Menu

berikutnya

Firman Tuhan Harian: Mengenal Tuhan | Kutipan 76

220 Juni 22, 2020

Ketika engkau dapat sungguh-sungguh menghargai pikiran dan sikap Tuhan terhadap umat manusia, ketika engkau dapat sungguh-sungguh memahami emosi dan kepedulian Tuhan terhadap setiap makhluk, engkau akan dapat memahami kesetiaan dan kasih yang dicurahkan kepada masing-masing orang yang diciptakan oleh Sang Pencipta. Ketika ini terjadi, engkau akan menggunakan dua kata untuk menggambarkan kasih Tuhan—apa sajakah dua kata itu? Ada yang bilang "tanpa pamrih," ada lagi yang bilang "dermawan." Dari kedua kata ini, "dermawan" adalah yang paling tidak cocok untuk menggambarkan kasih Tuhan. Ini adalah kata yang digunakan orang untuk menggambarkan pemikiran dan perasaan terbuka seseorang. Aku benar-benar membenci kata ini, karena kata ini mengacu pada pemberian sumbangan secara acak, secara sembarangan, terlepas dari segala macam prinsip. Ini adalah ungkapan terlalu emosional orang-orang yang bodoh dan bingung. Ketika kata ini digunakan untuk menggambarkan kasih Tuhan, sudah pasti ada konotasi menghujat di dalamnya. Aku punya dua kata yang lebih sesuai untuk menggambarkan kasih Tuhan—apakah dua kata tersebut? Yang pertama adalah "besar." Bukankah kata ini sangat menggugah? Yang kedua adalah "luas." Ada arti nyata di balik kedua kata ini yang Aku pakai untuk menggambarkan kasih Tuhan. Secara harfiah, "besar" menggambarkan volume atau kapasitas suatu hal, tetapi tidak peduli seberapa pun besarnya hal tersebut—itu adalah sesuatu yang bisa disentuh dan dilihat orang. Ini karena hal tersebut benar-benar ada, bukan sebuah objek yang abstrak, dan kata itu juga memberikan pemahaman yang relatif tepat dan nyata. Tidak peduli apakah engkau mengamatinya dari sudut datar atau tiga dimensi; engkau tidak perlu membayangkan keberadaannya, karena itu adalah hal yang sungguh-sungguh ada. Meskipun menggunakan kata "besar" untuk menggambarkan kasih Tuhan terasa seperti mengukur kasih-Nya, akan tetapi itu juga memberikan perasaan bahwa kasih-Nya tidak dapat diukur. Aku mengatakan bahwa kasih Tuhan dapat diukur karena kasih-Nya bukanlah bersifat non-entitas, dan juga bukan sesuatu yang berangkat dari suatu legenda. Malahan, itu merupakan sesuatu yang dimiliki segala hal di bawah kuasa Tuhan, dan itu adalah sesuatu yang dinikmati semua makhluk dalam derajat yang berbeda dan dari sudut pandang berbeda. Meskipun orang-orang tidak dapat melihat atau menyentuhnya, kasih ini membawa pemeliharaan dan kehidupan bagi segala hal dan terungkap sedikit demi sedikit dalam kehidupan mereka, dan mereka menghitung dan bersaksi atas kasih Tuhan yang mereka nikmati setiap waktunya. Aku mengatakan bahwa kasih Tuhan tidak bisa diukur karena rahasia pembekalan dan pemeliharaan Tuhan atas segala hal adalah sesuatu yang sulit untuk dimengerti manusia, begitu juga pikiran-pikiran Tuhan untuk segala hal, terlebih untuk umat manusia. Dengan kata lain, tidak seorang pun tahu darah dan air mata yang ditumpahkan Sang Pencipta bagi umat manusia. Tidak ada yang bisa memahami, tidak ada yang bisa mengerti kedalaman atau bobot kasih Sang Pencipta atas umat manusia, yang diciptakan oleh tangan-Nya sendiri. Menggambarkan kasih Tuhan dengan kata besar adalah demi membantu orang untuk menghargai dan memahami luasnya dan kebenaran dari keberadaannya. Juga agar supaya orang dapat lebih dalam memahami arti sesungguhnya dari kata "Pencipta," dan agar supaya orang dapat memperoleh pengertian yang lebih dalam akan arti sebutan "ciptaan." Apakah yang biasanya digambarkan oleh kata "luas"? Biasanya kata itu digunakan untuk menggambarkan samudra atau semesta, seperti semesta luas, atau samudra luas. Luas dan kedalaman yang tenang dari alam semesta melampaui pemahaman manusia, dan merupakan sesuatu yang menarik imajinasi manusia, membuat mereka dipenuhi kekaguman akan semua itu. Misteri dan kedalamannya terlihat namun tak terjangkau. Ketika engkau memikirkan samudra, engkau memikirkan luasnya—terlihat tidak ada batasnya, dan engkau dapat merasakan misteri dan keinklusifannya. Inilah mengapa Aku menggunakan kata "luas" untuk menggambarkan kasih Tuhan. Ini demi membantu orang-orang merasakan betapa berharganya kasih Tuhan itu, dan merasakan keindahan yang mendalam dari kasih-Nya, dan bahwa kekuatan kasih Tuhan itu tidak terbatas dan luas. Ini demi membantu mereka merasakan kekudusan dari kasih-Nya, dan martabat serta sifat Tuhan yang tak terbantahkan yang diungkapkan melalui kasih-Nya. Sekarang apakah menurutmu "luas" adalah kata yang tepat untuk menggambarkan kasih Tuhan? Apakah kasih Tuhan sesuai dengan dua kata, "besar" dan "luas" ini? Tentu saja! Dalam bahasa manusia, hanya dua kata ini yang secara relatif cocok, dan secara relatif sesuai untuk menggambarkan kasih Tuhan. Tidakkah engkau semua berpikir demikian? Seandainya Aku meminta engkau semua menggambarkan kasih Tuhan, akankah engkau semua menggunakan dua kata ini? Kemungkinan besar engkau semua tidak bisa, karena pemahaman dan penghargaanmu akan kasih Tuhan masih terbatas pada sudut pandang yang rata, dan belum naik mencapai ketinggian ruang tiga dimensi. Jadi seandainya Aku memintamu menggambarkan kasih Tuhan, engkau semua akan merasa bahwa engkau kekurangan kata-kata; bahkan engkau semua tidak akan bisa berkata-kata. Dua kata yang telah Aku bahas hari ini mungkin sulit untuk engkau semua pahami, atau mungkin engkau semua sama sekali tidak setuju. Ini hanya menunjukkan fakta bahwa penghargaan dan pemahamanmu akan kasih Tuhan masihlah dangkal dan berada dalam cakupan yang sempit. Aku telah mengatakan sebelumnya bahwa Tuhan tidak mementingkan diri sendiri—engkau semua ingat kata tanpa pamrih. Dapatkah dikatakan bahwa kasih Tuhan hanya dapat digambarkan sebagai tanpa pamrih? Bukankan ini cakupan yang terlalu sempit? Engkau semua mesti lebih banyak merenungkan masalah ini agar mendapatkan sesuatu dari sini.

—Firman, Vol. 2, Tentang Mengenal Tuhan, “Pekerjaan Tuhan, Watak Tuhan, dan Tuhan itu Sendiri III”

Tinggalkan komentar