Berlangganan

Menu

Petualanganku Di tengah Api Besar

Namaku Li Ai, tahun ini aku berusia 77 tahun. Meskipun aku sudah tua dan memiliki kualitas yang kurang baik, namun Tuhan tidak memandang rendah padaku. Sejak aku percaya kepada Tuhan, aku tahu bahwa hidup kita berasal dari Tuhan, hanya dengan mengikuti dan menyembah Tuhan, maka kita dapat dijaga dan dilindungi oleh Tuhan dan menikmati kedamaian dan kebahagiaan. Apalagi setelah aku mengalami kebakaran yang mengejutkan, aku semakin menyadari bahwa hanya Tuhanlah satu-satunya penopangku...

Aku teringat saat itu di bulan April 2011. Sekitar pukul dua siang, orang-orang di desa kami mulai pergi di ladang untuk bekerja, tetapi tidak disangka tiba-tiba datanglah api yang besar. Saat itu, seorang warga melihat sebuah bola api besar jatuh dari langit dan jatuh tepat di halaman belakang rumah paling barat di desa tersebut, dan diikuti dengan api besar yang menyala dan dalam waktu yang singkat membakar halaman depan. Hari itu, kebetulan angin kencang bertiup dari arah barat ke timur, sehingga api dengan cepat melalap dari rumah yang satu hingga ke rumah yang kedua, dan dalam waktu kurang dari satu jam, seluruh desa hampir berubah menjadi lautan api. Aku melihat di seluruh jalanan penuh dengan api seperti lautan, dan api secara cepat bergulung ke depan. Api naik dari tanah sampai ke atas atap rumah, dan dengan cepat semua tempat terbakar habis menjadi reruntuhan .

Saat itu, ada beberapa penduduk desa lainnya yang mempertaruhkan hidup mereka dan berlari masuk ke rumah mereka serta mengusir ternak mereka keluar dari kandang; ada beberapa yang ingin mengangkut bahan makanan keluar; tetapi sebagian besar penduduk desa tidak bisa masuk sama sekali. Sapi, domba, keledai, dan bagal serta ternak lainnya yang ada di halaman belakang, bahkan alat-alat pertanian terbakar menjadi abu, barang-barang di rumah itu bahkan terbakar habis semua, sungguh pemandangannya yang benar-benar mengerikan! Selain itu, api memblokir semua jalan, sehingga tidak memungkinkan orang untuk lewat. Melihat amukan api yang terus berkobar, hatiku sangat takut, dan merasa bahwa manusia sangat kecil dan rapuh dalam menghadapi bencana! Pada saat itu, tidak peduli seberapa hebatnya seseorang, tidak ada yang bisa dia lakukan, dan hanya bisa membiarkan api terus berkobar.

Dalam waktu singkat, angin kencang yang bertiup dari barat ke timur tiba-tiba berubah arah dan mulai bertiup dari selatan ke utara, sehingga dalam waktu kurang dari beberapa menit, aku melihat api yang berkobar-kobar itu dengan cepat menyebar menuju rumahku. Ketika aku melihat hanya tinggal dua rumah lagi, maka api itu akan membakar rumahku, aku tiba-tiba teringat bahwa masih ada buku-buku tentang firman Tuhan yang tersimpan di rumah, dan hatiku berpikir: Buku-buku firman Tuhan itu bagiku sama pentingnya dengan hidupku! karena itu tidak boleh terbakar oleh api. Melihat api yang terus menyala-nyala, hatiku panik dan tenggorokanku terasa sesak, dan aku bergegas masuk ke dalam rumah untuk memindahkan buku-buku firman Tuhan keluar. Semua Anggota keluarga juga bergegas memasukkan beberapa barang keperluan rumah tangga mereka ke dalam mobil dan bersiap untuk menariknya keluar...

Tetapi, ketika melihat nyala api yang menyebar dengan cepat, dan berpikir bahwa aku masih belum selesai memindahkan buku-buku firman Tuhan , aku merasa cemas. Pada saat kritis ini, aku segera berdoa dan berseru meminta pertolongan Tuhan: "Tuhan Yang Mahakuasa! Tolong selamatkanlah kami! aku tahu bahwa segala sesuatu ada di tangan-Mu. Apakah api ini bisa membakar rumahku atau tidak, ini semuanya tergantung pada-Mu . Ya Tuhan, aku hanya bisa menyerahkan kitab-kitab firman Tuhan kepada-Mu. Kiranya Engkau melindunginya." Setelah aku berdoa, tidak lama kemudian keajaiban terjadi. Angin kencang tidak bertiup ke arah rumahku, dan kobaran api juga tidak sebesar seperti semula. Kemudian, kobaran api menjadi semakin kecil, dan hanya membakar dua rumah sebelum rumahku, dan tidak lagi terus menyebar maju. Aku sangat bersyukur kepada Tuhan. Dari sini aku bisa merasakan otoritas dan perlindungan Tuhan.

Mobil pemadam kebakaran tiba ketika api hampir padam. Sebenarnya, ketika api mulai berkobar, telah ada orang yang memanggil pemadam kebakaran, tetapi tidak tampak mereka datang. Dan menunggu hingga seluruh desa hampir terbakar habis dan nyala api tidak begitu besar, barulah petugas pemadam kebakaran bergegas untuk memadamkan api. Hal ini membuatku melihat bahwa tidak ada gunanya meminta bantuan kepada manusia ketika menghadapi bencana, karena manusia takut mati, bahkan terkadang, manusia sama sekali tidak dapat menyelamatkan sesamanya. Hanya Tuhanlah satu-satunya penopang kita. Ketika menghadapi bencana, kita bisa bertahan hidup bila kita mengandalkan Tuhan. Karena Tuhan adalah penguasa atas segala sesuatu, Tuhan ada di pihak kita. Selama kita berseru dengan tulus hati kepada Tuhan, maka kita akan bisa melihat tangan Tuhan yang menyelamatkan kita.

Dalam bencana kebakaran ini, hanya beberapa rumah di seluruh desa yang tidak terbakar oleh api. Keluargaku adalah salah satunya yang selamat dari bencana. Ada juga salah seorang saudari yang hanya terbakar beberapa batang jagung di halaman belakang rumahnya, namun tidak mengalami kerugian lainnya. Hatiku jelas bahwa ini adalah pemeliharaan dan perlindungan Tuhan bagi kita, sehingga kita bisa terhindar, karena Tuhan pernah berfirman: "Bencana berasal dari-Ku dan tentu saja Akulah yang mengaturnya" (Persiapkan Perbuatan Baik yang Cukup demi Tempat Tujuanmu). Aku tidak bisa berhenti untuk terus mengucapkan pujian di hatiku: "Syukur kepada Tuhan! Terima kasih Tuhan! Tuhan sungguh maha Kuasa dan sangat luar biasa!"

Di dalam kebakaran tersebut, aku melihat bahwa segala sesuatu muncul atau akan lenyap mengikuti kehendak Tuhan. Perubahan arah angin, besar kecilnya nyala api, ... semuanya berada di bawah kendali dan kedaulatan Tuhan. Seperti yang Tuhan Firmankan: "Hati dan roh manusia berada di tangan Tuhan, segala sesuatu dalam kehidupannya berada dalam pengamatan mata Tuhan. Entah engkau memercayainya atau tidak, setiap dan segala hal, apakah hidup atau mati, akan berganti, berubah, diperbarui, dan lenyap sesuai dengan pemikiran Tuhan. Begitulah cara Tuhan memimpin segala sesuatu" (Tuhan adalah Sumber Kehidupan Manusia). "Dari segala sesuatu yang ada di alam semesta, tidak ada satu pun yang mengenainya Aku tidak mengambil keputusan yang terakhir. Apakah ada sesuatu, yang tidak berada di tangan-Ku?" (Bab 1). Firman Tuhan penuh otoritas dan kuasa, membuatku melihat bahwa segala sesuatu dikendalikan dan diatur oleh tangan Tuhan , dan berputar, berubah, atau lenyap sesuai dengan kehendak Tuhan. Sama seperti bencana api ini, bagaimana kemunculannya, seberapa besar kobaran apinya, ke arah manakah api itu berkobar, dan kapan api itu padam, semuanya dikendalikan dan diatur oleh Tuhan, dan tidak ada seorangpun yang bisa menghentikan dan mengendalikannya. Apalagi ketika aku melihat dengan mata kepala sendiri bahwa tinggal dua rumah lagi, maka api yang besar itu akan membakar rumahku, aku berdoa dengan sungguh-sungguh kepada Tuhan, dan secara ajaib Tuhan mengubah arah angin, sehingga angin kencang tidak bertiup ke arah rumahku, dan nyala api juga berangsur-angsur mengecil. Hingga akhirnya, aku dan buku Firman Tuhan, kami semua selamat dan dalam kondisi utuh. Hal ini membuatku benar-benar merasakan kesetiaan Tuhan, serta pemeliharaan, perlindungan, dan kasih Tuhan bagi mereka yang percaya kepada-Nya, dan bahkan merasakan lebih lagi keajaiban dan kemahakuasaan Tuhan. Tanpa disadari aku berpikir tentang Tuhan Yesus dan murid-murid-Nya yang dilanda angin badai di tengah laut. Ketika angin badai itu hendak membalikkan perahu, Tuhan Yesus menghardik angin itu dan air laut serta berkata: "Diam, tenanglah!" (Markus 4:39). maka Angin badai itu berhenti. Hari ini aku juga melihat dengan mata kepala sendiri bahwa nyala api yang berbelok arah itu juga ada di tangan Tuhan. Ini adalah otoritas dan kuasa Tuhan yang unik!

Walaupun kebakaran besar tersebut tidak menimbulkan korban jiwa, namun telah membawa kerugian ekonomi yang cukup besar bagi lebih dari 70 keluarga. Rumah dan tabungan mereka seumur hidupnya serta usaha mereka hangus dilalap api. Ada beberapa orang baru saja membangun rumahnya yang baru,dan membeli perabotan baru. Mereka belum sempat menikmatinya, namun semuanya habis dalam sekejap. Seluruh desa terbakar menjadi porak-poranda, sama sekali tidak dapat dikenali, dan beberapa orang bahkan menjadi tercengang karena kaget. Ketika menghadapi bencana, kita begitu kecil dan tak berdaya. Keluarga kita tidak dapat menyelamatkan kita, dan harta juga tidak dapat menyelamatkan kita. Hanya Tuhanlah satu-satunya penopang kita, dan hanya Tuhan Sang Pencipta yang adalah satu-satunya tempat bernaung sehingga kita bisa bertahan hidup! Hanya dengan mengandalkan Tuhan, maka kita bisa memiliki jalan hidup dan bertahan hidup,ketika menghadapi bencana,seperti yang Tuhan Firmankan: "Akulah satu-satunya keselamatan umat manusia. Akulah satu-satunya harapan umat manusia dan terlebih dari itu, Akulah Dia yang menjadi sandaran keberadaan seluruh umat manusia. Tanpa Aku, umat manusia akan segera terhenti. Tanpa Aku, umat manusia akan menderita malapetaka dan diinjak-injak oleh segala macam roh, meski tidak seorang pun memperhatikan diri-Ku. ... Dalam hal apa pun, Aku berharap engkau semua mempersiapkan perbuatan baik yang cukup demi tempat tujuanmu sendiri. Maka, Aku akan merasa puas; kalau tidak, tak seorang pun di antaramu dapat lolos dari bencana yang akan menimpamu" (Persiapkan Perbuatan Baik yang Cukup demi Tempat Tujuanmu). Tuhan adalah penopang dan perisai kita, terlebih lagi Ia adalah tempat perlindungan dan menara kita yang kuat. Hanya ketika kita datang ke hadapan Tuhan dan menyembah Tuhan, barulah kita bisa lolos dari semua bencana yang melanda dan mendapatkan pemeliharaan dan perlindungan dari Tuhan. Seperti yang dikatakan di alkitab: "Seribu akan jatuh di sisimu, dan sepuluh ribu di sebelah kananmu; tetapi bencana itu tidak akan mendekatimu" (Mazmur 91:7).

Di tengah-tengah bencana api ini, aku benar-benar mengalami kasih Tuhan yang begitu besar dan nyata bagiku! Aku hanya ingin melakukan tugasku sebaik mungkin sebagai makhluk ciptaan di sisa waktu hidupku untuk membalas kasih Tuhan!

Tinggalkan komentar