Berlangganan

Menu

Mengenal Watak Tuhan Dari Sikap Tuhan Terhadap Salomo

Tuhan senang dengan Raja Salomo dan melimpahkan anugerah yang tak tertandingi kepadanya.

Setelah Salomo lahir, ia menerima perkenan Tuhan Yahweh. Seperti yang tertulis dalam Alkitab, "Dan dia mengirim melalui tangan Nabi Natan; dan dia menamakan anak itu Yedija, oleh karena Yahweh. " (2 Samuel 12:25).Ketika dia mulai menjadi raja Israel, dia tidak meminta kekayaan atau umur panjang kepada Tuhan, tetapi meminta hikmat agar dia bisa memerintah kerajaannya dengan lebih baik. Dan terlebih lagi, ia memenuhi keinginan seumur hidup ayahnya, Raja Daud—membangun kuil untuk Tuhan Yahweh dan memimpin orang Israel untuk menyembah Tuhan. Karena itu, Tuhan Yahweh memberinya berkat yang besar. Oleh karena itu, di bawah pemerintahannya, Israel menjadi sangat kuat dan makmur. Jadi, banyak raja dari bangsa-bangsa non-Yahudi datang untuk memberikan banyak harta dan kayu langka kepadanya dan mendengar kata-kata bijaknya, dan dengan demikian dia dikagumi sebagai raja yang paling bijaksana. Ini seperti yang Tuhan Yahweh katakan kepadanya: "Dan jika engkau berjalan di hadapan-Ku, seperti Daud, ayahmu berjalan, dengan ketulusan hati dan kejujuran, melakukan semua yang telah Aku perintahkan kepadamu, dan menuruti ketetapan dan peraturan-Ku. Kemudian Aku akan meneguhkan takhta kerajaanmu di atas Israel untuk selama-lamanya…... " (1 Raja raja 9:4–5).

Tuhan membenci Raja Salomo, yang menyembah berhala, dan Tuhan mengambil kerajaan darinya.

Setelah itu, Salomo menikahi sekitar 1.000 wanita orang bukan Yahudi sebagai selirnya selain putri Firaun. Tuhan Yahweh telah berfirman kepada orang Israel sebelumnya, "Janganlah kamu bergaul dengan mereka, dan mereka juga tidak akan bergaul denganmu, karena pasti mereka akan memalingkan hatimu kepada dewa-dewa mereka. Namun demikian, Salomo terpaut pada cintanya. " (1 Raja-raja 11:2). Namun demikian, Salomo menentang firman Tuhan Yahweh. Selain itu, ketika dia mencapai usia tuanya, dia bahkan menyembah dewa-dewa palsu dari selirnya, dan dia juga membangun altar untuk mereka dan secara pribadi mempersembahkan korban untuk mereka. Tindakannya seperti itu di lihat jahat di mata Tuhan Yahweh. Jadi, Tuhan Yahweh berkata kepadanya, "Karena demikianlah perbuatanmu, dan engkau tidak berpegang pada perjanjian dan segala ketetapan-Ku, yang telah Kuperintahkan kepadamu, Aku pasti akan mengoyakkan kerajaan itu darimu, dan akan memberikannya kepada hambamu " (1 Raja-raja 11:11). Saat dia menyimpang dari Tuhan, yang telah menampakkan diri kepadanya dua kali, dan membuat Tuhan marah, pada akhirnya Tuhan memberikan Israel kepada hamba-Nya Yerobeam dan hanya menyisakan satu suku untuk putranya.

Mengenal Watak Tuhan Dari Sikap Tuhan Terhadap Salomo

Sikap Tuhan terhadap manusia tergantung pada bagaimana manusia memperlakukan Dia.

Tuhan berfirman, "Watak Tuhan adalah esensi dasar-Nya sendiri, yang tidak berubah sama sekali seiring berjalannya waktu, dan juga tidak diubah oleh perubahan lokasi geografis. Watak dasar-Nya adalah esensi intrinsik-Nya. Terlepas dari ke atas siapa Dia sedang melakukan pekerjaan-Nya, esensi-Nya tidak berubah, dan begitu juga dengan watak benar-Nya. Ketika seseorang membuat marah Tuhan, yang akan Dia kirim adalah watak dasar-Nya; pada saat itu, prinsip di balik amarah-Nya tidak berubah, begitu juga dengan identitas dan status unik-Nya. Dia tidak bertambah marah karena perubahan dalam esensi-Nya atau karenaelemen-elemen yang berbeda muncul dari watak-Nya, tetapi karena perlawanan manusia terhadap Dia menyinggung watak-Nya. Provokasi manusia yang terang-terangan terhadap Tuhan adalah tantangan berat bagi identitas dan status Tuhan sendiri. " "Ketika manusia melakukan tindakan jahat dan menyinggung Tuhan, Dia akan menimpakan amarah-Nya kepada mereka. Ketika manusia benar-benar bertobat, hati Tuhan akan berubah, dan amarah-Nya akan reda. Ketika manusia terus dengan keras kepala menentang Tuhan, amarah-Nya tidak akan reda, dan murka-Nya akan terus menekan mereka sedikit demi sedikit sampai mereka hancur. Inilah esensi dari watak Tuhan. Terlepas dari apakah Tuhan mengungkapkan murka atau belas kasih dan kasih setia, tingkah laku, perilaku, dan sikap manusia terhadap Tuhan di lubuk hatinya yang menentukan apa yang diungkapkan lewat pengungkapan watak Tuhan. "

Kata-kata ini memberi kita pemahaman lebih lanjut tentang watak Tuhan. Tuhan itu kudus dan benar, dan substansi-Nya tidak berubah dengan waktu atau lingkungan geografis, juga tidak berubah dengan objek pekerjaan-Nya. Tidak peduli siapa dia, bahkan jika dia sebelumnya disukai oleh Tuhan, sekali dia menyinggung watak Tuhan, Tuhan tidak akan pernah memaafkan pelanggarannya atau memanjakannya. Kita dapat melihat bahwa watak Tuhan itu nyata dan jelas, dan bagaimana Tuhan memperlakukan manusia ditentukan oleh sikapnya terhadap Tuhan. Fakta ini dapat ditegaskan dengan jelas melalui dua sikap berbeda dari Tuhan terhadap Salomo. Ketika Salomo mulai memerintah, dia memiliki hati yang mencari dan hormat di hadapan Tuhan dan dengan sepenuh hati membangun bait suci untuk Tuhan. Pada saat itu, Tuhan senang dengan dia dan memberinya kebijaksanaan serta kemuliaan dan kekayaan, dan bahkan berjanji untuk membiarkan putra dan cucunya memerintah Israel selama beberapa generasi. Namun di usia tuanya, ia mengkhianati Tuhan dan menyembah berhala bersama selirnya. Ini menyinggung Tuhan, jadi Tuhan memberikan sepuluh dari dua belas suku Israel kepada hamba-Nya. Dari sini, kita dapat melihat bahwa Tuhan memperlakukan orang berdasarkan jalan yang mereka jalani. Watak Tuhan tidak hanya penuh belas kasihan, tetapi juga adil dan agung. Tuhan tidak memperlakukan orang berdasarkan emosi. Itulah sebabnya Tuhan tidak mengampuni dosa Salomo karena membangun bait bagi-Nya. Murka Tuhan bukanlah untuk melampiaskan amarah-Nya, tetapi untuk mengusir hal-hal yang gelap dan jahat dan membawa hal-hal yang baik dan positif kepada umat manusia sehingga manusia dapat hidup dalam terang dan di bawah perlindungan Tuhan. Oleh karena itu, hanya ketika kita mengetahui watak Tuhan yang benar dan agung, kita akan mendapatkan hati yang takut akan Tuhan, dan hanya dengan begitu kita tidak akan menyakiti Tuhan dan dengan demikian tidak menerima amarah dan kebencian-Nya. Seperti yang dikatakan Alkitab, "Takut akan Yahweh adalah permulaan hikmat: dan pengenalan akan Yang Kudus adalah pengertian " (Amsal 9:10).

Sedikit Inspirasi

Aku telah mengambil pelajaran dari kisah Salomo: Kita harus mematuhi firman Tuhan dan tetap di jalan takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan, dan kita tidak boleh bertindak sembarangan.

Di masa lalu, kami selalu percaya bahwa Tuhan adalah Tuhan yang berbelas kasih, dan tidak peduli dosa apa yang kami lakukan, Tuhan akan mengampuni kami dan melupakan pelanggaran kami. Namun dari sikap Tuhan terhadap Salomo, kita dapat melihat bahwa kepercayaan kita terlalu dangkal. Tuhan itu adil, jadi Dia tidak mengampuni kita tanpa batas. Seperti yang dikatakan Alkitab, "Karena jika kita dengan sengaja berbuat dosa setelah menerima pengetahuan kebenaran, maka tidak ada lagi korban untuk menghapus dosa itu " (Ibrani 10:26). Kita tahu dengan jelas bahwa ajaran Tuhan Yesus adalah kebenaran. Selama kita mengikuti firman-Nya dalam hidup kita, seperti berusaha menjadi terang dan garam dunia, menjadi orang yang jujur, mengasihi Tuhan dengan segenap hati dan jiwa kita, dan mengagungkan Dia, maka kita akan dapat memperoleh persetujuan Tuhan. Tetapi kegagalan kita untuk mengetahui watak Tuhan yang benar menyebabkan kita tidak memiliki tempat bagi Tuhan di dalam hati kita dan tidak memiliki rasa hormat kepada Tuhan. Akibatnya, kita sering bertentangan dengan ajaran Tuhan. Lalu bagaimana mungkin kita bisa mendapatkan perkenanan Tuhan? Misalnya, saudara dan saudari semua jelas menyadari bahwa, dalam kepercayaan kepada Tuhan, mengejar kekayaan, status dan ketenaran tidak boleh dianggap sebagai tujuan hidup. Tetapi ketika menghadapi godaan tren duniawi yang jahat, beberapa orang menyerah padanya dan mulai mengikuti tren jahat, gagal menghadiri pertemuan secara teratur. Contoh lain, ada yang mendapat kehormatan menjadi pengkhotbah untuk memimpin saudara-saudari. Mereka telah membuat resolusi di hadapan Tuhan untuk menjadi pelayan yang baik dan setia bagi Tuhan dan menggembalakan kawanan domba-Nya dengan baik. Tetapi ketika berkhotbah, mereka tidak pernah meninggikan atau bersaksi tentang Tuhan. Sebaliknya, mereka berbicara tanpa henti tentang berapa banyak penderitaan yang mereka alami dan berapa banyak gereja yang mereka bangun, untuk membuat saudara-saudari menghormati dan menyembah mereka. Akibatnya, orang-orang percaya dibawa ke hadapan diri mereka sendiri dan tidak memiliki tempat bagi Tuhan di hati mereka. Ketika menghadapi hal-hal, mereka tidak berdoa untuk mencari kehendak Tuhan, tetapi pergi untuk bertanya kepada para pengkhotbah. Mereka telah menggantikan Tuhan di dalam hati orang-orang percaya. Bukankah ini lebih menyinggung watak Tuhan? … Semua ini menunjukkan bahwa kita tidak memiliki hati yang takut akan Tuhan dan tidak bertobat setelah mengkhianati ajaran Tuhan. Apa perbedaan antara kita dan Salomo?

Dengan demikian, aku mulai merenungkan jalan yang telah aku ambil. Ketika aku mulai percaya kepada Tuhan, aku dengan antusias berkorban untuk-Nya. Kemudian, aku menjadi seorang pengkhotbah. Pada awalnya, aku berpikir pertumnbuhan imanku kecil, jadi aku akan berhati-hati dan berdoa dan bergantung pada Tuhan ketika melakukan sesuatu, dan akan memberikan semua kemuliaan kepada-Nya ketika pekerjaanku membuahkan hasil. Karena bimbingan Tuhan, aku memiliki banyak pencerahan ketika berkhotbah. Lambat laun, aku ber pikir bahwa aku sudah cukup baik, dan punya modal. Akibatnya, aku tidak lagi memiliki Tuhan di dalam hatiku, dan mulai menentang firman-Nya. Ketika aku berkhotbah, aku tidak bersaksi kepada Tuhan sama sekali, tetapi meninggikan diri sendiri dan bersaksi tentang bagaimana aku dengan setia berkorban untuk-Nya dan penderitaan macam apa yang telah aku alami untuk Dia, bersaing dengan Tuhan, untuk mendapatan posisi saudara dan saudari di hati mereka. Tindakan dan perbuatanku membawa kemuakan Tuhan, jadi aku kemudian merasa gelap dalam jiwaku, tidak memiliki kata-kata untuk diucapkan dalam khotbah, dan kehilangan hadirat-Nya. Kegagalan ini memberiku pengalaman nyata tentang fakta bahwa Tuhan itu suci dan watak-Nya tidak dapat diganggu gugat. Karena itu, aku segera bertobat kepada Tuhan. Sejak saat itu, ketika berkhotbah, aku secara sadar mengungkap dan membedah kerusakanku, dan meninggikan Tuhan dan bersaksi bagi-Nya. Dengan melakukan itu, aku merasa nyaman dan gembira.

Dari semua ini terlihat bahwa, jika kita dapat hidup di hadapan Tuhan, menaati ajaran-Nya, mengamalkan firman-Nya, dan memuaskan serta mencintai-Nya dalam segala hal yang kita lakukan, maka kita akan memperoleh rahmat dan berkah-Nya. Namun, jika kita tidak memiliki rasa takut akan Tuhan, melanggar ajaran-Nya, dan memuaskan keinginan egois kita sendiri dalam segala hal, maka kita pasti akan mendatangkan kebencian-Nya. Kita harus mengambil peringatan dari kegagalan Salomo.

Tinggalkan komentar