Menu

berikutnya

Firman Tuhan Harian: Mengenal Tuhan | Kutipan 147

529 September 22, 2020

Bagaimana Iblis Menggunakan Pengetahuan untuk Merusak Manusia

Apakah pengetahuan adalah sesuatu yang semua orang anggap sebagai hal yang positif? Paling tidak, orang berpikir bahwa konotasi dari kata "pengetahuan" itu positif, bukan negatif. Jadi, mengapa kita menyebutkan di sini bahwa Iblis menggunakan pengetahuan untuk merusak manusia? Bukankah teori evolusi merupakan sebuah aspek pengetahuan? Bukankah hukum ilmiah Newton adalah bagian dari pengetahuan? Tarikan gravitasi bumi adalah juga bagian dari pengetahuan, bukan? (Ya.) Jadi mengapa pengetahuan tercantum di antara cara yang digunakan Iblis untuk merusak manusia? Bagaimana pandanganmu mengenai hal ini? Apakah pengetahuan mengandung sedikit saja kebenaran di dalamnya? (Tidak.) Lalu apa hakikat pengetahuan? Berdasarkan apa semua pengetahuan yang manusia pelajari? Apakah berdasarkan teori evolusi? Bukankah pengetahuan yang telah manusia dapatkan melalui eksplorasi dan rangkuman kesimpulan didasarkan pada ateisme? Apakah ada dari pengetahuan ini yang berhubungan dengan Tuhan? Apakah pengetahuan ada kaitannya dengan menyembah Tuhan? Apakah pengetahuan berkaitan dengan kebenaran? (Tidak.) Jadi, bagaimana Iblis menggunakan pengetahuan untuk merusak manusia? Kukatakan dengan tegas bahwa tak satu pun dari pengetahuan ini berkaitan dengan menyembah Tuhan atau dengan kebenaran. Sebagian orang berpikir tentang pengetahuan seperti ini: "Pengetahuan mungkin tidak ada hubungannya dengan kebenaran, tetapi pengetahuan juga tidak merusak manusia." Bagaimana pandanganmu mengenai hal ini? Apakah engkau diajarkan oleh pengetahuan bahwa kebahagiaan manusia harus diciptakan oleh kedua tangan mereka sendiri? Apakah pengetahuan mengajarkan kepadamu bahwa nasib manusia ada di tangannya sendiri? (Ya.) Pembicaraan macam apa ini? (Ini omong kosong.) Tepat sekali! Itu hanya omong kosong! Pengetahuan adalah topik yang rumit untuk dibahas. Secara sederhana, bisa kau katakan bahwa sebuah bidang pengetahuan tidak lebih dari pengetahuan. Itu merupakan bidang pengetahuan yang dipelajari atas dasar tidak menyembah Tuhan dan tidak memahami bahwa Tuhan menciptakan segala sesuatu. Ketika orang mempelajari jenis pengetahuan ini, mereka tidak melihat bahwa Tuhanlah yang berkuasa atas segala sesuatu; mereka tidak melihat Tuhan sebagai yang bertanggung jawab atau yang mengelola segala sesuatu. Sebaliknya, yang mereka lakukan hanyalah tanpa henti meneliti dan menyelidiki bidang pengetahuan tersebut, dan mencari jawaban berdasarkan pengetahuan. Namun, bukankah sesungguhnya jika orang tidak percaya kepada Tuhan dan sebaliknya hanya mengusahakan penelitian, mereka tidak akan pernah menemukan jawaban yang benar? Semua pengetahuan hanya dapat memberimu nafkah, pekerjaan, penghasilan sehingga engkau tidak menjadi lapar; tetapi pengetahuan tidak akan pernah membuatmu menyembah Tuhan, dan pengetahuan tidak akan pernah membuatmu jauh dari kejahatan. Semakin engkau mempelajari pengetahuan, semakin engkau akan berhasrat untuk memberontak melawan Tuhan, untuk mempelajari Tuhan, untuk mencobai Tuhan, dan untuk menentang Tuhan. Jadi sekarang, apakah engkau mengerti apa yang diajarkan pengetahuan kepada manusia? Itu semua adalah falsafah Iblis. Apakah falsafah dan aturan bertahan hidup yang disebarluaskan Iblis di antara manusia yang rusak ada hubungannya dengan kebenaran? Semua itu tidak ada hubungannya dengan kebenaran dan, faktanya, justru merupakan kebalikan dari kebenaran. Orang sering berkata: "Hidup adalah gerak" dan "Manusia adalah besi, beras adalah baja, manusia merasa kelaparan jika dia tidak makan"; pepatah macam apa ini? Semua ini kekeliruan dan mendengarnya menimbulkan perasaan muak. Mungkin semua orang memiliki gagasan kasar tentang bagaimana Iblis menggunakan pengetahuan untuk merusak manusia. Dalam apa yang disebut pengetahuan manusia, Iblis telah menanamkan sedikit falsafah hidupnya dan pemikirannya. Dan ketika Iblis melakukan ini, dia membuat manusia mengadopsi pemikiran, falsafah, dan sudut pandangnya sehingga manusia dapat mengingkari keberadaan Tuhan, mengingkari kekuasaan Tuhan atas segala sesuatu dan atas nasib manusia. Jadi, ketika ilmu pengetahuan manusia berkembang dan manusia memahami lebih banyak pengetahuan, dia pun merasa keberadaan Tuhan menjadi tidak jelas dan bahkan mungkin merasa bahwa Tuhan tidak ada. Karena Iblis telah menambahkan sudut pandang, gagasan, dan pemikiran ke dalam pikiran manusia, bukankah manusia itu dirusak selama berlangsungnya proses ini? (Ya.) Apa landasan hidup manusia sekarang? Apakah manusia benar-benar hidup berdasarkan pengetahuan ini? Tidak; manusia mendasarkan hidupnya pada pemikiran, pandangan, dan falsafah Iblis yang tersembunyi dalam pengetahuan ini. Di sinilah terjadinya bagian mendasar perusakan manusia oleh Iblis, inilah tujuan Iblis dan cara yang digunakannya untuk merusak manusia.

Kita akan mulai dengan membahas aspek terdangkal dari pengetahuan. Apakah gramatika dan kata-kata dalam bahasa dapat merusak manusia? Bisakah kata-kata merusak manusia? (Tidak.) Kata-kata tidak merusak manusia; kata-kata adalah alat yang digunakan orang untuk berbicara dan kata-kata juga merupakan alat yang digunakan orang untuk berkomunikasi dengan Tuhan, terutama pada masa sekarang, bahasa dan kata-kata adalah cara yang digunakan Tuhan untuk berkomunikasi dengan manusia. Semua itu adalah alat, dan merupakan kebutuhan. Satu ditambah satu sama dengan dua, dan dua dikali dua sama dengan empat; bukankah ini adalah pengetahuan? Namun, bisakah pengetahuan ini merusakmu? Ini adalah pengetahuan umum—pola yang sudah tetap—sehingga tidak dapat merusak manusia. Jadi, pengetahuan jenis apa yang merusak manusia? Pengetahuan yang merusak adalah pengetahuan yang bercampur dengan sudut pandang dan pemikiran Iblis. Iblis berusaha menanamkan sudut pandang dan pemikiran ini ke dalam pikiran manusia melalui media pengetahuan. Misalnya, dalam sebuah artikel, tidak ada yang salah dengan kata-kata yang tertulis itu sendiri. Masalahnya terletak pada sudut pandang dan niat penulis ketika mereka menuliskan artikel tersebut, juga isi dari pemikiran mereka. Ini adalah hal-hal yang bersifat rohani, dan hal-hal ini dapat merusak manusia. Misalnya, jika engkau sedang menonton acara televisi, hal apa di dalamnya yang dapat mengubah pandangan manusia? Apakah yang dikatakan para pemain, yaitu kata-kata itu sendiri, yang dapat merusak manusia? (Tidak.) Hal-hal seperti apa yang akan merusak manusia? Yang merusak adalah pemikiran inti dan isi dari acara tersebut, yang merepresentasikan pandangan-pandangan sang sutradara. Informasi yang terdapat dalam pandangan ini dapat memengaruhi hati dan pikiran manusia. Bukankah demikian? Sekarang engkau semua tahu apa yang Kumaksudkan dalam pembahasan-Ku tentang Iblis yang menggunakan pengetahuan untuk merusak manusia. Engkau tidak akan salah memahami hal ini, bukan? Jadi kelak ketika engkau membaca novel atau artikel, dapatkah engkau menilai apakah pemikiran yang diungkapkan dalam kata-kata tertulis tersebut merusak manusia ataukah menguntungkan manusia? (Ya, kami dapat melakukannya sedikit demi sedikit.) Ini adalah sesuatu yang harus dipelajari dan dialami dengan tempo lambat, dan ini bukan sesuatu yang mudah dipahami dengan segera. Misalnya, ketika meneliti atau mempelajari suatu bidang pengetahuan, beberapa aspek positif dari pengetahuan itu dapat membantumu memahami beberapa pengetahuan umum mengenai bidang tersebut, sementara pada saat yang sama juga memampukanmu untuk tahu apa yang harus orang hindari. Misalnya, "listrik"—ini adalah bidang pengetahuan, bukan? Bukankah engkau bodoh jika tidak tahu bahwa listrik dapat menyetrum dan melukai manusia? Namun, begitu engkau memahami bidang pengetahuan ini, engkau tidak akan ceroboh untuk menyentuh benda yang dialiri listrik, dan engkau akan tahu bagaimana menggunakan listrik. Ini adalah hal-hal positif. Apakah engkau sekarang mengerti apa yang telah kita bahas mengenai bagaimana pengetahuan merusak manusia? Jika engkau mengerti, kita tidak akan terus membicarakannya lebih lanjut karena ada banyak jenis pengetahuan yang dipelajari di dunia, dan engkau semua harus menyediakan waktumu sendiri untuk membedakannya.

—Firman, Vol. 2, Tentang Mengenal Tuhan, “Tuhan itu Sendiri, Tuhan yang Unik V”

Tinggalkan komentar