Sebagian orang berpikir bahwa percaya kepada Tuhan berarti berkomitmen untuk menghadiri gereja di hari Minggu, memberi persembahan dan beramal, serta menghadiri kegiatan gereja secara teratur. Mereka percaya dengan melakukan hal-hal ini, mereka dapat diselamatkan. Apakah pandangan yang demikian selaras dengan kehendak Tuhan?

Ayat Alkitab untuk Referensi:

"Bukan setiap orang yang memanggil-Ku, Tuhan, Tuhan, yang akan masuk ke dalam Kerajaan Surga; melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di surga. Banyak orang akan berkata kepada-Ku di hari itu kelak, Tuhan, Tuhan, bukankah kami telah bernubuat demi nama-Mu, telah mengusir setan-setan demi nama-Mu, dan melakukan banyak pekerjaan ajaib demi nama-Mu? Saat itu Aku akan menyatakan kepada mereka, Aku tidak pernah mengenalmu: pergilah daripada-Ku, engkau yang melakukan kejahatan" (Matius 7:21-23).

"Kerajaan surga menderita kekerasan dan orang merebutnya dengan kekerasan" (Matius 11:12).

"Sesungguhnya Aku berkata kepadamu, Kecuali engkau dipertobatkan, dan menjadi sama seperti anak kecil, engkau tidak akan bisa masuk ke dalam Kerajaan Surga" (Matius 18:3).

Firman Tuhan yang Relevan:

Meskipun banyak orang percaya kepada Tuhan, hanya sedikit yang memahami apa arti beriman kepada Tuhan, dan apa yang harus mereka lakukan agar sesuai dengan kehendak Tuhan. Hal ini terjadi karena, walaupun orang terbiasa mendengar kata "Tuhan" dan frasa seperti "pekerjaan Tuhan", mereka tidak mengenal Tuhan, apalagi mengetahui pekerjaan-Nya. Maka tak heran jika semua orang yang tidak mengenal Tuhan karut-marut dalam kepercayaan mereka kepadanya. Orang tidak menganggap serius kepercayaan kepada Tuhan, dan ini sepenuhnya karena percaya kepada Tuhan terlalu asing, terlalu aneh bagi mereka. Dengan demikian, mereka gagal memenuhi tuntutan Tuhan. Dengan kata lain, jika orang tidak mengenal Tuhan, dan tidak mengetahui pekerjaan-Nya, mereka tidak layak untuk dipakai Tuhan, apalagi memenuhi kehendak Tuhan. "Percaya kepada Tuhan" berarti percaya bahwa Tuhan itu ada; ini adalah konsep paling sederhana tentang percaya kepada Tuhan. Selain itu, percaya bahwa Tuhan itu ada tidak sama dengan sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan; sebaliknya, ini adalah sejenis keyakinan sederhana dengan nuansa agamawi yang kuat. Iman yang sejati kepada Tuhan berarti sebagai berikut: orang mengalami firman dan pekerjaan-Nya atas dasar kepercayaan bahwa Tuhan memegang kedaulatan atas segala sesuatu, membersihkan watak rusak orang, memenuhi kehendak Tuhan, dan akhirnya mengenal Tuhan. Hanya perjalanan semacam inilah yang disebut "iman kepada Tuhan". Namun orang sering menganggap kepercayaan kepada Tuhan sebagai hal yang sederhana dan tidak penting. Orang-orang yang memercayai Tuhan dengan cara seperti ini telah kehilangan makna percaya kepada Tuhan, dan meskipun mereka mungkin terus percaya sampai akhir, mereka tidak akan pernah mendapatkan perkenanan Tuhan, karena mereka menempuh jalan yang salah. Saat ini, masih ada orang yang percaya kepada Tuhan menurut huruf-huruf yang tertulis, dan dalam doktrin yang kosong. Mereka tidak tahu bahwa mereka tidak memiliki esensi kepercayaan kepada Tuhan, dan mereka tidak dapat menerima perkenanan Tuhan. Mereka tetap berdoa kepada Tuhan meminta berkat keamanan dan anugerah yang cukup. Marilah kita berhenti, menenangkan hati kita, dan bertanya kepada diri kita sendiri: mungkinkah percaya kepada Tuhan benar-benar adalah hal yang termudah di bumi? Mungkinkah percaya kepada Tuhan semata-mata berarti menerima banyak anugerah dari Tuhan? Apakah orang yang percaya kepada Tuhan tanpa mengenal-Nya atau yang percaya kepada Tuhan tetapi menentang-Nya benar-benar bisa memenuhi kehendak Tuhan?

Dikutip dari "Kata Pengantar, Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"

Sebagian orang selalu mengira: "Bukankah percaya kepada Tuhan hanyalah masalah menghadiri pertemuan, menyanyikan lagu, mendengarkan firman Tuhan, berdoa, dan memenuhi beberapa tugas? Bukankah hanya seperti itu?" Tidak peduli berapa lama engkau semua telah percaya kepada Tuhan, engkau semua masih belum memperoleh pemahaman yang menyeluruh tentang makna penting percaya kepada Tuhan. Sebenarnya, makna penting percaya kepada Tuhan sangat mendalam sehingga orang tidak mampu memahaminya. Pada akhirnya, hal-hal di dalam diri manusia yang berasal dari Iblis dan hal-hal dalam natur mereka haruslah berubah dan harus menjadi sesuai dengan tuntutan kebenaran; hanya dengan cara ini orang bisa benar-benar mencapai keselamatan. Jika, seperti dulu ketika engkau beragama, engkau hanya mengucapkan beberapa kata doktrin atau meneriakkan slogan, dan kemudian melakukan beberapa perbuatan baik, menunjukkan sedikit lebih banyak perilaku yang baik dan menahan diri untuk tidak berbuat beberapa dosa, beberapa dosa yang terang-terangan, ini tetap tidak berarti bahwa engkau telah menapakkan kakimu di jalan yang benar dalam kepercayaanmu kepada Tuhan. Apakah mampu mematuhi aturan menunjukkan bahwa engkau sedang berjalan di jalan yang benar? Apakah ini berarti engkau telah memilih dengan benar? Jika hal-hal dalam naturmu belum berubah, dan pada akhirnya engkau masih menentang dan menyinggung Tuhan, ini adalah masalah terbesarmu. Jika, dalam kepercayaanmu kepada Tuhan, engkau tidak menyelesaikan masalah ini, dapatkah engkau dianggap telah diselamatkan? Apa yang Kumaksud dengan mengatakan ini? Aku bermaksud membuat engkau semua mengerti di dalam hatimu bahwa kepercayaan kepada Tuhan tidak dapat dipisahkan dari firman Tuhan, dari Tuhan, atau dari kebenaran. Engkau harus memilih jalanmu dengan baik, berusaha keras mendapatkan kebenaran dan berusaha keras memahami firman Tuhan. Jangan hanya mendapatkan pengetahuan yang tidak lengkap atau memperoleh pemahaman yang hanya setengah-setengah dan kemudian berpikir bahwa itu sudah cukup; jika engkau membodohi dirimu sendiri, engkau hanya akan mencelakakan diri sendiri. Manusia tidak boleh menyimpang dalam kepercayaan mereka kepada Tuhan; pada akhirnya, jika mereka tidak memiliki Tuhan dalam hati dan sekadar memegang sebuah buku dan melihatnya sekilas, tetapi tidak menyediakan ruang bagi Tuhan dalam hati mereka, mereka sudah tamat.

Dikutip dari "Mereka yang Telah Kehilangan Pekerjaan Roh Kudus adalah yang Paling Berisiko" dalam "Rekaman Pembicaraan Kristus Akhir Zaman"

Makna penting percaya kepada Tuhan adalah untuk diselamatkan. Jadi, apa yang dimaksud dengan diselamatkan? "Diselamatkan," "melepaskan diri dari pengaruh gelap Iblis"—orang sering membicarakan tentang topik-topik ini, tetapi mereka tidak tahu apa artinya diselamatkan. Apa artinya diselamatkan? Ini berhubungan dengan kehendak Tuhan. Untuk diselamatkan, berbicara dalam bahasa sehari-hari, berarti engkau dapat terus hidup, dan bahwa engkau dihidupkan kembali. Jadi sebelum itu, apakah engkau mati? Engkau dapat berbicara, dan engkau dapat bernapas, jadi bagaimana bisa dikatakan bahwa engkau sudah mati? (Roh sudah mati.) Mengapa dikatakan bahwa orang sudah mati jika roh mereka mati? Apa dasar dari ungkapan ini? Sebelum diselamatkan, di manakah mereka? (Di bawah wilayah kekuasaan Iblis.) Manusia hidup di bawah pengaruh Iblis. Apa yang mereka andalkan untuk hidup? Mereka hidup dengan mengandalkan natur Iblis dalam diri mereka dan watak rusak mereka. Ketika seseorang hidup dengan hal-hal ini, seluruh keberadaan mereka—daging mereka, dan semua aspek lainnya seperti jiwa dan pikiran mereka—apakah mereka hidup atau mati? Dari sudut pandang Tuhan, mereka mati. Di permukaan, engkau tampak bernafas, dan berpikir, tetapi semua yang selalu engkau pikirkan adalah kejahatan; engkau memikirkan hal-hal yang bertentangan dengan Tuhan dan yang melawan Tuhan, hal-hal yang tidak disukai, dibenci, dan dikutuk Tuhan. Di mata Tuhan, semua hal ini bukan saja milik daging, tetapi juga sepenuhnya milik Iblis dan setan. Jadi, apakah manusia itu di mata Tuhan? Apakah mereka manusia? Bukan, mereka bukan manusia. Tuhan melihat mereka sebagai setan, sebagai binatang, dan sebagai Iblis yang hidup! Manusia hidup dengan esensi Iblis, dan di mata Tuhan, mereka adalah Iblis hidup yang mengenakan daging manusia. Tuhan mendefinisikan manusia seperti ini sebagai mayat berjalan; sebagai orang mati. Tuhan melakukan pekerjaan penyelamatan-Nya saat ini untuk mengambil manusia seperti ini—mayat berjalan yang hidup dengan watak iblis mereka yang rusak dan dengan esensi iblis mereka yang rusak—Dia mengambil orang-orang yang disebut orang mati ini dan mengubah mereka menjadi orang hidup. Inilah artinya diselamatkan.

Tujuan percaya kepada Tuhan adalah untuk memperoleh keselamatan. Diselamatkan berarti bahwa engkau berubah dari orang mati menjadi orang hidup. Artinya, nyawamu dihidupkan kembali, dan engkau hidup, engkau dapat mengenal Tuhan, dan engkau dapat sujud menyembah-Nya. Di dalam hatimu, engkau tidak lagi melawan Tuhan; engkau tidak lagi menentang Dia, menyerang-Nya, atau memberontak terhadap-Nya. Hanya orang-orang seperti ini yang benar-benar hidup di mata Tuhan. Jika seseorang hanya mengatakan bahwa mereka mengakui Tuhan dan percaya dalam hati mereka bahwa Tuhan itu ada, apakah mereka kemudian termasuk orang yang hidup atau bukan? (Bukan, mereka bukan orang yang hidup.) Jadi, orang seperti apa orang yang hidup itu? Kenyataan seperti apa yang dimiliki orang yang hidup? Setidaknya, orang hidup dapat berbicara bahasa manusia. Apa artinya? It berarti kata-kata yang mereka katakan melibatkan gagasan, pikiran dan pemahaman. Hal-hal apa yang sering kali dipikirkan dan dilakukan orang yang hidup? Mereka mampu terlibat dalam kegiatan manusia, dan memenuhi tugas mereka. Apa natur dari hal-hal yang mereka lakukan dan katakan? Segala sesuatu yang mereka ungkapkan, segala yang mereka pikirkan, dan segala sesuatu yang mereka lakukan dilakukan dengan natur yang takut akan Tuhan dan menjauhi kejahatan. Lebih tepatnya, setiap perbuatan dan pikiranmu tidak dikutuk oleh Tuhan atau dibenci dan ditolak oleh Tuhan, melainkan diperkenan dan dipuji oleh Tuhan. Inilah yang dilakukan orang hidup, dan juga apa yang harus dilakukan oleh orang yang hidup.

Dikutip dari "Hanya Benar-benar Taat yang Merupakan Kepercayaan yang Sesungguhnya" dalam "Rekaman Pembicaraan Kristus Akhir Zaman"

Kehidupan rohani yang normal tidak terbatas pada praktik-praktik seperti berdoa, menyanyikan lagu pujian, berpartisipasi dalam kehidupan bergereja, serta makan dan minum firman Tuhan. Sebaliknya, kehidupan rohani yang normal adalah hidup dalam kehidupan rohani yang baru dan penuh semangat. Yang penting bukanlah cara engkau mempraktikkannya, melainkan buah yang dihasilkan dari penerapanmu. Sebagian besar orang mengira bahwa kehidupan rohani yang normal tentunya melibatkan doa, menyanyikan lagu pujian, makan dan minum firman Tuhan, atau merenungkan firman-Nya, tanpa menghiraukan apakah praktik-praktik tersebut benar-benar memiliki efek atau menuntun pada pemahaman yang benar. Orang-orang ini berfokus pada mengikuti tata cara yang dangkal tanpa sedikit pun memikirkan hasilnya; mereka adalah orang-orang yang hidup dalam ritual keagamaan, bukan orang-orang yang hidup di dalam gereja, apalagi umat kerajaan. Doa, menyanyikan lagu pujian, serta makan dan minum firman Tuhan yang mereka lakukan semuanya sekadar mengikuti aturan, dilakukan karena keharusan dan sekadar mengikuti tren, bukan dilakukan dengan sukarela, juga bukan dari hati. Sebanyak apa pun orang-orang ini berdoa atau menyanyikan pujian, upaya mereka tidak akan membuahkan hasil, karena yang mereka lakukan hanyalah menjalankan aturan dan ritual keagamaan; mereka tidak benar-benar melakukan firman Tuhan. Mereka hanya berfokus menyibukkan diri tentang bagaimana cara mereka menerapkan, dan mereka memperlakukan firman Tuhan sebagai aturan untuk diikuti. Orang-orang semacam ini tidak menerapkan firman Tuhan; mereka sekadar memuaskan daging, dan melakukan banyak hal untuk pamer kepada orang lain. Ritual dan aturan keagamaan ini semuanya berasal dari manusia, bukan berasal dari Tuhan. Tuhan tidak mengikuti aturan, juga tidak tunduk pada hukum apa pun. Sebaliknya, Dia melakukan hal baru setiap hari dan melakukan pekerjaan yang nyata. Seperti halnya jemaat di Gereja Tiga Pendirian, yang membatasi diri mereka dengan praktik-praktik ibadah seperti menghadiri ibadah pagi setiap hari, menaikkan doa malam dan doa ucapan syukur sebelum makan, dan mengucap syukur dalam segala hal—sebanyak apa pun mereka melakukannya, atau seberapa pun lamanya mereka melakukan itu, mereka tidak akan memiliki pekerjaan Roh Kudus. Ketika orang-orang hidup di tengah berbagai aturan, dengan hati yang tertuju pada metode penerapan, Roh Kudus tidak dapat bekerja, karena hati mereka dikuasai oleh aturan-aturan dan gagasan manusia. Dengan demikian, Tuhan tidak dapat mengintervensi dan tidak dapat bekerja dalam diri mereka, dan mereka hanya dapat terus hidup di bawah kendali hukum Taurat. Orang-orang semacam ini tidak akan pernah bisa mendapatkan pujian dari Tuhan selamanya.

Dikutip dari "Tentang Kehidupan Rohani yang Normal" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"

Karena engkau percaya kepada Tuhan, engkau harus makan dan minum firman-Nya, mengalami firman-Nya, dan hidup dalam firman-Nya. Hanya ini yang bisa disebut percaya kepada Tuhan! Jika engkau mengatakan percaya kepada Tuhan dengan mulutmu tetapi tidak dapat menerapkan apa pun dari firman-Nya atau menghasilkan kenyataan apa pun, ini tidak bisa disebut percaya kepada Tuhan. Sebaliknya, itu hanya "mencari roti untuk memuaskan rasa lapar." Hanya bicara tentang kesaksian yang sepele, hal-hal yang tidak berguna, dan persoalan yang dangkal, tanpa memiliki sedikit pun realitas: ini bukan merupakan kepercayaan kepada Tuhan, dan engkau sama sekali belum memahami cara yang benar untuk percaya kepada Tuhan. Mengapa engkau harus makan dan minum sebanyak mungkin firman Tuhan? Jika engkau tidak makan dan minum firman-Nya tetapi hanya berusaha naik ke surga, apakah itu disebut percaya kepada Tuhan? Apa langkah pertama yang harus dilakukan oleh orang yang percaya kepada Tuhan? Dengan jalan apakah Tuhan menyempurnakan manusia? Bisakah engkau disempurnakan tanpa makan dan minum firman Tuhan? Dapatkah engkau dianggap sebagai warga kerajaan tanpa firman Tuhan yang berfungsi sebagai realitasmu? Apa sebenarnya makna percaya kepada Tuhan? Orang-orang percaya di dalam Tuhan setidaknya harus berperilaku baik secara lahiriah; yang paling penting dari semuanya adalah memiliki firman Tuhan. Apa pun yang terjadi, engkau tidak pernah bisa berpaling dari firman-Nya. Mengenal Tuhan dan memenuhi maksud-Nya semua dicapai melalui firman-Nya. Di masa depan, setiap bangsa, denominasi, agama, dan sektor akan ditaklukkan melalui firman Tuhan. Tuhan akan berfirman secara langsung, dan semua orang akan memegang firman Tuhan dalam tangan mereka; dan dengan cara ini, umat manusia akan disempurnakan. Di dalam dan di luar, firman Tuhan meliputi seluruhnya: umat manusia akan mengucapkan firman Tuhan dengan mulut mereka, melakukan penerapan sesuai dengan firman Tuhan, dan menyimpan firman Tuhan di dalam batin mereka, tetap mendalami firman Tuhan baik secara batiniah maupun lahiriah. Dengan demikian, manusia akan disempurnakan. Mereka yang memenuhi maksud Tuhan dan mampu menjadi saksi bagi-Nya adalah orang-orang yang memiliki firman Tuhan sebagai realitas mereka.

Dikutip dari "Zaman Kerajaan adalah Zaman Firman" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"

Apa yang dimaksud dengan kepercayaan yang sejati kepada Tuhan sekarang ini? Itu adalah penerimaan terhadap firman Tuhan sebagai kehidupan kenyataanmu dan mengenal Tuhan dari firman-Nya untuk mencapai kasih sejati kepada-Nya. Lebih jelasnya: kepercayaan kepada Tuhan adalah agar engkau bisa menaati Tuhan, mengasihi-Nya, dan melakukan tugas yang seharusnya dilakukan oleh makhluk ciptaan Tuhan. Inilah tujuan percaya kepada Tuhan. Engkau harus mencapai pengetahuan tentang keindahan Tuhan, tentang betapa Tuhan layak untuk dihormati, tentang bagaimana Tuhan melakukan pekerjaan keselamatan dalam diri semua makhluk ciptaan dan menyempurnakan mereka—inilah inti dari kepercayaanmu kepada Tuhan. Kepercayaan kepada Tuhan pada dasarnya adalah peralihan dari hidup dalam daging kepada hidup yang mengasihi Tuhan; dari hidup dalam kerusakan menjadi hidup dalam firman Tuhan; ini berarti keluar dari wilayah kekuasaan Iblis dan hidup di bawah pemeliharaan dan perlindungan Tuhan; ini berarti mampu mencapai ketaatan kepada Tuhan dan bukan ketaatan kepada daging; ini berarti mengizinkan Tuhan mendapatkan seluruh hatimu, mengizinkan Tuhan menyempurnakanmu, dan membebaskan dirimu sendiri dari watak jahat yang rusak. Kepercayaan kepada Tuhan pada prinsipnya adalah agar kuasa dan kemuliaan Tuhan termanifestasi dalam dirimu, sehingga engkau bisa melakukan kehendak Tuhan, dan menyelesaikan rencana Tuhan, dan bisa menjadi kesaksian bagi Tuhan di hadapan Iblis. Kepercayaan kepada Tuhan seharusnya tidak berputar di sekitar keinginan untuk melihat tanda dan mukjizat, ataupun untuk kepentingan dagingmu sendiri. Kepercayaan itu seharusnya tentang pengejaran pengenalan akan Tuhan, dan mampu menaati Tuhan, dan sama seperti Petrus, menaati Dia sampai mati. Inilah tujuan utama percaya kepada Tuhan. Orang makan dan minum firman Tuhan supaya mengenal Tuhan dan memuaskan Dia. Makan dan minum firman Tuhan memberimu pengenalan yang lebih besar tentang Tuhan, dan baru setelah itulah engkau mampu menaati Dia. Dengan pengenalan akan Tuhan barulah engkau bisa mengasihi Dia, dan inilah tujuan yang manusia harus miliki dalam kepercayaannya kepada Tuhan. Jika, dalam kepercayaanmu kepada Tuhan, engkau selalu berusaha melihat tanda dan mukjizat, artinya cara pandang kepercayaan ini salah. Kepercayaan kepada Tuhan pada prinsipnya adalah penerimaan terhadap firman Tuhan sebagai kehidupan kenyataan. Tujuan Tuhan hanya dicapai dengan melakukan firman Tuhan yang keluar dari mulut-Nya dan melaksanakannya di dalam dirimu. Dalam memercayai Tuhan, manusia harus berjuang untuk disempurnakan oleh Tuhan, mampu tunduk kepada Tuhan, dan taat sepenuhnya kepada Tuhan. Jika engkau mampu menaati Tuhan tanpa keluhan, memperhatikan kerinduan Tuhan, mencapai tingkat pertumbuhan seperti Petrus, dan memiliki sikap Petrus yang dikatakan oleh Tuhan, itulah saatnya ketika engkau telah mencapai keberhasilan dalam kepercayaan kepada Tuhan, dan itu akan menandakan bahwa engkau telah didapatkan oleh Tuhan.

Dikutip dari "Segala Sesuatu Terlaksana oleh Firman Tuhan" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"

Engkau harus tahu orang-orang macam apa yang Aku inginkan; mereka yang tidak murni tidak diizinkan masuk ke dalam kerajaan, mereka yang tidak murni tidak diizinkan mencemarkan tanah yang kudus. Meskipun engkau mungkin sudah melakukan banyak pekerjaan, dan telah bekerja selama bertahun-tahun, pada akhirnya, jika engkau masih sangat kotor, maka menurut hukum Surga tidak dapat dibenarkan jika engkau berharap dapat masuk ke dalam kerajaan-Ku! Semenjak dunia dijadikan sampai saat ini, tak pernah Aku menawarkan jalan masuk yang mudah ke dalam kerajaan-Ku kepada orang-orang yang menjilat untuk mendapatkan perkenanan-Ku. Ini adalah peraturan surgawi, dan tak seorang pun dapat melanggarnya! Engkau harus mencari hidup. Sekarang ini, orang-orang yang disempurnakan adalah mereka yang sejenis dengan Petrus. Mereka adalah orang-orang yang mengusahakan perubahan pada wataknya sendiri, dan bersedia menjadi kesaksian bagi Tuhan serta melaksanakan tugasnya sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Hanya orang-orang seperti inilah yang akan disempurnakan. Jika engkau hanya mencari upah, dan tidak berusaha mengubah watak hidupmu sendiri, maka semua upayamu akan sia-sia—ini adalah kebenaran yang tak dapat diubah!

Dikutip dari "Keberhasilan atau Kegagalan Tergantung pada Jalan yang Manusia Jalani" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"

Share
Read more!
Read more!