Berlangganan

Menu

Nubuat pada akhir zaman telah digenapi, dan Tuhan Yesus telah kembali dengan nama baru

bencana akhir zaman telah munculDua ribu tahun yang lalu, Tuhan Yesus menubuatkan: “Karena bangsa akan bangkit melawan bangsa, dan kerajaan melawan kerajaan: dan akan ada kelaparan, wabah, dan gempa bumi, di berbagai tempat. Semua itu adalah awal dari penderitaan'” (Matius 24:7−8). Dan kitab wahyu menubuatkan “Dan aku melihat saat Ia membuka meterai keenam, dan, lihatlah, ada gempa bumi yang hebat; dan matahari menjadi hitam seperti kain karung dari rambut, dan bulan menjadi semerah darah ….” (Wahyu 6:12) .Dua ayat ini menjelaskan kepada kita tanda-tanda kedatangan Tuhan— semua jenis bencana akan sering terjadi, dan empat bulan darah akan muncul. Sebenarnya, bulan darah pernah muncul pada tahun 2011 dan 2013, dan empat bulan darah berturut-turut berlangsung dari April 2014 hingga September 2015, dengan pandangan langit yang langka — matahari menjadi hitam. Dalam beberapa tahun terakhir, situasi di banyak negara berada dalam kekacauan; serangan teroris terjadi dari waktu ke waktu; kekeringan, gempa bumi, banjir, dan kebakaran terjadi satu demi satu. Pada tahun 2020, bencana menjadi semakin serius. Pneumonia virus corona baru menyebar di seluruh dunia, menyebabkan orang merasa panik. Kebakaran hutan di Australia telah membakar selama beberapa bulan, telah menewaskan ratusan juta hewan dan menyebabkan polusi parah di seluruh dunia; Amerika Serikat dilanda wabah besar flu yang mematikan, yang menyebar ke seluruh negeri; badai salju yang jarang terlihat dalam seabad telah melanda Newfoundland dan Labrador, Kanada, yang menutupi kota-kota dengan salju; Afrika Timur juga telah menderita wabah belalang terburuk dalam 25 tahun terakhir, dan puluhan juta orang menghadapi krisis pangan; Puerto Riko dilanda gempa terkuat dalam 102 tahun; Manila di Filipina telah mengalami letusan gunung berapi yang memicu gempa bumi, dan awan abu vulkanik besar telah menyebar ke seluruh kota; gempa berkekuatan 7,7 telah melanda di Karibia … Munculnya empat bulan darah dan bencana yang sering terjadi memenuhi nubuat kembalinya Tuhan Yesus. Banyak orang percaya merasa bahwa sekarang adalah akhir zaman dan sudah tiba saatnya untuk Tuhan Yesus kembali.

Sekarang banyak orang bersaksi bahwa Tuhan Yesus telah kembali dan Dia telah mengambil nama baru untuk melakukan pekerjaan baru. Menurut ayat-ayat Alkitab, “Yesus Kristus adalah sama kemarin, dan hari ini, dan untuk selama-lamanya” (Ibrani 13:8), “Tidak ada keselamatan dalam diri orang lain; karena tidak ada nama lain di bawah langit yang diberikan kepada manusia, yang olehnya kita bisa diselamatkan” (Kisah Para Rasul 4:12), banyak saudara dan saudari berpikir bahwa Tuhan Yesus tidak akan mengubah nama-Nya, bahwa hanya Dialah Juru Selamat, bahwa hanya dengan nama Tuhan Yesus kita akan diselamatkan, dan bahwa jika kita menerima nama lain, kita mengkhianati Tuhan Yesus. Apakah sudut pandang ini benar? Sekarang mari kita mempersekutukan kebenaran tentang nama-nama Tuhan.

Navigasi cepat
1.Akankah Nama Tuhan Berubah?
2.Makna Tuhan Mengambil Nama yang Berbeda di Zaman Yang Berbeda
3.Menyambut Kedatangan Tuhan dengan Menerima Nama Baru-Nya di Akhir Zaman

Akankah Nama Tuhan Berubah?

Kita berpikir nama Tuhan adalah Yesus dan tidak akan pernah berubah. Benarkah begitu? Apakah nama Tuhan tidak bisa diubah? Mari kita lihat dua ayat ini, “Akulah Yahweh, dan selain Aku tidak ada Juruselamat lain” (Yesaya 43:11). Selanjutnya Tuhan berfirman kepada Musa: “Inilah yang harus engkau katakan kepada anak-anak Israel: Yahweh, Tuhan nenek moyangmu, Tuhan Abraham, Tuhan Ishak, dan Tuhan Yakub, telah mengutus aku kepada engkau: inilah nama-Ku untuk selama-lamanya dan inilah pengingat tentang Aku kepada semua generasi” (Keluaran 3:15).

Dari ayat-ayat ini, kita dapat melihat bahwa nama Tuhan adalah Yahweh di Zaman Hukum Taurat. Kecuali Tuhan Yahweh, tidak ada Juru Selamat selain nama Yahweh untuk selama-lamanya. Tetapi di Zaman Kasih Karunia, mengapa orang menerima Tuhan Yesus sebagai Juruselamat dan berpegang pada nama Tuhan Yesus? sedangkan Alkitab berkata,”Tidak ada keselamatan dalam diri orang lain;karena tidak ada nama lain di bawah langit yang diberikan kepada manusia, yang olehnya kita bisa diselamatkan” (Kisah Para Rasul 4:12). Jika nama Tuhan tidak dapat diubah, lalu mengapa nama Yahweh berubah menjadi Yesus? Mana merupakan satu-satunya nama Tuhan — Yahweh atau Yesus?

Sebenarnya, “semua genarasi” dalam ayat “inilah pengingat tentang Aku kepada semua generasi” berarti bahwa nama-Nya tidak berubah selama zaman tersebut. Dengan kata lain, selama pekerjaan Tuhan di zaman kini belum berakhir, kita harus menjaga nama-Nya di zaman itu, dan hanya dengan melakukan itu kita dapat memperoleh perkenan Tuhan. Ketika Tuhan melakukan pekerjaan di zaman baru, kita harus menerima nama baru-Nya, dan hanya dengan cara ini kita dapat mengikuti langkah Anak Domba dan mendapatkan pekerjaan Roh Kudus. Misalnya, pada Zaman Hukum Taurat, Tuhan mengambil nama Yahweh dan orang-orang pada zaman itu menyimpan nama Yahweh dan tidak dapat menggunakan nama lain. Dan ketika Tuhan menjadi manusia untuk melakukan pekerjaan penebusan dengan nama Yesus, pekerjaan Zaman Hukum Taurat berakhir. Jika orang mempertahankan nama Yahweh dan tidak menerima nama Tuhan Yesus, maka mereka akan ditinggalkan dan dihilangkan oleh pekerjaan Roh Kudus, sehingga jatuh ke dalam kegelapan. Hanya mereka yang menerima nama Tuhan Yesus, seperti Petrus, Yohanes dan murid-murid lainnya, yang menerima pekerjaan Roh Kudus dan keselamatan Tuhan. Ini membuat kita mengerti bahwa nama Tuhan tidak berubah dan itu berubah dengan pekerjaan Tuhan di zaman baru. Namun, tidak peduli bagaimana nama Tuhan berubah, Tuhan tetaplah satu Tuhan, dan hanya sebutan Tuhan yang berbeda. Alkitab berkata, “Yesus Kristus adalah sama kemarin, dan hari ini, dan untuk selama-lamanya” (Ibrani 13:8). Apa arti ayat ini? Sebenarnya, itu berarti bahwa hakikat dan watak Tuhan tidak berubah, dan tidak berarti nama Tuhan tidak akan pernah berubah. Ada bagian firman Tuhan yang menjelaskan ini dengan sangat jelas,“Ada orang yang mengatakan bahwa Tuhan itu tidak berubah. Memang benar, tetapi ini mengacu pada ketidakberubahan watak Tuhan dan hakikat-Nya. Perubahan nama dan pekerjaan-Nya tidak membuktikan bahwa hakikat-Nya berubah. Dengan kata lain, Tuhan selamanya adalah Tuhan dan tidak akan pernah berubah. Jika engkau mengatakan bahwa pekerjaan Tuhan tidak berubah, mungkinkah rencana pengelolaan enam ribu tahun-Nya akan dapat diselesaikan-Nya? Engkau sekadar tahu bahwa Tuhan selamanya tidak berubah, tetapi apakah engkau tahu bahwa Tuhan selalu baru dan tidak pernah tua? Jika pekerjaan Tuhan tidak berubah, dapatkah Dia memimpin umat manusia hingga ke masa sekarang? Jika Tuhan tidak berubah, lalu mengapa Dia telah melakukan pekerjaan dua zaman? … Karena itu, firman “Tuhan selalu baru dan tidak pernah tua” merujuk pada pekerjaan-Nya, dan firman “Tuhan itu tidak berubah” merujuk pada apa yang dimiliki-Nya dan siapa Ia. Terlepas dari itu, engkau tidak dapat membuat pekerjaan enam ribu tahun bergantung pada satu titik, atau membatasinya dengan kata-kata mati. Hal seperti itu merupakan kebodohan manusia. Tuhan tidak sesederhana yang dibayangkan manusia dan pekerjaan-Nya tidak dapat tinggal dalam satu zaman saja. Yahweh, misalnya, tidak dapat selalu merepresentasikan nama Tuhan; Tuhan dapat pula melakukan pekerjaan-Nya dalam nama Yesus. Ini menandakan bahwa pekerjaan Tuhan selalu bergerak maju.” Dikutip dari Visi Pekerjaan Tuhan (3). Dari sini, kita dapat melihat bahwa hakikat dan watak Tuhan tidak berubah tetapi nama Tuhan dapat berubah. Dengan kata lain, Tuhan telah melakukan pekerjaan yang berbeda dan telah mengambil nama-nama yang berbeda di zaman yang berbeda, tetapi terlepas dari apakah nama-Nya adalah Yahweh atau Yesus, substansi-Nya tidak pernah berubah. Dari awal sampai akhir, itu adalah satu Tuhan yang melakukan pekerjaan-Nya. Jika Tuhan mengambil nama baru ketika Dia kembali, kita harus menerima nama baru-Nya, dan itu tidak berarti kita mengkhianati Tuhan Yesus, tetapi berarti kita mengikuti jejak Anak Domba. Ambil contoh orang-orang Farisi dalam Yudaisme. Mereka tidak tahu bahwa nama Tuhan akan berubah seiring berubahnya zaman, sehingga mereka berpikir bahwa hanya Mesias yang menjadi Tuhan dan Juru Selamat mereka. Akibatnya, ketika Tuhan mengubah nama-Nya untuk melakukan pekerjaan penebusan dengan nama Yesus, mereka secara sewenang-wenangnya mengutuk dan melawan Tuhan Yesus, dan akhirnya menyalibkan Dia, melakukan dosa yang sangat berat sehingga dihukum oleh Tuhan pada akhirnya. Kita harus mengambil contoh orang-orang Farisi sebagai peringatan. Kita tidak boleh, menurut gagasan dan imajinasi kita sendiri, menyimpulkan bahwa nama Tuhan tidak akan pernah berubah, apalagi mengatakan nama Tuhan di akhir zaman akan tetap menjadi Yesus; kalau tidak, kita akan membatasi Tuhan.

Rekomendasi terkait:

Makna Tuhan Mengambil Nama yang Berbeda di Zaman Yang Berbeda

Jadi mengapa Tuhan mengambil nama yang berbeda di zaman yang berbeda? Apa maknanya Tuhan mengambil nama yang berbeda? Mari kita membaca bagian firman Tuhan: ““Yahweh” adalah nama yang Aku pakai selama pekerjaan-Ku di Israel, dan yang artinya Tuhan orang Israel (bangsa pilihan Tuhan) yang dapat mengasihani manusia, mengutuk manusia, dan membimbing hidup manusia. Yang artinya Tuhan yang memiliki kuasa besar dan penuh dengan hikmat. “Yesus” adalah Imanuel, dan yang artinya korban penghapus dosa yang penuh kasih, belas kasihan, dan menebus manusia. Ia melakukan pekerjaan Zaman Kasih Karunia, dan mewakili Zaman Kasih Karunia, dan hanya dapat mewakili satu bagian rencana pengelolaan. Dengan kata lain, hanya Yahweh-lah Tuhan umat pilihan Israel, Tuhan Abraham, Tuhan Ishak, Tuhan Yakub, Tuhan Musa, dan Tuhan seluruh bangsa Israel. Begitu pula di zaman sekarang ini, semua orang Israel, selain suku Yehuda, menyembah Yahweh. Mereka mempersembahkan korban kepada-Nya di atas mezbah, dan melayani-Nya dengan mengenakan jubah imam di dalam Bait Suci. Yang mereka harapkan adalah penampakan kembali Yahweh. Hanya Yesus-lah Penebus umat manusia. Dialah korban penghapus dosa yang menebus umat manusia dari dosa. Dengan kata lain, nama Yesus berasal dari Zaman Kasih Karunia, dan ada karena pekerjaan penebusan pada Zaman Kasih Karunia. Nama Yesus ada agar orang-orang pada Zaman Kasih Karunia dapat lahir baru dan diselamatkan, dan merupakan nama teristimewa bagi penebusan seluruh umat manusia. Jadi, nama Yesus mewakili pekerjaan penebusan, dan menandai Zaman Kasih Karunia. Nama Yahweh adalah nama teristimewa bagi bangsa Israel yang hidup di bawah hukum Taurat. Di setiap zaman dan setiap tahap pekerjaan, nama-Ku bukan tanpa dasar, tetapi mengandung makna yang bersifat mewakili: Setiap nama mewakili satu zaman. “Yahweh” mewakili Zaman Hukum Taurat, dan merupakan sebutan kehormatan bagi Tuhan yang disembah oleh bangsa Israel. “Yesus” mewakili Zaman Kasih Karunia, dan merupakan nama Tuhan bagi semua orang yang ditebus selama Zaman Kasih Karunia. Jika manusia masih rindu akan kedatangan Yesus sang Juruselamat pada akhir zaman, dan masih berharap Ia datang dalam citra diri yang dikenakan-Nya di Yudea, maka seluruh rencana pengelolaan enam ribu tahun akan terhenti pada Zaman Penebusan, dan tidak dapat bergerak maju lagi. Selanjutnya, akhir zaman tidak akan pernah datang, dan zaman ini tidak akan pernah berakhir. Itu karena Yesus sang Juruselamat hanya dimaksudkan untuk penebusan dan penyelamatan umat manusia. Aku memakai nama Yesus demi semua orang berdosa di Zaman Kasih Karunia, tetapi itu bukan nama yang akan Aku pakai untuk membawa seluruh umat manusia kepada akhirnya. Meskipun Yahweh, Yesus, dan Mesias semua mewakili Roh-Ku, nama-nama ini hanya menandai zaman-zaman yang berbeda dalam rencana pengelolaan-Ku, dan tidak mewakili Aku seutuhnya. Nama-nama yang dipakai orang-orang di bumi untuk menyebut Aku tidak dapat mengungkapkan watak-Ku secara utuh dan seluruh keberadaan-Ku. Nama-nama itu hanyalah nama-nama panggilan-Ku dalam zaman-zaman yang berbeda. Oleh karena itu, saat zaman terakhir—akhir zaman—tiba, nama-Ku akan berubah lagi. Aku tidak akan dipanggil Yahweh, atau Yesus, apalagi Mesias, tetapi akan disebut Tuhan itu sendiri yang mahakuasa dan berkuasa, dan dengan nama inilah Aku akan membawa seluruh zaman menuju pada akhirnya.”kutipan dari “Mengapa Tuhan Disebut dengan Nama-Nama yang Berbeda di Zaman yang Berbeda?Dikutip dari Juruselamat Telah Datang Kembali di Atas “Awan Putih”. Perikop ini memberitahu kita arti Tuhan mengambil nama yang berbeda di setiap zaman. Nama Tuhan di Zaman Hukum Taurat adalah Yahweh, yang melambangkan pekerjaan yang dilakukan Tuhan di Zaman Hukum Taurat, dan juga mewakili watak yang Dia nyatakan kepada manusia pada zaman itu, yaitu kemegahan, kemurkaan, kutukan, dan belas kasihan. Tuhan Yahweh menyatakan hukum-hukum dan perintah-perintah, yang memungkinkan orang tahu apa itu dosa, dan tahu bagaimana hidup dan menyembah Tuhan di bumi. Mereka yang mematuhi hukum dan perintah dapat diberkati oleh Tuhan, sementara mereka yang melanggar hukum akan dikutuk dan dihukum oleh Tuhan. Karena itu, orang Israel di bawah hukum Taurat secara ketat mematuhi hukum, memuliakan nama Yahweh yang kudus, dan telah hidup di bawah kepemimpinan Tuhan Yahweh selama ribuan tahun. Pada akhir Zaman Hukum Taurat, umat manusia dalam bahaya dihukum mati oleh hukum karena kerusakan mereka bertambah parah, sehingga gagal mematuhi hukum dan perintah, dan tidak memiliki korban untuk dipersembahkan kepada Tuhan. Jadi, untuk menyelamatkan umat manusia, Tuhan memulai Zaman Kasih Karunia, mengambil nama Yesus, dan melakukan pekerjaan penebusan. Dengan kata lain, nama Yesus melambangkan pekerjaan yang dilakukan Tuhan di Zaman Kasih Karunia, dan itu juga melambangkan watak belas kasihan dan kasih setia yang dinyatakan Tuhan di Zaman Kasih Karunia. Tuhan Yesus berlimpah dengan kasih kasihan terhadap manusia, menyediakan jalan pertobatan bagi manusia dan akhirnya disalibkan untuk menebus umat manusia sehingga mereka tidak lagi dihukum mati oleh hukum dan memiliki kesempatan untuk datang ke hadapan Tuhan untuk berdoa dan menikmati rahmat dan berkat-berkat-Nya. Dapat dilihat bahwa Tuhan memiliki nama tetap di setiap zaman, tetapi tidak ada satu nama pun yang dapat sepenuhnya mewakili-Nya. Oleh karena itu, dalam setiap tahap pekerjaan baru, Tuhan akan mengambil nama tertentu, nama yang memiliki makna, untuk mewakili pekerjaan dan watak-Nya di zaman itu. Terlebih lagi, dapat dilihat bahwa Tuhan selalu baru dan tidak pernah tua, dan ketika Tuhan melakukan pekerjaan zaman baru, Dia tidak akan lagi menggunakan nama lama. Hanya ketika kita menerima nama zaman baru Tuhan, kita dapat memperoleh pekerjaan Roh Kudus dan mendapatkan perkenan Tuhan.

Rekomendasi terkait:

Menyambut Kedatangan Tuhan dengan Menerima Nama Baru-Nya di Akhir Zaman

Lalu, akankah Tuhan mengubah nama-Nya ketika Dia kembali? Sebenarnya, beberapa ayat Alkitab sudah memberitahu kita bahwa ketika Tuhan kembali, Dia akan memiliki nama baru, seperti “Dia yang menang akan Kujadikan pilar di dalam bait Suci Tuhan-Ku dan ia tidak akan keluar lagi: dan Aku akan menuliskan padanya nama Tuhan-Ku, dan nama kota Tuhan-Ku, yaitu Yerusalem Baru, yang turun dari sorga dari Tuhan-Ku dan Aku akan menuliskan nama-Ku yang baru padanya” (Wahyu 3:12), “Akulah Alfa dan Omega, Yang Pertama dan Yang Terakhir, firman Tuhan, yang ada sekarang, yang sudah ada, dan yang akan datang, Yang Mahakuasa” (Wahyu 1:8), “Lalu aku mendengar seperti suara kumpulan besar orang banyak dan seperti gemuruh air bah, dan seperti deru guntur yang keras, berkata, Haleluya: karena Tuhan yang mahakuasa memerintah” (Wahyu 19:6), “Dan keempat hewan buas itu masing-masing memiliki enam sayap di sekelilingnya; dan penuh dengan mata di dalamnya: dan mereka tidak beristirahat siang dan malam, berkata, ‘Kudus, kudus, kuduslah, Tuhan Yang Mahakuasa, yang dahulu, sekarang, dan yang akan datang.” (Wahyu 4:8), “Dan kedua puluh empat tua-tua, yang duduk di hadapan Tuhan di atas takhta mereka, tersungkur dan menyembah Tuhan, lalu berkata, Kami bersyukur kepada-Mu, Oh TUHAN Tuhan yang Mahakuasa, yang ada sekarang, yang ada sejak mulanya, dan yang akan datang; karena Engkau telah mengambil bagi-Mu kuasa-Mu yang besar, dan Engkau memerintah” (Wahyu 11:16-17) Dari ayat-ayat Alkitab ini, kita dapat melihat bahwa Tuhan akan memiliki nama baru. Jadi, kita dapat yakin bahwa ketika Tuhan kembali, Dia tidak akan disebut Yesus. Selain itu, kita dapat melihat banyak ayat yang mengatakan bahwa nama Tuhan adalah “Yang Mahakuasa”. Selain ayat-ayat ini, ayat-ayat lain juga menyebutkan Yang Mahakuasa seperti Wahyu 15: 3, Wahyu 16: 7, Wahyu 16:14, Wahyu 21:22, dan seterusnya. Menurut nubuat-nubuat ini, ketika Tuhan Yesus kembali untuk melakukan pekerjaan baru, nama-Nya akan diubah menjadi Yang Mahakuasa. Dan Tuhan akan memulai zaman baru dan mengakhiri pekerjaan-Nya di Zaman Kasih Karunia dengan nama Yang Mahakuasa, sehingga orang-orang akan mengetahui seluruh watak Tuhan dan mengenal nama Yang Mahakuasa yang agung. Jika kita menerima nama baru Tuhan di akhir zaman, itu berarti kita telah menyambut kembalinya Tuhan Yesus.

Sekarang orang-orang dari “Kilat dari Timur” bersaksi bahwa Tuhan Yesus telah kembali dan nama-Nya adalah Tuhan Yang Mahakuasa, yang menggenapi nubuat dalam Wahyu. Dan mereka juga bersaksi bahwa Tuhan Yang Mahakuasa telah mengungkapkan banyak kebenaran dan sedang melakukan pekerjaan penghakiman untuk menyucikan manusia, dan Dia akan mengklasifikasikan setiap orang menurut jenisnya dan memisahkan lalang dari gandum. Mereka yang menerima penghakiman dari firman Tuhan dan ditahirkan menjadi pemenang sebelum bencana dan memasuki kerajaan surga, sementara mereka yang menolak untuk menerima penghakiman dari firman Tuhan akan jatuh ke dalam bencana. Pekerjaan Penghakiman yang dilakukan oleh Tuhan Yang Mahakuasa dengan menggunakan firman-firman juga persis memenuhi nubuat-nubuat ini dalam Alkitab: “Ada banyak hal lain yang bisa Kukatakan kepadamu, tetapi engkau tidak bisa menerima semuanya itu saat ini. Namun, ketika Dia, Roh Kebenaran itu, datang, Dia akan menuntun engkau sekalian ke dalam seluruh kebenaran: karena Dia tidak akan berbicara tentang diri-Nya sendiri; tetapi Dia akan menyampaikan segala sesuatu yang telah didengar-Nya: dan Dia akan menunjukkan hal-hal yang akan datang kepadamu” (Yohanes 16:12-13), “Karena waktunya akan datang penghakiman harus dimulai di rumah Tuhan: dan jika itu pertama kali dimulai pada kita, apakah kesudahan dari mereka yang tidak menaati Injil Tuhan?” (1 Petrus 4:17), “Dia yang menolak Aku dan tidak menerima firman-Ku, sudah ada yang menghakiminya: firman yang Aku nyatakan, itulah yang akan menghakiminya di akhir zaman.”, “Biarlah keduanya tumbuh bersama sampai panen: dan saat panen aku akan berkata kepada para penuai, Kumpulkanlah pertama-tama lalang dan ikatlah dalam beberapa berkas untuk dibakar; tetapi kumpulkanlah gandum ke dalam lumbungku.” (Matius 13:30). Menurut nubuatan Alkitab ini, Tuhan Yang Mahakuasa sangat mungkin adalah Tuhan Yesus yang sudah kembali. Dalam hal menyambut kedatangan Tuhan, kita harus dengan rendah hati mencari dan menyelidiki. Hanya dengan cara ini kita tidak akan melewatkan kesempatan untuk menyambut Tuhan.

Rekomendasi terkait: