Tahukah Engkau? Apa yang harus kita lakukan untuk mengikuti kehendak Tuhan?

Navigasi cepat
1.Apakah bekerja keras demi Tuhan berarti melakukan kehendak Tuhan?
2.Bagaimana kita dapat mengikuti kehendak Tuhan

Tuhan Yesus berkata: "Bukan setiap orang yang memanggil-Ku, Tuhan, Tuhan, yang akan masuk ke dalam Kerajaan Surga; melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di surga" (Matius 7:21). Ayat Alkitab ini menyebutkan bahwa hanya mereka yang melakukan kehendak Tuhan yang dapat memasuki kerajaan surga. Tapi pemahaman sebagian besar saudara dan saudari adalah: mengabdikan diri dan mengorbankan diri untuk Tuhan serta bekerja keras demi-Nya berarti mengikuti kehendak Tuhan, dan dengan melakukan ini, mereka pasti akan dipuji oleh Tuhan dan memasuki kerajaan surga. Ada juga saudara dan saudari yang berpikir bahwa mereka yang dapat meninggalkan sesuatu dan mengorbankan diri untuk Tuhan belum tentu dapat dipuji oleh Tuhan, karena orang-orang Farisi juga bekerja keras untuk Tuhan, tetapi pada akhirnya mereka bergabung dengan pemerintah Romawi untuk meyalibkan Tuhan Yesus di atas kayu salib. Akibatnya, mereka dihukum dan dikutuk oleh Tuhan.

Jadi, apa yang dimaksud dengan "mengikuti kehendak Bapa" yang dikatakan oleh Tuhan Yesus? Apakah bekerja keras demi Tuhan adalah mengikut kehendak Tuhan? Apa yang harus kita lakukan untuk mengikuti kehendak Tuhan? Pertanyaan-pertanyaan ini sangat penting bagi setiap penganut Kristen, karena ini berhubungan secara langsung dengan apakah kita dapat diangkat ke dalam kerajaan surga. Mari kita bersekutu tentang persoalan ini.

Apakah bekerja keras demi Tuhan berarti melakukan kehendak Tuhan?

Demi pekerjaan Tuhan, kita mengabdikan diri sepenuhnya, menanggung kesusahan tanpa takut lelah, dan melakukan pekerjaan Tuhan dengan rajin. Kita bahkan memilih untuk melayani Tuhan sepanjang hidup kita. Kita senang hati dengan melakukan seperti ini, dan telah membayar harga yang sangat besar. Kita mengira bahwa kita sudah memuaskan Tuhan dengan melakukan ini. Sesungguhnya, dengan penerapan-penerapan ini, hanya bisa dikatakan bahwa perilaku lahiriah kita baik. Itu hanya bisa menunjukkan iman kita kepada Tuhan itu benar alih-alih menunjukkan bahwa kita sedang mengikuti kehendak Tuhan, karena mengikuti kehendak Tuhan terutama mengacu pada mengikuti firman Tuhan. Kita semua tahu bahwa para imam kepala, ahli Taurat, dan orang Farisi di Zaman Hukum Taurat melayani Tuhan di bait suci selama bertahun-tahun dan banyak menanggung kesusahan. Untuk memberitakan hukum-hukum Tuhan, mereka melakukan perjalanan ke seluruh lautan dan daratan. Semangat mereka yang menanggung penderitaan dan mengorbankan diri demi Tuhan serta penampilan luar mereka yang saleh tidak tertandingi oleh kita. Berdasarkan gagasan dan imajinasi manusia, orang-orang Farisi harus dipuji oleh Tuhan. Mereka bisa dikatakan adalah orang yang mengikuti kehendak Tuhan. Tetapi Tuhan Yesus berkata: "Celakalah engkau, ahli-ahli Taurat dan orang-orang farisi, orang munafik! Karena engkau melintasi lautan dan daratan untuk menjadikan satu orang bertobat menjadi pengikutmu, tetapi begitu ia bertobat, engkau menjadikannya anak neraka yang dua kali lebih jahat daripada dirimu sendiri. ... Celakalah engkau ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi, orang-orang munafik! Karena engkau seperti kuburan yang dicat putih, yang di luarnya memang kelihatan bagus, tetapi di dalamnya penuh tulang orang mati dan semua kenajisan" (Matius 23: 15 dan 27). Melalui perkataan Tuhan Yesus tentang menghukum dan mengutuk orang-orang Farisi, tidak sulit untuk dilihat bahwa, meskipun orang-orang Farisi menanggung kesusahan dan mengorbankan diri demi Tuhan, meskipun mereka memiliki perilaku lahiriah yang baik, mereka tidak mengikuti firman Tuhan dan menjalankan perintah-perintah Tuhan. Sementara mereka mengangkat Alkitab dan mengkhotbahkan hukum-hukum, mereka membawa orang-orang di bawah nama mereka sendiri. Mereka tampaknya memberitakan hukum dari penampilan luar, tetapi di belakang mereka menggelapkan harta janda itu. Tujuan mereka bekerja keras sama sekali bukan untuk mengasihi dan memuaskan Tuhan. Semua yang mereka lakukan semata-mata untuk memuaskan keinginan mereka untuk mendapatkan status dan ketenaran mereka sendiri. Pada saat itu, pemberitaan Injil Kerajaan Surga oleh Tuhan Yesus dapat dikatakan telah menggemparkan seluruh Israel. Tuhan Yesus dikasihi dan didukung oleh rakyat-rakyat pada waktu itu. Banyak orang pergi mengikuti Tuhan Yesus untuk mendengar khotbah. Bagaimana mungkin orang-orang Farisi yang melayani Tuhan selama bertahun-tahun tidak dapat mendengarkan perkataan Tuhan Yesus adalah suara Tuhan? Mereka tahu benar bahwa kata-kata Tuhan Yesus itu berotoritas dan berkuasa, serta berasal dari Tuhan. Jika dia adalah orang yang tulus percaya kepada Tuhan, dia pasti akan menyambut kedatangan Tuhan Yesus, tetapi apa yang dilakukan oleh orang-orang Farisi? Bila orang Farisi melihat bahwa banyak orang Yahudi menerima Injil Tuhan Yesus, demi mempertahankan status dan mangkuk nasi mereka, mereka tidak hanya tidak mencari dan menyelidiki jalan yang benar, tetapi juga bergabung dengan pemerintah Romawi untuk menyalibkan Tuhan Yesus di atas kayu salib. Mereka membenci kebenaran dan memusuhi Tuhan. Bagaimana mungkin bisa dikatakan bahwa mereka adalah orang yang mengikuti kehendak Tuhan? Dari sini, dapat dilihat bahwa melakukan kehendak Tuhan bukan hanya tentang perilaku lahiriahyang baik, tetapi kuncinya tergantung pada apakah kita menerapkan firman Tuhan dan mengikuti jalan Tuhan, serta apakah niat dan motivasi kita ketika melakukan sesuatu adalah mempertimbangkan kehendak Tuhan dan memuaskan Tuhan. Jika tujuan kita mengorbankan diri dan meninggalkan sesuatu, serta bekerja keras demi Tuhan bukan untuk menerapkan firman Tuhan dan mengikuti jalan Tuhan, melainkan adalah untuk memuaskan keinginan egois kita sendiri dan berdagang dengan Tuhan, maka itu bukan disebut melakukan kehendak Tuhan.

Bagaimana kita dapat mengikuti kehendak Tuhan

Lalu, apa yang harus kita lakukan untuk mengikuti kehendak Tuhan? Kita semua tahu bahwa kehendak Tuhan adalah firman Tuhan, kehendak Tuhan dan tuntutan Tuhan semuanya dinyatakan dalam firman Tuhan. Tuhan mengungkapkannya melalui firman-firman-Nya. Ketika kita melihat firman Tuhan, kita akan memahami persyaratan Tuhan terhadap kita, dan kemudian melakukan dan menerapkan sesuai dengan firman Tuhan. Ini disebut mengikuti kehendak Tuhan. Sebagai contoh, Tuhan Yesus berkata: "Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, Kecuali engkau dipertobatkan, dan menjadi sama seperti anak kecil, engkau tidak akan bisa masuk ke dalam Kerajaan Surga" (Matius 18:3)."Yesus berkata kepadanya, Bukan! Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, tapi tujuh puluh kali tujuh kali" (Matius 18:22), dan lain-lain. Ada tuntutan Tuhan dalam ayat-ayat Alkitab ini. Selama kita merenungkan firman-firman Tuhan Yesus dengan teliti, kita akan menemukan bahwa ada tuntutan dan kehendak Tuhan terhadap umat manusia di dalamnya. Tuhan menuntut kita untuk menghayati kata-kata ini, alih-alih hanya membiarkan kita mengetahuinya saja. Mengikuti kehendak Tuhan semata-mata berarti menerapkan firman Tuhan secara tegas. Marilah kita melihat apakah tuntutan Tuhan Yesus terhadap manusia. Seperti yang dicatat di dalam Alkitab: Yesus berkata kepadanya, "Engkau harus mengasihi Tuhan dengan segenap hatimu dan segenap jiwamu dan segenap pikiranmu. Inilah perintah pertama dan yang terutama. Dan perintah yang kedua, yang sama dengan itu, Engkau harus mengasihi sesamamu manusia seperti diri sendiri" (Matius 22:37-39). "Jika seseorang mengasihi-Ku, ia akan memelihara firman-Ku...Dia yang tidak mengasihi-Ku, tidak memelihara perkataan-Ku" (Yohanes 14:23–24). "Jika engkau tetap berada di dalam firman-Ku, engkau adalah sungguh-sungguh murid-Ku" (Yohanes 8:31). Dari kata-kata Tuhan Yesus, kita dapat melihat bahwa perintah terbesar yang diberikan kepada kita oleh Tuhan di Zaman Kasih Karunia adalah: "Engkau harus mengasihi Tuhan dengan segenap hatimu dan segenap jiwamu dan segenap pikiranmu" (Matius 22:37). Jadi apa yang kita harus lakukan untuk mengasihi Tuhan dengan segenap hati, pikiran, dan jiwa kita? Bagaimana kita bisa mengikuti kehendak Tuhan? Tuhan berfirman "Yesus mampu menuntaskan amanat Tuhan—pekerjaan penebusan seluruh umat manusia—karena Dia memberi perhatian penuh pada kehendak Tuhan, tanpa membuat rencana dan pengaturan apa pun bagi diri-Nya sendiri. Jadi, Dia juga adalah sahabat karib Tuhan—Tuhan itu sendiri—sesuatu yang engkau semua pahami dengan sangat baik. (Sebenarnya, Dia adalah Tuhan itu sendiri yang tentang-Nya Tuhan memberi kesaksian. Aku menyinggungnya di sini untuk menggunakan kenyataan tentang Yesus guna mengilustrasikan perkara tersebut.) Dia mampu menempatkan rencana pengelolaan Tuhan sebagai pusat hidup, dan senantiasa berdoa kepada Bapa Surgawi serta mencari kehendak Bapa Surgawi. ... Dia hidup selama tiga puluh tiga tahun, dan selama itu Dia selalu melakukan yang terbaik untuk memenuhi kehendak Tuhan sesuai dengan pekerjaan Tuhan pada saat itu, tidak pernah memikirkan keuntungan atau kerugian pribadi-Nya sendiri, dan selalu memikirkan kehendak Bapa." Bagian firman Tuhan ini membuat kita mengerti bahwa Tuhan Yesus mampu menaati kehendak Bapa karena Dia memiliki hati yang mengasihi Tuhan. Dia melakukan pelayanan-Nya semata-mata untuk memerhatikan kehendak Tuhan. Dia tidak memiliki rencana atau tuntutan pribadi. Dia juga tidak mempertimbangkan tempat tujuan dan masa depan-Nya sendiri. Dia hanya mau memuaskan kehendak Tuhan. Dari sini dapat dilihat bahwa benar-benar mengikuti kehendak Tuhan adalah melakukan tugas dengan hati yang mengasihi Tuhan; mengikuti kehendak Tuhan adalah mampu menerapkan firman Tuhan dan mematuhi perintah-perintah Tuhan, tanpa niat pribadi; tidak mengejar popularitas dan keuntungan pribadi, serta kedudukan pribadi; tidak melakukan tawar-menawar dengan Tuhan, dan tidak ada keinginan yang berlebihan terhadap Tuhan. Tidak peduli bagaimana Tuhan melakukan pekerjaan-Nya, lingkungan apapun yang Tuhan atur bagi manusia, entah manusia tertimpa penderitaan ataupun ujian, manusia dapat menaati penataan dan pengaturan Tuhan; hidup manusia hanya demi meninggikan dan menyaksikan Tuhan, hanya demi menyelesaikan amanat Tuhan atau mengikuti kehendak Tuhan. Sama seperti Petrus yang mendedikasikan hidupnya kepada Tuhan, tidak peduli apapun hal yang terjadi dalam kehidupannya, dia dapat mencari kehendak Tuhan, dan hidup dengan mengandalkan firman Tuhan—mengkhianati kedagingannya dan menerapkan kebenaran untuk memuaskan Tuhan—melakukan tugasnya dan menggembalakan gereja dengan mengikuti tuntutan Tuhan Yesus secara ketat. Ketika Petrus bekerja dan berkorban demi Tuhan, dia dapat mempertimbangkan kehendak Tuhan. Tidak peduli apapun kesulitan atau pemurnian yang dialami Petrus, dia rela menaati penataan dan pengaturan Tuhan. Bahkan ketika dia menghadapi kematian, dia dapat rela disalibkan terbalik untuk memuaskan Tuhan. Petrus adalah orang yang benar-benar mengasihi Tuhan dan dipuji oleh Tuhan. Dia telah menjadi teladan bagi kita. Contoh lain adalah Ayub, yang dapat takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan. Terlepas dari apakah Tuhan memberikan imbalan kepadanya atau Tuhan mengambil sesuatu darinya, Ayub tidak memiliki keluhan, dia tidak mengadakan pertukaran dengan Tuhan, dia bisa menaati penataan dan pengaturan Tuhan dengan sepenuhnya. Dia juga bisa memuji nama kudus Tuhan. Oleh karena itu, Ayub adalah orang yang lengkap di mata Tuhan. Sama halnya dengan Abraham. Ketika Tuhan meminta Abraham mempersembahkan putra tunggalnya, Ishak sebagai korban bakaran, ketika Tuhan meminta Abraham mengembalikan Ishak kepada Tuhan, hatinya sakit dan sangat menderita, tetapi dia mampu mengikuti kehendak Tuhan dan mempersembahkan kepada Tuhan dengan sukarela tanpa alasan dan keluhan. Apa yang dilakukan Abraham bukan untuk menyenangkan Tuhan dan menerima berkat Tuhan, melainkan untuk menaati Tuhan dan memuaskan kehendak Tuhan. Mereka semua adalah orang yang mengikuti kehendak Tuhan. Terlepas dari bagaimana Tuhan bertindak dan terlepas dari bagaimana Tuhan membuat pengaturan, mereka dapat menaati dan memberikan kesaksian yang bergema dan indah bagi Tuhan. Hanya ini yang disebut sebagai melakukan kehendak Tuhan. Karena itu, melakukan kehendak Tuhan bukan tentang seberapa saleh kita dan seberapa banyak penderitaan yang dialami oleh kita. Kuncinya adalah melihat apakah kita bisa melakukan hal-hal ini ketika kita meninggalkan sesuatu dan mengorbankan diri demi Tuhan—apakah kita dapat menerapkan firman Tuhan, apakah kita melakukan dengan hati yang mengasihi Tuhan, apakah kita memiliki kecemaran dari niat pribadi kita, dan apakah kita bisa mengesampingkan keinginan kita

Ambil saya sebagai contoh. Tidak lama setelah saya percaya pada Tuhan, saya terpilih sebagai penanggung jawab gereja. Saya berterima kasih kepada Tuhan dari lubuk hati saya atas peninggian dan kemurahan hati-Nya. Jadi saya bertekad untuk melakukan tugas saya untuk memuaskan Tuhan. Kemudian, ketika saya mendengar bahwa gereja sedang mengasuh orang-orang yang berbakat, saya ingin melakukan tugas saya dengan sebaik-baiknya supaya para pemimpin di tingkatan atas dapat melihat bahwa saya memiliki kemampuan untuk bekerja. Dengan ini, saya mungkin dapat diangkat untuk melakukan pekerjaan yang lebih penting. Saudara dan saudari saya juga akan memandang tinggi terhadap saya. Dengan ambisi dan keinginan seperti itu, saya berlari-lari ke berbagai gereja dengan penuh antusias. Ketika saya melihat masalah-masalah muncul dalam pekerjaan di gereja tertentu, saya bergegas pergi ke gereja itu untuk memecahkan masalah tersebut. Bagi gereja-gereja yang tidak memiliki hasil dalam pekerjaan, saya akan segera mencari para pemimpin dan pekerja di gereja itu untuk bersekutu tentang kebenaran. Saya tidak berani rileks untuk satu detik pun. Pada siang hari, saya bersekutu dengan saudara-saudari tentang kehendak Tuhan untuk menyelesaikan kesulitan dan masalah mereka. Pada malam hari, saya akan menulis surat kepada setiap gereja untuk memahami situasi mereka. Ketika saya menemukan masalah, saya menyelesaikannya dengan segera tanpa penundaan. Saya tidak merasa lelah sekalipun saya bekerja sampai tengah malam. Saya berpikir bahwa dengan melakukan ini, saya adalah orang yang melakukan kehendak Tuhan dengan melakukan ini, dan setiap pekerjaan gereja pasti akan diberkati oleh Tuhan. Tetapi hal yang tidak pernah saya duga adalah bahwa ketika gereja-gereja melaporkan pekerjaan mereka di akhir bulan, hasil dalama berbagai pekerjaan di gereja-gereja yang dipertanggungjawabkan kepada saya tidak hanya tidak meningkat sebaliknya menurun. Ketika melihat hasil ini, saya sangat pasif, gelap, dan menderita dalam hati saya. Hati saya berpikir bahwa kali ini saya sudah berakhir, dan tugas saya akan sampai penghujung. Saya hanya menunggu untuk diganti. Dalam ketidakberdayaan, saya datang ke hadapan Tuhan untuk berdoa dan mencari. Saya melihat firman Tuhan yang mengatakan: "Tugas adalah pekerjaan yang dipercayakan Tuhan kepada manusia; tugas adalah misi yang harus manusia laksanakan. Namun, sebuah tugas tentu saja bukan bisnis yang engkau kelola secara pribadi, juga bukan merupakan suatu pendukung untuk membuatmu terlihat menonjol di tengah kerumunan Sebagian orang menggunakan tugas mereka sebagai kesempatan untuk terlibat dalam manajemen mereka sendiri dan membentuk kelompok-kelompok tertutup; beberapa untuk memuaskan keinginan mereka; ... Sikap seperti itu terhadap tugas adalah keliru; itu memuakkan bagi Tuhan dan harus segera diselesaikan." "Jadi, Kukatakan kepadamu sekarang dengan serius: Aku tidak peduli seberapa baik kerja kerasmu, seberapa mengesankan kualifikasimu, seberapa dekat engkau mengikuti Aku, seberapa terkenalnya engkau, atau seberapa banyak engkau telah memperbaiki sikapmu; selama engkau belum memenuhi tuntutan-Ku, engkau tidak akan pernah bisa mendapatkan pujian-Ku. Hapus semua gagasan dan perhitunganmu secepat mungkin, dan mulailah memperlakukan tuntutan-Ku dengan serius; jika tidak, Aku akan mengubah semua orang menjadi abu untuk mengakhiri pekerjaan-Ku dan, paling banter membuat pekerjaan yang sudah Kulakukan selama bertahun-tahun dan penuh penderitaan itu menjadi sia-sia, karena Aku tidak bisa membawa musuh-musuh-Ku dan orang yang berbau kejahatan dan berpenampilan seperti Iblis untuk masuk ke dalam kerajaan-Ku, ataupun membawa mereka ke zaman berikutnya." Dari firman Tuhan yang keras, saya menyadari bahwa saya hanya sekadar sibuk dan melakukan pekerjaan dengan rajin ketika melakukan tugas saya. Saya sama sekali tidak menerapkan kebenaran untuk mengkhianati ambisi dan keinginan pribadi saya. Niat saya sama sekali bukan untuk memuaskan kehendak Tuhan, melainkan ingin menggunakan kesempatan melakukan tugas untuk menjadi orang yang unggul. Dikatakan secara terus-terang, saya ingin diangkat untuk menjadi pemimpin yang berkedudukan tinggi, bukankah ini adalah esensi dari penghulu malaikat yang ingin sejajar dengan Tuhan dan merebut kedudukan dengan Tuhan? Bukankah ini adalah jalan yang ditempuh Antikristus? Jika saya selalu membawa niat saya untuk melakukan pekerjaan dan melakukan tugas, dan jika saya menggunakan kesempatan melakukan tugas untuk merebut kedudukan; tidak peduli betapa pun banyak penderitaan yang saya alami, tidak peduli betapa pun besar harga yang saya bayar, sekalipun saya mendapatkan posisi tinggi di antara orang-orang, itu bukan mengikuti kehendak Tuhan sama sekali, melainkan secara murni adalah orang Farisi munafik yang menentang Tuhan, dan harus dihukum dan dikutuk oleh Tuhan pada akhirnya. Saya melihat sebuah perikop firman Tuhan yang mengatakan: "Saat ini aku akan menyampaikan kepadamu suatu strategi sederhana: mulailah dengan menerapkannya dengan cara ini. Begitu engkau telah melakukannya selama beberapa waktu, keadaan di dalammu akan berubah tanpa kausadari." Dari firman Tuhan, saya mengerti bahwa tuntutan Tuhan terhadap kita adalah meminta kita menjadi makhluk ciptaan di bumi. Apa yang harus dilakukan oleh makhluk ciptaan di depan Sang Pencipta adalah menaati pengaturan dan penataan Tuhan, serta melakukan tugas kita dengan segenap hati dan segenap kekuatan untuk memerhatikan kehendak Tuhan. Hanya dengan demikian, kita akan dipimpin oleh pekerjaan Roh Kudus dan mendapatkan pujian Tuhan. Setelah memahami kehendak Tuhan, saya segera datang di hadapan Tuhan untuk mempersembahkan doa pertobatan: "Oh Tuhan, terima kasih atas penyingkapan-Mu, karena telah membuat saya menyadari bahwa niat saya dalam melakukan tugas bukanlah demi mempertimbangkan kehendak-Mu. Saya bersedia bertobat kepada-Mu. Saya bersedia melawan ambisi dan keinginan sendiri, dan menjalankan tugas sebagai makhluk ciptaan dengan jujur. Semoga Tuhan memeriksa hati saya. " Sesudah itu, saya secara sadar dapat mengkhianati niat pribadi saya yang salah, serta menerima penghakiman dan hajaran firman Tuhan. Ketika timbul pikiran yang tidak benar saat saya berpikir bagaimana saya meninggikan dan menyaksikan Tuhan di depan saudara-saudari, saya akan mencari kehendak dan tuntutan Tuhan, dan kemudian melawan niat saya. Setelah saya berusaha untuk satu jangka waktu, hasil dalam semua aspek pekerjaan gereja menjadi lebih baik. Ini membuat saya melihat bahwa saya harus mengesampingkan niat saya yang tidak benar, serta bertindak sesuai dengan firman Tuhan dan persyaratan Tuhan dalam proses melakukan tugas, karena hanya penerapan semacam ini yang disebut mengikuti kehendak Tuhan. Hanya dengan demikian, kita bisa mendapatkan berkat dan bimbingan Tuhan.

Persekutuan tentang "Apakah yang dimaksud dengan mengikuti kehendak Tuhan" dan "Bagaimana kita dapat mengikuti kehendak Tuhan" berakhir di sini. Saya tidak tahu apakah persekutuan di atas dapat memberi Anda bantuan dan manfaat. Jika Anda memiliki apa-apa pertanyaan, kami mengundang Anda berkomunikasi dengan kami melalui WhatsApp dan Messenger!

Share
Read more!
Read more!