Berlangganan

Menu

Jika Hati Manusia dalam permusuhan dengan Tuhan, Bagaimana Manusia Bisa Takut akan Tuhan dan Menjauhi Kejahatan?

Karena orang zaman sekarang tidak memiliki kemanusiaan yang sama seperti Ayub, apa hakikat dari natur mereka, dan sikap mereka terhadap Tuhan? Apakah mereka takut akan Tuhan? Apakah mereka menjauhi kejahatan? Mereka yang tidak takut akan Tuhan atau menjauhi kejahatan hanya bisa disimpulkan dengan dua kata: "musuh Tuhan". Engkau semua sering mengatakan dua kata ini, tetapi engkau semua sama sekali tidak mengetahui makna yang sebenarnya. Frasa "musuh Tuhan" memiliki substansi: frasa tersebut tidak mengatakan bahwa Tuhan memandang manusia sebagai musuh, tetapi manusia memandang Tuhan sebagai musuh. Pertama, ketika orang mulai percaya kepada Tuhan, siapa di antara mereka yang tidak memiliki tujuan, motivasi, dan ambisi mereka sendiri? Meskipun satu bagian dari mereka percaya akan keberadaan Tuhan, dan telah melihat keberadaan Tuhan, kepercayaan mereka kepada Tuhan masih mengandung motivasi tersebut, dan tujuan utama mereka percaya kepada Tuhan adalah untuk menerima berkat-Nya dan hal-hal yang mereka inginkan. Dalam pengalaman hidup manusia, mereka sering memikirkan diri mereka sendiri, aku telah menyerahkan keluarga dan karierku untuk Tuhan, lalu, apa yang telah Dia berikan kepadaku? Aku harus menghitungnya, dan memastikan—sudahkah aku menerima berkat baru-baru ini? Aku telah memberikan banyak hal selama waktu ini, aku telah berlari dan berlari, dan telah banyak menderita—apakah Tuhan memberiku janji-janji sebagai imbalannya? Apakah Dia mengingat perbuatan baikku? Akan seperti apakah akhir hidupku? Bisakah aku menerima berkat-berkat Tuhan? ... Setiap orang selalu membuat perhitungan semacam itu dalam hati mereka, dan mereka mengajukan tuntutan kepada Tuhan yang mengandung motivasi, ambisi, dan mentalitas bertransaksi mereka. Dengan kata lain, dalam hatinya, manusia terus-menerus menguji Tuhan, selalu menyusun rencana tentang Tuhan, dan selalu memperdebatkan kasus untuk tujuan pribadinya sendiri dengan Tuhan, dan mencoba untuk mengeluarkan pernyataan dari Tuhan, melihat apakah Tuhan dapat memberikan kepadanya apa yang dia inginkan atau tidak. Pada saat yang sama ketika mengejar Tuhan, manusia tidak memperlakukan Tuhan sebagai Tuhan. Manusia telah selalu berusaha membuat kesepakatan dengan Tuhan, mengajukan tuntutan kepada-Nya tanpa henti, dan bahkan menekan-Nya di setiap langkah, berusaha meminta lebih banyak setelah diberi sedikit, seperti kata pepatah: diberi hati minta jantung. Pada saat bersamaan saat mencoba bertransaksi dengan Tuhan, manusia juga berdebat dengan-Nya, dan bahkan ada orang-orang yang, ketika ujian menimpa mereka atau mereka mendapati diri mereka berada dalam situasi tertentu, sering kali menjadi lemah, pasif serta kendur dalam pekerjaan mereka, dan penuh keluhan akan Tuhan. Dari waktu saat manusia pertama kali mulai percaya kepada Tuhan, dia telah menganggap Tuhan berlimpah ruah, sama seperti pisau Swiss Army, dan dia menganggap dirinya sendiri sebagai kreditur terbesar Tuhan, seolah-olah berusaha mendapatkan berkat dan janji dari Tuhan adalah hak dan kewajiban yang melekat pada dirinya, sementara tanggung jawab Tuhan adalah melindungi dan memelihara manusia, serta membekalinya. Seperti inilah pemahaman dasar tentang "percaya kepada Tuhan" dari semua orang yang percaya kepada Tuhan, dan seperti inilah pemahaman terdalam mereka tentang konsep kepercayaan kepada Tuhan. Dari hakikat sifat manusia hingga pengejaran subjektifnya, tidak ada satu pun yang berhubungan dengan sikap takut akan Tuhan. Tujuan manusia percaya kepada Tuhan tidak mungkin ada kaitannya dengan penyembahan kepada Tuhan. Dengan kata lain, manusia tidak pernah mempertimbangkan atau memahami bahwa kepercayaan kepada Tuhan membutuhkan takut akan Tuhan dan menyembah Tuhan. Dalam kondisi seperti itu, hakikat manusia mudah terlihat. Apakah hakikat ini? Hati manusia itu jahat, menyimpan pengkhianatan dan kecurangan, tidak mencintai keadilan dan kebenaran, dan hal yang positif, dan hati manusia hina dan serakah. Hati manusia benar-benar tertutup bagi Tuhan; manusia sama sekali tidak memberikan hatinya kepada Tuhan. Tuhan tidak pernah melihat hati manusia yang sejati, dan Dia juga tidak pernah disembah oleh manusia. Seberapa pun besarnya harga yang Tuhan bayar, atau seberapa pun banyaknya pekerjaan yang Dia lakukan, atau seberapa pun banyaknya Dia membekali manusia, manusia tetap buta dan sama sekali tidak peduli terhadap semua itu. Manusia tidak pernah memberikan hatinya kepada Tuhan, dia hanya ingin memikirkan hatinya sendiri, membuat keputusannya sendiri—intinya adalah manusia tidak mau mengikuti jalan takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan, ataupun taat pada kedaulatan dan pengaturan Tuhan, dan dia juga tidak mau menyembah Tuhan sebagai Tuhan. Seperti itulah keadaan manusia saat ini. Sekarang mari kita kembali memperhatikan tentang Ayub. Pertama-tama, apakah dia membuat kesepakatan dengan Tuhan? Apakah dia memiliki motif tersembunyi dalam memegang teguh jalan takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan? Pada waktu itu, pernahkah Tuhan berbicara kepada siapa pun tentang akhir hidup yang akan datang? Pada saat itu, Tuhan tidak pernah berjanji kepada siapa pun tentang akhir hidup, dan dengan latar belakang seperti inilah Ayub dapat untuk takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan. Apakah orang-orang pada zaman sekarang dapat dibandingkan dengan Ayub? Ada terlalu banyak perbedaan; mereka tidak sebanding dengan Ayub. Meskipun Ayub tidak memiliki banyak pengetahuan akan Tuhan, dia telah memberikan hatinya kepada Tuhan dan hatinya adalah milik Tuhan. Ayub tidak pernah membuat kesepakatan dengan Tuhan, dan tidak memiliki keinginan atau tuntutan yang berlebihan terhadap Tuhan; sebaliknya, dia percaya bahwa "Yahweh yang memberi, Yahweh juga yang mengambil". Inilah yang dilihat dan diperolehnya dari berpegang teguh pada jalan takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan selama bertahun-tahun kehidupan. Demikian pula, dia juga mendapatkan hasil yang diwakili dengan kata-kata: "Apakah kita mau menerima yang baik dari tangan Tuhan dan tidak mau menerima yang jahat?" Kedua kalimat ini adalah apa yang telah dia lihat dan ketahui sebagai hasil dari sikap ketaatannya kepada Tuhan selama pengalaman hidupnya, dan semua itu juga merupakan senjata terkuatnya yang dengan menggunakannya dia menang selama pencobaan Iblis, dan semua itu adalah dasar dari keteguhannya dalam menjadi kesaksian bagi Tuhan. Sampai pada titik ini, apakah engkau semua membayangkan Ayub sebagai orang yang menyenangkan? Apakah engkau semua berharap menjadi orang seperti itu? Apakah engkau semua takut jika harus mengalami pencobaan Iblis? Apakah engkau semua bertekad untuk berdoa kepada Tuhan agar engkau semua menerima ujian yang sama seperti Ayub? Tanpa ragu, kebanyakan orang tidak akan berani berdoa untuk hal-hal semacam itu. Jadi, jelaslah bahwa iman engkau semua sangat kecil; dibandingkan dengan Ayub, imanmu tidak layak disebutkan. Engkau semua adalah musuh Tuhan, engkau tidak takut akan Tuhan, engkau tidak mampu berdiri teguh dalam kesaksianmu bagi Tuhan, dan engkau tidak mampu menang atas serangan, tuduhan, dan pencobaan Iblis. Apa yang membuat engkau semua layak untuk menerima janji Tuhan? Setelah mendengar kisah Ayub dan memahami maksud Tuhan dalam menyelamatkan manusia dan makna penyelamatan manusia, apakah engkau semua sekarang memiliki iman untuk menerima ujian yang sama seperti Ayub? Bukankah seharusnya engkau memiliki sedikit tekad untuk membuat dirimu mengikuti jalan takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan?

Dikutip dari "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"

Tinggalkan komentar