Berlangganan

Menu

Prinsip-Prinsip Percaya kepada Tuhan

(1) Penting untuk mengalami dan tunduk pada pekerjaan Tuhan dari suatu dasar keyakinan bahwa Tuhan menciptakan segala sesuatu dan berdaulat atas segala sesuatu. Dengan demikian barulah orang dapat memperoleh penyelamatan;

(2) Penting untuk menganggap makan dan minum firman-Nya sebagai hal yang paling penting, dan tunduk pada penghakiman dan hajaran, ujian dan pemurnian, serta pemangkasan dan penanganan Tuhan, agar dapat dimurnikan dari kerusakan;

(3) Dalam mengalami pekerjaan Tuhan, adalah penting untuk melaksanakan dengan baik tugas sebagai makhluk ciptaan, sampai memiliki suatu pemahaman mengenai kebenaran dan jalan masuk ke dalam kenyataan, dan mampu menjadi kesaksian yang benar;

(4) Untuk memperoleh penyelamatan dan disempurnakan, adalah penting untuk mengejar kebenaran dan mendapatkan kesempurnaan pekerjaan Roh Kudus. Dengan demikian barulah orang dapat sungguh-sungguh melayani Tuhan dan bersaksi tentang Dia.

Prinsip-Prinsip Percaya kepada Tuhan

Firman Tuhan yang Relevan:

Meskipun banyak orang percaya kepada Tuhan, hanya sedikit yang memahami apa arti beriman kepada Tuhan, dan apa yang harus mereka lakukan agar sesuai dengan kehendak Tuhan. Hal ini terjadi karena, walaupun orang terbiasa mendengar kata "Tuhan" dan frasa seperti "pekerjaan Tuhan", mereka tidak mengenal Tuhan, apalagi mengetahui pekerjaan-Nya. Maka tak heran jika semua orang yang tidak mengenal Tuhan karut-marut dalam kepercayaan mereka kepadanya. Orang tidak menganggap serius kepercayaan kepada Tuhan, dan ini sepenuhnya karena percaya kepada Tuhan terlalu asing, terlalu aneh bagi mereka. Dengan demikian, mereka gagal memenuhi tuntutan Tuhan. Dengan kata lain, jika orang tidak mengenal Tuhan, dan tidak mengetahui pekerjaan-Nya, mereka tidak layak untuk dipakai Tuhan, apalagi memenuhi kehendak Tuhan. "Percaya kepada Tuhan" berarti percaya bahwa Tuhan itu ada; ini adalah konsep paling sederhana tentang percaya kepada Tuhan. Selain itu, percaya bahwa Tuhan itu ada tidak sama dengan sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan; sebaliknya, ini adalah sejenis keyakinan sederhana dengan nuansa agamawi yang kuat. Iman yang sejati kepada Tuhan berarti sebagai berikut: orang mengalami firman dan pekerjaan-Nya atas dasar kepercayaan bahwa Tuhan memegang kedaulatan atas segala sesuatu, membersihkan watak rusak orang, memenuhi kehendak Tuhan, dan akhirnya mengenal Tuhan. Hanya perjalanan semacam inilah yang disebut "iman kepada Tuhan".

Dikutip dari "Kata Pengantar, Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"

Kepercayaan yang benar kepada Tuhan bukanlah tentang percaya kepada-Nya agar diselamatkan, apalagi tentang menjadi orang yang baik. Kepercayaan yang benar itu juga bukan semata-mata tentang percaya kepada Tuhan agar memiliki keserupaan dengan manusia. Pada kenyataannya, manusia seharusnya tidak melihat iman semata-mata sebagai kepercayaan bahwa Tuhan itu ada; iman itu bukan semata-mata engkau perlu percaya bahwa Tuhan adalah jalan, kebenaran dan hidup, dan tidak lebih dari itu. Demikian pula iman itu bukan semata-mata agar engkau mengakui Tuhan dan memercayai bahwa Tuhan adalah Penguasa atas segala sesuatu, bahwa Tuhan itu mahakuasa, bahwa Tuhan menciptakan segala sesuatu di dunia, bahwa Tuhan itu unik dan mahatinggi. Iman bukan semata-mata menghendaki engkau memercayai fakta-fakta ini. Kehendak Tuhan adalah agar seluruh hati dan keberadaanmu harus diserahkan kepada Tuhan dan tunduk kepada Tuhan; artinya, engkau harus mengikuti Tuhan, mengizinkan Tuhan memakai dirimu, dengan senang hati melakukan pelayanan bagi-Nya, dan engkau harus melakukan apa pun bagi Tuhan. Bukan berarti hanya orang-orang yang telah Tuhan tentukan dari semula dan Tuhan pilih yang harus percaya kepada-Nya. Sebenarnya, semua manusia harus menyembah Tuhan, memperhatikan Dia, dan menaati-Nya, karena manusia diciptakan oleh Tuhan. Ini sekarang menyentuh masalah esensi. Jika engkau selalu berkata, "Bukankah kita percaya kepada Tuhan untuk mendapatkan hidup kekal? Bukankah kita percaya kepada Tuhan untuk diselamatkan?" seakan-akan kepercayaanmu kepada Tuhan adalah seperti sesuatu yang lahiriah, percaya hanya untuk mendapatkan sesuatu, maka ini bukanlah pandangan yang seharusnya engkau miliki tentang kepercayaanmu kepada Tuhan.

Dikutip dari "Hanya Pengejaran Kebenaran merupakan Kepercayaan yang Sejati kepada Tuhan" dalam "Rekaman Pembicaraan Kristus"

Apa yang dimaksud dengan kepercayaan yang sejati kepada Tuhan sekarang ini? Itu adalah penerimaan terhadap firman Tuhan sebagai kehidupan kenyataanmu dan mengenal Tuhan dari firman-Nya untuk mencapai kasih sejati kepada-Nya. Lebih jelasnya: kepercayaan kepada Tuhan adalah agar engkau bisa menaati Tuhan, mengasihi-Nya, dan melakukan tugas yang seharusnya dilakukan oleh makhluk ciptaan Tuhan. Inilah tujuan percaya kepada Tuhan. Engkau harus mencapai pengetahuan tentang keindahan Tuhan, tentang betapa Tuhan layak untuk dihormati, tentang bagaimana Tuhan melakukan pekerjaan keselamatan dalam diri semua makhluk ciptaan dan menyempurnakan mereka—inilah inti dari kepercayaanmu kepada Tuhan. Kepercayaan kepada Tuhan pada dasarnya adalah peralihan dari hidup dalam daging kepada hidup yang mengasihi Tuhan; dari hidup dalam kerusakan menjadi hidup dalam firman Tuhan; ini berarti keluar dari wilayah kekuasaan Iblis dan hidup di bawah pemeliharaan dan perlindungan Tuhan; ini berarti mampu mencapai ketaatan kepada Tuhan dan bukan ketaatan kepada daging; ini berarti mengizinkan Tuhan mendapatkan seluruh hatimu, mengizinkan Tuhan menyempurnakanmu, dan membebaskan dirimu sendiri dari watak jahat yang rusak. Kepercayaan kepada Tuhan pada prinsipnya adalah agar kuasa dan kemuliaan Tuhan termanifestasi dalam dirimu, sehingga engkau bisa melakukan kehendak Tuhan, dan menyelesaikan rencana Tuhan, dan bisa menjadi kesaksian bagi Tuhan di hadapan Iblis. Kepercayaan kepada Tuhan seharusnya tidak berputar di sekitar keinginan untuk melihat tanda dan mukjizat, ataupun untuk kepentingan dagingmu sendiri. Kepercayaan itu seharusnya tentang pengejaran pengenalan akan Tuhan, dan mampu menaati Tuhan, dan sama seperti Petrus, menaati Dia sampai mati. Inilah tujuan utama percaya kepada Tuhan. Orang makan dan minum firman Tuhan supaya mengenal Tuhan dan memuaskan Dia. Makan dan minum firman Tuhan memberimu pengenalan yang lebih besar tentang Tuhan, dan baru setelah itulah engkau mampu menaati Dia. Dengan pengenalan akan Tuhan barulah engkau bisa mengasihi Dia, dan inilah tujuan yang manusia harus miliki dalam kepercayaannya kepada Tuhan. Jika, dalam kepercayaanmu kepada Tuhan, engkau selalu berusaha melihat tanda dan mukjizat, artinya cara pandang kepercayaan ini salah. Kepercayaan kepada Tuhan pada prinsipnya adalah penerimaan terhadap firman Tuhan sebagai kehidupan kenyataan. Tujuan Tuhan hanya dicapai dengan melakukan firman Tuhan yang keluar dari mulut-Nya dan melaksanakannya di dalam dirimu. Dalam memercayai Tuhan, manusia harus berjuang untuk disempurnakan oleh Tuhan, mampu tunduk kepada Tuhan, dan taat sepenuhnya kepada Tuhan. Jika engkau mampu menaati Tuhan tanpa keluhan, memperhatikan kerinduan Tuhan, mencapai tingkat pertumbuhan seperti Petrus, dan memiliki sikap Petrus yang dikatakan oleh Tuhan, itulah saatnya ketika engkau telah mencapai keberhasilan dalam kepercayaan kepada Tuhan, dan itu akan menandakan bahwa engkau telah didapatkan oleh Tuhan.

Dikutip dari "Segala Sesuatu Terlaksana oleh Firman Tuhan" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"

Karena engkau percaya kepada Tuhan, engkau harus makan dan minum firman-Nya, mengalami firman-Nya, dan hidup dalam firman-Nya. Hanya ini yang bisa disebut percaya kepada Tuhan! Jika engkau mengatakan percaya kepada Tuhan dengan mulutmu tetapi tidak dapat menerapkan apa pun dari firman-Nya atau menghasilkan kenyataan apa pun, ini tidak bisa disebut percaya kepada Tuhan. Sebaliknya, itu hanya "mencari roti untuk memuaskan rasa lapar." Hanya bicara tentang kesaksian yang sepele, hal-hal yang tidak berguna, dan persoalan yang dangkal, tanpa memiliki sedikit pun realitas: ini bukan merupakan kepercayaan kepada Tuhan, dan engkau sama sekali belum memahami cara yang benar untuk percaya kepada Tuhan. Mengapa engkau harus makan dan minum sebanyak mungkin firman Tuhan? Jika engkau tidak makan dan minum firman-Nya tetapi hanya berusaha naik ke surga, apakah itu disebut percaya kepada Tuhan? Apa langkah pertama yang harus dilakukan oleh orang yang percaya kepada Tuhan? Dengan jalan apakah Tuhan menyempurnakan manusia? Bisakah engkau disempurnakan tanpa makan dan minum firman Tuhan? Dapatkah engkau dianggap sebagai warga kerajaan tanpa firman Tuhan yang berfungsi sebagai realitasmu? Apa sebenarnya makna percaya kepada Tuhan? Orang-orang percaya di dalam Tuhan setidaknya harus berperilaku baik secara lahiriah; yang paling penting dari semuanya adalah memiliki firman Tuhan. Apa pun yang terjadi, engkau tidak pernah bisa berpaling dari firman-Nya. Mengenal Tuhan dan memenuhi maksud-Nya semua dicapai melalui firman-Nya. Di masa depan, setiap bangsa, denominasi, agama, dan sektor akan ditaklukkan melalui firman Tuhan. Tuhan akan berfirman secara langsung, dan semua orang akan memegang firman Tuhan dalam tangan mereka; dan dengan cara ini, umat manusia akan disempurnakan. Di dalam dan di luar, firman Tuhan meliputi seluruhnya: umat manusia akan mengucapkan firman Tuhan dengan mulut mereka, melakukan penerapan sesuai dengan firman Tuhan, dan menyimpan firman Tuhan di dalam batin mereka, tetap mendalami firman Tuhan baik secara batiniah maupun lahiriah. Dengan demikian, manusia akan disempurnakan. Mereka yang memenuhi maksud Tuhan dan mampu menjadi saksi bagi-Nya adalah orang-orang yang memiliki firman Tuhan sebagai realitas mereka.

Dikutip dari "Zaman Kerajaan adalah Zaman Firman" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"

Hari ini, untuk percaya kepada Tuhan yang praktis, engkau harus menginjakkan kaki di jalan yang benar. Jika engkau percaya kepada Tuhan, engkau tidak semestinya hanya mencari berkat, tetapi berusahalah mengasihi dan mengenal Tuhan. Melalui pencerahan-Nya, melalui pencarian pribadimu sendiri, engkau dapat makan dan minum firman-Nya, mengembangkan pemahaman sejati akan Tuhan, dan memiliki kasih sejati akan Tuhan yang bersumber dari hatimu yang paling dalam. Dengan kata lain, ketika kasihmu kepada Tuhan paling tulus, dan tidak ada yang bisa menghancurkan atau menghalangi kasihmu kepada-Nya, saat inilah engkau berada di jalan yang benar dalam kepercayaanmu kepada Tuhan. Ini membuktikan bahwa engkau adalah milik Tuhan, karena hatimu sudah menjadi milik Tuhan dan tidak ada hal lain yang bisa memilikimu. Melalui pengalamanmu, melalui harga yang telah kaubayar, dan melalui pekerjaan Tuhan, engkau dapat mengembangkan kasih kepada Tuhan tanpa diminta—dan ketika engkau melakukannya, engkau akan menjadi bebas dari pengaruh Iblis dan akan hidup dalam terang firman Tuhan. Hanya ketika engkau telah terbebas dari pengaruh kegelapan, barulah dapat dikatakan engkau telah memperoleh Tuhan. Dalam imanmu kepada Tuhan, engkau harus berusaha mencari tujuan ini. Ini adalah tugasmu masing-masing. Tak satu pun darimu yang boleh puas dengan keadaan saat ini. Pemikiranmu tidak boleh bercabang terhadap pekerjaan Tuhan, maupun menganggapnya enteng. Engkau harus memikirkan Tuhan dalam segala hal dan setiap saat, dan melakukan semua hal demi Dia. Dan setiap kali engkau berbicara atau bertindak, engkau harus mengutamakan kepentingan rumah Tuhan. Hanya dengan demikian, engkau dapat memperkenan hati Tuhan.

Dikutip dari "Engkau Harus Hidup untuk Kebenaran karena Engkau Percaya kepada Tuhan" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"

Seorang yang melayani Tuhan tidak boleh hanya tahu tentang menderita bagi-Nya; lebih dari itu, mereka harus mengerti bahwa tujuan percaya kepada Tuhan adalah berusaha untuk mengasihi Tuhan. Tuhan memakai dirimu bukan sekadar untuk memurnikanmu atau membuatmu menderita, tetapi Dia memakaimu supaya engkau mengetahui perbuatan-Nya, mengetahui makna sejati hidup manusia, dan secara khusus agar engkau tahu bahwa melayani Tuhan bukanlah tugas yang mudah. Mengalami pekerjaan Tuhan bukanlah tentang menikmati anugerah, tetapi lebih tentang menderita demi kasihmu kepada-Nya. Karena engkau menikmati anugerah Tuhan, engkau juga harus menikmati hajaran-Nya; engkau harus mengalami semua ini. Engkau bisa mengalami pencerahan Tuhan dalam dirimu dan engkau juga bisa mengalami penanganan Tuhan dan penghakiman-Nya. Dengan cara demikian, pengalamanmu akan menjadi luas dan lengkap. Tuhan telah melakukan pekerjaan penghakiman dan hajaran-Nya terhadapmu. Firman Tuhan telah menanganimu, tetapi bukan hanya itu; firman Tuhan juga telah mencerahkan dan menerangimu. Ketika engkau negatif dan lemah, Tuhan mengkhawatirkan dirimu. Semua pekerjaan ini dimaksudkan supaya engkau tahu bahwa segala sesuatu yang berkaitan dengan manusia berada dalam pengaturan Tuhan. Engkau mungkin berpikir bahwa percaya kepada Tuhan adalah tentang penderitaan atau melakukan segala macam hal bagi-Nya; engkau mungkin berpikir bahwa tujuan percaya kepada Tuhan adalah agar dagingmu merasakan kedamaian, atau agar segala sesuatu dalam hidupmu berjalan lancar, atau agar engkau merasa nyaman dan tenang dalam segala hal. Namun, tak satu pun dari hal-hal ini merupakan tujuan yang harus manusia capai dalam kepercayaan mereka kepada Tuhan. Jika engkau percaya demi tujuan-tujuan ini, berarti sudut pandangmu itu salah dan sama sekali tidak mungkin bagimu untuk disempurnakan. Tindakan Tuhan, watak Tuhan yang benar, hikmat-Nya, firman-Nya, keajaiban-Nya serta diri-Nya yang tak terselami, semua itulah yang harus manusia pahami. Engkau harus menggunakan pemahaman ini untuk menyingkirkan dari dalam hatimu semua tuntutan, harapan dan gagasan pribadimu. Hanya dengan menyingkirkan hal-hal ini, engkau bisa memenuhi syarat yang dituntut oleh Tuhan, dan hanya dengan melakukan ini, engkau bisa memiliki hidup dan memuaskan Tuhan. Tujuan percaya kepada Tuhan adalah untuk memuaskan-Nya dan hidup dalam watak yang Dia inginkan, sehingga tindakan dan kemuliaan-Nya dapat terwujud lewat sekelompok orang yang tidak layak ini. Inilah cara pandang yang benar untuk percaya kepada Tuhan, dan ini juga merupakan tujuan yang harus engkau capai. Engkau harus memiliki cara pandang yang benar dalam memercayai Tuhan dan engkau harus berusaha mendapatkan firman Tuhan. Engkau perlu makan dan minum firman Tuhan dan harus bisa hidup dalam kebenaran dan terutama engkau harus mampu melihat perbuatan-perbuatan-Nya yang nyata, perbuatan-Nya yang menakjubkan di seluruh alam semesta, juga pekerjaan nyata yang Dia lakukan dalam daging. Melalui pengalaman praktis mereka, manusia bisa menghargai bagaimana Tuhan melakukan pekerjaan-Nya dalam diri mereka dan apa yang menjadi kehendak-Nya bagi mereka. Tujuan semua ini adalah untuk menyingkirkan watak mereka yang rusak dan jahat. Setelah engkau menyingkirkan dari dalam dirimu kecemaran dan ketidakbenaran, dan setelah engkau membersihkan niatmu yang salah dan setelah engkau mengembangkan imanmu yang sejati kepada Tuhan—hanya dengan iman sejatilah engkau bisa benar-benar mengasihi Tuhan. Engkau hanya bisa mengasihi Tuhan dengan murni di atas dasar kepercayaanmu kepada-Nya. Dapatkah engkau mengasihi Tuhan tanpa percaya kepada-Nya? Karena engkau percaya kepada Tuhan, engkau tidak bisa membiarkan dirimu bingung tentang hal ini. Sebagian orang menjadi penuh semangat begitu mereka melihat bahwa iman kepada Tuhan akan memberi mereka berkat, tetapi langsung kehilangan energi begitu tahu bahwa mereka harus mengalami pemurnian. Seperti itukah percaya kepada Tuhan? Pada akhirnya, engkau harus mencapai ketaatan yang sempurna dan mutlak di hadapan Tuhan dalam imanmu. Engkau percaya kepada Tuhan, tetapi masih menuntut-Nya, memiliki banyak gagasan agamawi yang tidak bisa engkau lepaskan, keinginan pribadi yang tak bisa engkau lepaskan, dan masih mencari berkat daging, dan ingin agar Tuhan menyelamatkan dagingmu, menyelamatkan jiwamu—semua itu adalah perilaku orang yang punya cara pandang salah. Meskipun orang dengan kepercayaan agamawi memiliki iman kepada Tuhan, mereka tidak berusaha mengubah watak mereka, tidak mengejar pengenalan akan Tuhan, tetapi sebaliknya mereka hanya tertarik mencari apa yang daging mereka inginkan. Banyak di antara engkau sekalian yang memiliki iman yang termasuk dalam golongan orang agamawi; ini bukanlah iman yang sejati kepada Tuhan. Untuk percaya kepada Tuhan, manusia harus memiliki hati yang siap untuk menderita bagi-Nya dan kerelaan untuk menyerahkan diri bagi-Nya. Jika mereka tidak memenuhi kedua persyaratan ini, hal itu tidak dianggap sebagai iman kepada Tuhan dan mereka tidak akan mampu mengalami perubahan dalam watak mereka. Hanya mereka yang dengan sungguh-sungguh mengejar kebenaran, mencari pengenalan akan Tuhan, dan mengejar kehidupan yang merupakan orang yang sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan.

Dikutip dari "Mereka yang Akan Disempurnakan Harus Mengalami Pemurnian" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"

Mengapa engkau percaya kepada Tuhan? Kebanyakan orang bingung dengan pertanyaan ini. Mereka selalu memiliki dua sudut pandang yang sama sekali berbeda tentang Tuhan yang praktis dan Tuhan yang di surga, yang menunjukkan bahwa mereka percaya kepada Tuhan bukan untuk menaati-Nya, tetapi untuk menerima manfaat-manfaat tertentu, atau untuk melarikan diri dari penderitaan akibat bencana; baru saat itulah mereka agak taat. Ketaatan mereka bersyarat; demi prospek pribadi mereka sendiri, dan dipaksakan kepada mereka. Jadi, mengapa engkau percaya kepada Tuhan? Jika itu semata-mata demi prospekmu dan nasibmu, maka adalah lebih baik jika engkau tidak percaya sama sekali. Kepercayaan seperti ini adalah menipu diri sendiri, menenteramkan diri sendiri, dan membanggakan diri sendiri. Jika imanmu tidak dibangun di atas dasar ketaatan kepada Tuhan, maka engkau pada akhirnya akan dihukum karena menentang-Nya.

Dikutip dari "Dalam Imanmu kepada Tuhan, Engkau Harus Menaati Tuhan" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"

Setelah bertahun-tahun, Aku telah melihat banyak orang yang percaya kepada Tuhan. Seperti apakah kepercayaan mereka mengubah Tuhan di dalam pikiran mereka? Beberapa orang percaya kepada Tuhan seolah-olah Dia semata-mata udara hampa. Orang-orang ini tidak punya jawaban atas pertanyaan tentang keberadaan Tuhan karena mereka tidak dapat merasakan maupun menyadari kehadiran atau ketidakhadiran-Nya, apalagi melihatnya dengan jelas atau memahaminya. Secara bawah sadar, orang-orang ini berpikir bahwa Tuhan tidak ada. Orang-orang lain percaya kepada Tuhan seolah-olah Dia adalah seorang manusia. Orang-orang ini berpikir bahwa Dia tidak mampu melakukan semua hal yang mereka juga tidak mampu lakukan, dan bahwa Dia seharusnya berpikir seperti cara mereka berpikir. Mereka mendefinisikan Tuhan sebagai "pribadi yang tidak terlihat dan tidak dapat disentuh." Ada juga sekelompok orang yang percaya kepada Tuhan seolah-olah Dia sebuah boneka; orang-orang ini percaya bahwa Tuhan tidak memiliki emosi. Mereka beranggapan bahwa Tuhan adalah sebuah patung tanah liat, dan ketika diperhadapkan dengan suatu persoalan, Tuhan tidak memiliki sikap, sudut pandang, atau gagasan; mereka percaya bahwa Dia berada dalam manipulasi umat manusia. Orang hanya percaya dengan cara bagaimanapun mereka ingin percaya. Jika mereka menjadikan-Nya besar, maka Dia pun besar; jika mereka menjadikan-Nya kecil, maka Dia pun kecil. Bilamana orang berbuat dosa dan membutuhkan belas kasih, toleransi, dan kasih Tuhan, mereka beranggapan bahwa Tuhan seharusnya mengulurkan belas kasih-Nya. Orang-orang ini merekayasa "Tuhan" dalam benak mereka sendiri, kemudian memaksa "Tuhan" ini untuk memenuhi tuntutan mereka serta memuaskan semua keinginan mereka. Kapan pun dan di mana pun, dan apa pun yang orang-orang semacam ini lakukan, mereka akan menggunakan khayalan ini dalam perlakuan mereka terhadap Tuhan dan dalam iman mereka. Bahkan ada orang-orang yang setelah mengusik watak Tuhan, masih yakin bahwa Dia dapat menyelamatkan mereka, karena mereka percaya bahwa kasih Tuhan tanpa batas dan watak-Nya benar, dan bahwa bagaimanapun seseorang menyinggung Tuhan, Dia tidak akan mengingatnya sedikit pun. Mereka mengira bahwa karena kesalahan manusia, pelanggaran manusia, dan ketidaktaatan manusia adalah ungkapan sementara dari watak seseorang, Tuhan akan memberi kesempatan kepada orang, dan bersikap toleran serta sabar terhadap mereka; mereka yakin bahwa Tuhan akan tetap mengasihi mereka seperti sebelumnya. Dengan demikian, mereka tetap memiliki harapan yang tinggi untuk memperoleh keselamatan. Pada kenyataannya, bagaimanapun orang percaya kepada Tuhan, selama mereka tidak mengejar kebenaran, Dia akan memiliki sikap negatif terhadap mereka. Ini karena selama engkau beriman kepada Tuhan, meskipun engkau telah menerima kitab firman Tuhan dan memandangnya sebagai harta, serta mempelajari dan membacanya setiap hari, tetapi engkau mengesampingkan Tuhan yang sebenarnya. Engkau menganggap-Nya sebagai udara hampa, atau sebagai seorang manusia belaka—dan beberapa dari antaramu menganggap-Nya tak lebih dari sebuah boneka. Mengapa Aku mengatakannya seperti ini? Aku melakukannya karena menurut pendapat-Ku, entah engkau semua diperhadapkan dengan suatu masalah atau menemui keadaan tertentu, hal-hal yang ada di alam bawah sadarmu, semua hal yang engkau kembangkan dalam hati, tidak pernah ada kaitannya dengan firman Tuhan atau dengan mengejar kebenaran. Engkau hanya mengetahui apa yang engkau sendiri pikirkan, seperti apa sudut pandangmu sendiri, lalu engkau memaksakan gagasanmu dan pendapatmu sendiri kepada Tuhan. Dalam benakmu, itu menjadi sudut pandang Tuhan, dan engkau membuat berbagai sudut pandang ini sebagai standar yang engkau junjung tinggi dengan teguh. Seiring waktu, perbuatan seperti ini membuatmu semakin lama semakin menjauh dari Tuhan.

Dikutip dari "Bagaimana Mengetahui Watak Tuhan dan Hasil yang Akan Dicapai Pekerjaan-Nya" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"

Dalam iman mereka kepada Tuhan, kesalahan terbesar orang adalah mereka hanya percaya di bibir saja, dan Tuhan sama sekali tidak ada dalam kehidupan sehari-hari mereka. Semua orang memang percaya akan keberadaan Tuhan, tetapi Tuhan bukanlah bagian dari kehidupan mereka sehari-hari. Mulut manusia mengucapkan banyak doa kepada Tuhan, tetapi Tuhan hanya memiliki sedikit tempat di hati mereka, dan karenanya, Tuhan menguji mereka lagi dan lagi. Itu karena manusia tidak suci, sehingga Tuhan tidak memiliki pilihan selain menguji mereka, sehingga mereka bisa merasa malu dan mengenal diri mereka sendiri di tengah-tengah ujian ini. Jika tidak, umat manusia akan berubah menjadi keturunan penghulu malaikat, dan menjadi semakin rusak. Dalam proses iman mereka kepada Tuhan, setiap orang membuang banyak niat dan tujuan pribadi mereka di dalam penahiran tanpa henti dari Tuhan. Jika tidak, Tuhan tidak mungkin dapat menggunakan siapa pun, dan tidak mungkin melakukan pekerjaan yang seharusnya Dia lakukan dalam diri manusia. Pertama-tama, Tuhan menahirkan manusia, dan melalui proses ini, mereka dapat mengenal diri mereka sendiri dan Tuhan dapat mengubah mereka. Hanya pada saat itulah, Tuhan mengerjakan hidup-Nya di dalam diri mereka, dan hanya dengan demikian, hati mereka dapat sepenuhnya berbalik kepada Tuhan. Jadi, Kukatakan, percaya kepada Tuhan tidak sesederhana yang dikatakan orang. Dalam pandangan Tuhan, jika engkau hanya memiliki pengetahuan, tetapi tidak memiliki firman-Nya sebagai hidup, dan jika engkau hanya terbatas pada pengetahuanmu sendiri, tetapi tidak dapat melakukan kebenaran atau hidup dalam firman Tuhan, ini masih membuktikan bahwa engkau tidak memiliki hati yang mengasihi Tuhan, dan itu menunjukkan bahwa hatimu bukan milik Tuhan. Seseorang dapat mengenal Tuhan dengan percaya kepada-Nya: ini adalah tujuan akhir, dan tujuan pengejaran manusia. Engkau harus berusaha hidup dalam firman Tuhan sehingga firman itu membuahkan hasil dalam penerapanmu. Jika engkau hanya memiliki pengetahuan doktrinal, imanmu kepada Tuhan akan sia-sia. Hanya bila engkau juga melakukan penerapan dan hidup dalam firman-Nya, barulah imanmu dapat dianggap utuh dan sesuai dengan kehendak Tuhan.

Dikutip dari "Engkau Harus Hidup untuk Kebenaran karena Engkau Percaya kepada Tuhan" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"

Engkau percaya kepada Tuhan dan mengikuti Tuhan, jadi di dalam hatimu, engkau harus mengasihi Tuhan. Engkau harus menyingkirkan watakmu yang rusak, engkau harus berusaha memenuhi keinginan Tuhan, dan engkau harus melaksanakan tugas seorang makhluk ciptaan Tuhan. Karena engkau percaya kepada Tuhan dan mengikuti Tuhan, engkau harus memberikan segalanya kepada Tuhan, dan tidak boleh membuat pilihan atau tuntutan pribadi, dan engkau harus memenuhi keinginan Tuhan. Karena engkau diciptakan, engkau harus menaati Tuhan yang menciptakanmu, karena engkau pada dasarnya, tidak memiliki kuasa atas dirimu sendiri, dan tidak memiliki kemampuan untuk mengendalikan nasibmu sendiri. Karena engkau seorang yang percaya kepada Tuhan, engkau harus mengejar kekudusan dan perubahan. Karena engkau makhluk ciptaan Tuhan, engkau harus mematuhi tugasmu, dan menyadari batas peranmu, dan tidak boleh melangkahi tugasmu. Hal ini bukan untuk membatasimu, atau menekanmu melalui doktrin, melainkan inilah jalan agar engkau dapat melakukan tugasmu, dan jalan ini dapat dicapai—dan yang harus dicapai—oleh semua orang yang menerapkan kebenaran.

Dikutip dari "Keberhasilan atau Kegagalan Tergantung pada Jalan yang Manusia Jalani" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"

Hal paling mendasar yang dituntut dari manusia dalam kepercayaan mereka kepada Tuhan adalah mereka memiliki hati yang jujur, mereka mengabdikan diri sepenuhnya, dan menaati dengan sungguh-sungguh. Hal tersulit bagi manusia adalah mempersembahkan seluruh hidupnya sebagai ganti kepercayaan sejati, yang melaluinya mereka dapat memperoleh seluruh kebenaran, dan memenuhi tugas mereka sebagai makhluk ciptaan Tuhan. Hal inilah yang tak dapat dicapai oleh mereka yang gagal, dan bahkan lebih tak tercapai lagi oleh mereka yang tidak bisa menemukan Kristus. Karena manusia tidak cakap dalam hal mengabdikan seluruh dirinya kepada Tuhan, karena manusia tidak bersedia melaksanakan tugasnya bagi Sang Pencipta, karena manusia sudah melihat kebenaran tetapi menghindarinya dan menempuh jalannya sendiri, karena manusia selalu berusaha mengikuti jalan mereka yang sudah gagal, karena manusia selalu menentang Surga, maka manusia selalu gagal, selalu terjebak dalam tipu daya Iblis, dan terjerat dalam jerat mereka sendiri. Karena manusia tidak mengenal Kristus, karena manusia tidak mahir dalam memahami dan mengalami kebenaran, karena manusia terlalu memuja Paulus dan terlalu mendambakan surga, karena manusia selalu menuntut agar Kristus menaati mereka dan selalu menyuruh-nyuruh Tuhan, maka, para tokoh besar itu dan mereka yang telah mengalami perubahan dunia, mereka tetap akan mati, dan tetap akan mati di tengah hajaran Tuhan. Yang bisa Kukatakan mengenai orang-orang seperti itu adalah bahwa mereka mengalami kematian yang tragis, dan bahwa akibat yang mereka terima—yakni kematian mereka—bukannya tanpa alasan. Bukankah kegagalan mereka malah lebih tak dapat diterima oleh hukum Surga? Kebenaran datang dari dunia manusia, tetapi kebenaran di antara manusia disampaikan oleh Kristus. Kebenaran berasal dari Kristus, yakni, dari Tuhan itu sendiri, dan bukan sesuatu yang mampu dilakukan oleh manusia. Akan tetapi, Kristus hanya menyediakan kebenaran; Dia tidak datang untuk memutuskan apakah manusia akan berhasil dalam pengejarannya akan kebenaran. Oleh karena itu, keberhasilan atau kegagalan dalam kebenaran, semua itu tergantung pada pengejaran manusia. Keberhasilan atau kegagalan manusia dalam kebenaran tak pernah ada hubungannya dengan Kristus, melainkan ditentukan oleh pengejaran mereka. Tempat tujuan manusia dan keberhasilan atau kegagalan manusia tidak bisa dianggap tanggung jawab Tuhan, sehingga Tuhan itu sendiri yang dianggap harus memikulnya, sebab hal ini bukan masalah Tuhan itu sendiri, melainkan berkaitan langsung dengan tugas yang harus dilakukan oleh makhluk ciptaan Tuhan. Kebanyakan orang sebenarnya memiliki sedikit pengetahuan tentang pengejaran dan tempat tujuan Paulus dan Petrus, tetapi orang-orang tidak tahu apa pun lebih dari tentang kesudahan Petrus dan Paulus, dan tidak tahu rahasia di balik keberhasilan Petrus, atau kekurangan yang menyebabkan kegagalan Paulus. Jadi, jika engkau semua sama sekali tak mampu memahami hakikat pengejaran mereka yang sebenarnya, berarti pengejaran kebanyakan orang di antaramu akan tetap gagal, dan sekalipun beberapa orang dari antaramu akan berhasil, mereka tetap tidak akan menyamai Petrus. Jika jalan pengejaranmu adalah jalan yang benar, ada harapan bagimu untuk berhasil; jika jalan yang engkau tapaki dalam mengejar kebenaran adalah jalan yang salah, selamanya engkau tidak akan dapat berhasil, dan akan mendapat hasil akhir yang sama dengan Paulus.

Dikutip dari "Keberhasilan atau Kegagalan Tergantung pada Jalan yang Manusia Jalani" dalam "Firman Menampakkan Diri dalam Rupa Manusia"

Tinggalkan komentar