuhan" yang kita anggap kita miliki sering kali masih bercampur dengan syarat dan tuntutan. Kita berharap Tuhan memberkati dan melindungi kita, tetapi tidak benar-benar bersedia memuaskan hati Tuhan.
Lalu, apakah kasih yang sejati itu? Kasih seperti apakah yang berkenan kepada Tuhan?
1 Korintus 13:4–7: "Kasih itu sabar; kasih itu murah hati; ia tidak cemburu. Ia tidak memegahkan diri dan tidak sombong. Ia tidak melakukan yang tidak sopan dan tidak mencari keuntungan diri sendiri. Ia tidak pemarah dan tidak menyimpan kesalahan orang lain. Ia tidak bersukacita karena ketidakadilan, tetapi karena kebenaran. Ia menutupi segala sesuatu, percaya segala sesuatu, mengharapkan segala sesuatu, dan sabar menanggung segala sesuatu."
Ayat ini bukan hanya memperlihatkan bagaimana kasih itu dinyatakan, tetapi juga membuat kita memahami bahwa kasih yang sejati bukanlah semangat sesaat ataupun janji di bibir semata, melainkan pancaran kehidupan yang tidak mementingkan diri sendiri, murni, dan mampu bertahan melewati berbagai ujian.
Dari bagian firman ini kita dapat melihat bahwa kasih yang sejati bukan sekadar perasaan, dan bukan pula semangat yang hanya muncul saat segala sesuatu berjalan baik. Kasih adalah kehidupan yang tetap taat kepada Tuhan di tengah keadaan dan ujian. Kasih tidak mencari kepentingan diri sendiri, melainkan rela memenuhi kehendak Tuhan. Kasih bukanlah menuntut, tetapi rela memberi. Kasih bukan hanya indah diucapkan, tetapi nyata dipraktikkan dalam kehidupan.
Meskipun bagian ayat Alkitab ini sering digunakan untuk menjelaskan kasih antarmanusia, namun ketika diterapkan dalam hubungan kita dengan Tuhan, maknanya juga sangat nyata. Tanpa kasih kepada Tuhan, bagaimana mungkin kita sungguh-sungguh mengasihi sesama? Orang yang benar-benar mengasihi Tuhan bukan hanya berkata, "Aku mengasihi Tuhan," ketika menerima kasih karunia-Nya, tetapi tetap rela menaati Tuhan, mengikuti Tuhan, dan memuaskan hati Tuhan ketika keadaan tidak sesuai dengan keinginannya atau ketika harus membayar harga.
Tuhan berfirman: "“Kasih,” sebagaimana disebut, mengacu pada perasaan kasih sayang yang murni dan tanpa cela, di mana engkau menggunakan hatimu untuk mengasihi, merasakan, dan peduli. Dalam kasih tidak ada syarat, tidak ada hambatan, dan tidak ada jarak. Dalam kasih tidak ada kecurigaan, tidak ada tipu daya, dan tidak ada kelicikan. Dalam kasih tidak ada pertukaran dan tidak ada suatu pun yang tidak murni. Jika engkau mengasihi, maka engkau tidak akan menipu, mengeluh, mengkhianati, memberontak, memeras, atau berusaha mendapatkan sesuatu atau mendapatkan suatu jumlah tertentu. Jika engkau mengasihi, maka engkau akan dengan senang hati membaktikan dirimu, dengan senang hati menderita kesukaran, dan engkau akan menjadi selaras dengan-Ku, engkau akan merelakan semua yang engkau miliki demi Aku, engkau akan merelakan keluargamu, masa depanmu, masa mudamu, dan perkawinanmu. Jika tidak, kasihmu bukanlah kasih sama sekali, melainkan dusta dan pengkhianatan!"
Dari firman Tuhan, kita semakin memahami bahwa benar-benar mengasihi Tuhan bukan sekadar di bibir, juga bukan mengasihi Tuhan demi memperoleh berkat, melainkan mampu menaati Tuhan dan memuaskan hati-Nya dalam kehidupan nyata. Kasih seperti ini tidak mengandung transaksi ataupun tuntutan. Kita mengasihi Tuhan bukan karena Dia memberi kita kasih karunia, melainkan karena kita mengenal Tuhan, merasakan kasih-Nya, sehingga dengan sukarela mengikuti dan menaati-Nya.
Setelah memahami apa itu kasih yang sejati, yang lebih penting adalah bagaimana menghidupi kasih tersebut. Banyak orang merasa bahwa mengasihi Tuhan adalah sesuatu yang abstrak. Padahal, mengasihi Tuhan pertama-tama berarti menyerahkan hati kita kepada Tuhan.
Tuhan berfirman: "Ketika manusia menghubungi Tuhan dengan hati mereka, ketika hati mereka dapat sepenuhnya berpaling kepada-Nya, ini adalah langkah pertama dari kasih manusia kepada Tuhan. Jika engkau ingin mengasihi Tuhan, engkau harus terlebih dahulu mampu memalingkan hatimu kepada-Nya. Apa artinya memalingkan hatimu kepada Tuhan? Itu adalah ketika semua yang kauupayakan dalam hatimu adalah demi mengasihi dan mendapatkan Tuhan. Ini menunjukkan bahwa engkau telah sepenuhnya memalingkan hatimu kepada Tuhan. Selain Tuhan dan firman-Nya, hampir tidak ada hal lain di dalam hatimu (keluarga, kekayaan, suami, istri, anak-anak, atau hal-hal lain). Bahkan kalaupun ada, hal-hal itu tidak dapat memenuhi hatimu, dan engkau tidak memikirkan prospek masa depanmu tetapi hanya berusaha untuk mengasihi Tuhan. Pada saat seperti itu engkau akan sepenuhnya memalingkan hatimu kepada Tuhan.”
Firman Tuhan memberitahukan kepada kita bahwa mengasihi Tuhan bukanlah sekadar slogan, melainkan sebuah pilihan. Ketika kita bersedia mendekat kepada Tuhan, membaca firman-Nya, serta berdoa dan mencari kehendak-Nya, hati kita perlahan-lahan akan berpaling kepada Tuhan. Ketika menghadapi suatu masalah dan kita terlebih dahulu mencari kehendak Tuhan, bukan mengambil keputusan berdasarkan pemikiran sendiri, kita sedang mempraktikkan kasih kepada Tuhan. Ketika kita bersedia menempatkan Tuhan sebagai yang terutama dalam hidup kita dan tidak membiarkan nama baik, kedudukan, maupun harta benda menguasai hati kita, kita sedang belajar untuk benar-benar mengasihi Tuhan. Mengasihi Tuhan bukanlah semangat sesaat, melainkan mempraktikkan firman Tuhan setiap hari dan menempatkan Tuhan pada posisi yang paling penting di dalam hati kita.
4. Mengapa Orang yang Benar-Benar Mengasihi Tuhan Akan Mendapat Perkenanan dan Berkat dari Tuhan?
Tuhan berkenan kepada orang-orang yang sungguh-sungguh mengasihi-Nya dan mengingat mereka yang rela berkorban bagi-Nya. Orang yang benar-benar mengasihi Tuhan bukan mengasihi-Nya demi memperoleh berkat. Namun justru orang-orang seperti inilah yang paling mudah hidup dalam pimpinan dan perkenanan Tuhan, karena yang mereka kejar bukan lagi kepentingan duniawi, melainkan kehendak Tuhan.
Tuhan berfirman: "Hanya mereka yang mengasihi Tuhan yang mampu bersaksi bagi Tuhan, hanya merekalah saksi-saksi Tuhan, hanya merekalah yang diberkati oleh Tuhan, dan hanya merekalah yang dapat menerima janji-janji Tuhan. Mereka yang mengasihi Tuhan adalah sahabat karib Tuhan; mereka adalah orang-orang yang dikasihi Tuhan, dan mereka dapat menikmati berkat bersama dengan Tuhan. Hanya orang-orang seperti inilah yang akan hidup sampai kekekalan, dan hanya merekalah yang akan selamanya hidup di bawah pemeliharaan dan perlindungan Tuhan. Tuhan adalah untuk dikasihi oleh manusia, dan Dia layak menerima kasih semua orang, tetapi tidak semua orang mampu mengasihi Tuhan, dan tidak semua orang dapat bersaksi bagi Tuhan dan memegang kuasa dengan Tuhan. Karena mereka mampu bersaksi bagi Tuhan, dan mencurahkan segenap upaya mereka bagi pekerjaan Tuhan, mereka yang sungguh-sungguh mengasihi Tuhan dapat berjalan ke mana pun di bawah langit tanpa ada yang berani menentang mereka, dan mereka dapat memegang kuasa di bumi dan memerintah semua umat Tuhan. Orang-orang ini telah datang bergabung dari seluruh dunia. Mereka berbicara bahasa yang berbeda dan memiliki warna kulit yang berbeda, tetapi keberadaan mereka memiliki arti yang sama; mereka semua memiliki hati yang mengasihi Tuhan, mereka semua memiliki kesaksian yang sama, memiliki tekad yang sama serta keinginan yang sama. Mereka yang mengasihi Tuhan dapat berjalan bebas di seluruh dunia, dan mereka yang bersaksi bagi Tuhan dapat melakukan perjalanan melintasi alam semesta. Orang-orang ini dikasihi oleh Tuhan, mereka diberkati oleh Tuhan, dan mereka akan selamanya hidup dalam terang-Nya.”
Dari firman Tuhan, kita melihat bahwa Tuhan sangat menghargai kasih manusia kepada-Nya. Orang yang benar-benar mengasihi Tuhan mungkin tidak menonjol di mata dunia, tetapi sangat berharga di mata Tuhan. Hal ini karena mereka rela menaati Tuhan, menjadi saksi bagi Tuhan, dan memuaskan hati Tuhan. Apa yang mereka peroleh bukan hanya kasih karunia secara lahiriah, tetapi juga damai sejahtera di dalam hati, pertumbuhan hidup, dan hubungan yang semakin dekat dengan Tuhan. Dapat hidup di bawah pimpinan dan terang Tuhan sendiri merupakan berkat yang terbesar.
1 Korintus 13:4–7 memperlihatkan kepada kita bahwa kasih yang sejati tidak mementingkan diri sendiri, tidak bersyarat, dan bukan hanya diucapkan dengan mulut. Orang yang benar-benar mengasihi Tuhan akan menyerahkan hatinya kepada Tuhan, menaati Tuhan dalam setiap keadaan, mempraktikkan firman Tuhan dalam kehidupan sehari-hari, serta dengan rela mempersembahkan dirinya demi memuaskan hati Tuhan.
Hari ini, marilah kita dengan tenang bertanya kepada diri sendiri: "Apakah kasihku kepada Tuhan dibangun di atas kasih karunia dan berkat, atau dibangun di atas pengenalan yang sejati dan ketaatan kepada-Nya?"
Semoga kita semua mengejar kasih seperti ini, menjadikan firman Tuhan sebagai hidup kita, belajar mengasihi Tuhan dan menaati Tuhan dalam setiap pengalaman hidup sehari-hari, sehingga pada akhirnya menjadi orang-orang yang berkenan kepada Tuhan, diperkenan oleh Tuhan, dan diberkati oleh Tuhan.