Menu

berikutnya

Firman Tuhan Harian: Inkarnasi | Kutipan 119

214 Juni 10, 2020

Satu-satunya alasan bahwa Tuhan yang berinkarnasi menjadi daging adalah karena kebutuhan manusia yang telah rusak. Ini karena kebutuhan manusia, bukan kebutuhan Tuhan, dan seluruh pengorbanan dan penderitaan-Nya adalah demi kebaikan manusia, dan bukan demi keuntungan Tuhan sendiri. Tidak ada pro dan kontra atau upah bagi Tuhan. Dia tidak akan menuai panen di masa depan dari apa yang sesungguhnya berasal dari-Nya. Semua yang dilakukan dan dikorbankan-Nya bagi umat manusia bukanlah untuk mendapatkan upah yang besar, tetapi semata-mata demi kebaikan umat manusia. Meskipun pekerjaan Tuhan dalam daging melibatkan berbagai kesulitan yang tak terbayangkan, namun hasil akhir yang dicapai jauh melebihi karya yang dilakukan secara langsung oleh Roh. Pekerjaan daging melibatkan banyak kesulitan, dan daging tidak dapat memiliki identitas dengan keagungan yang sama seperti Roh sehingga tidak dapat melakukan perbuatan-perbuatan supranatural yang sama seperti Roh, apalagi memiliki otoritas yang sama dengan Roh. Namun demikian, hakikat dari pekerjaan yang dilakukan oleh daging yang luar biasa ini jauh lebih hebat dari pekerjaan yang dilakukan langsung oleh Roh, dan diri-Nya sendiri dalam rupa daging adalah jawaban bagi semua kebutuhan manusia. Bagi mereka yang diselamatkan, nilai guna pekerjaan Roh jauh lebih rendah daripada yang dilakukan daging: Pekerjaan Roh dapat meliputi seluruh alam semesta, melintasi gunung, sungai, danau, dan lautan, namun pekerjaan daging lebih terkait secara efektif dengan setiap orang yang berhubungan dengan-Nya. Lebih jauh lagi, Tuhan dalam rupa daging yang berbentuk nyata lebih dapat dipahami dengan baik dan dipercayai manusia, dan dapat lebih jauh memperdalam pengenalan manusia akan Tuhan, dan dapat memberi kesan yang lebih dalam akan pekerjaan Tuhan yang nyata. Karya Roh terselubung dalam misteri, hal ini sulit dipahami oleh makhluk fana, dan lebih sulit lagi untuk dilihat, sehingga mereka hanya dapat mengandalkan imajinasi-imajinasi hampa. Pekerjaan daging, sebaliknya, natural dan berdasarkan pada kenyataan, dan kaya akan hikmat, dan merupakan sebuah kenyataan yang dapat dilihat oleh mata jasmani manusia; manusia dapat secara pribadi mengalami hikmat pekerjaan Tuhan, dan tak perlu mengerahkan imajinasinya yang kaya. Inilah keakuratan dan nilai nyata dari pekerjaan Tuhan dalam daging. Roh hanya dapat melakukan hal-hal yang tak dapat dilihat dan sulit untuk dibayangkan manusia, sebagai contohnya pencerahan oleh Roh, gerakan Roh, dan bimbingan Roh, namun bagi manusia yang memiliki pikiran, hal-hal tersebut tak memberikan arti yang jelas. Semua itu hanya memberikan gerakan, atau arti yang luas, dan tidak dapat memberikan petunjuk lewat kata-kata. Namun, pekerjaan Tuhan dalam daging jauh berbeda: Karena memiliki panduan yang akurat dalam kata-kata, keinginan yang jelas, dan tujuan yang jelas. Dengan demikian, manusia tak perlu mencari-cari, atau mengerahkan imajinasinya, apalagi menerka-nerka. Inilah kejelasan dari pekerjaan daging, dan perbedaan besarnya dari pekerjaan Roh. Pekerjaan Roh hanyalah cocok untuk lingkup yang terbatas, dan tak dapat menggantikan pekerjaan daging. Pekerjaan daging memberikan manusia tujuan yang jauh lebih pasti dan lebih penting serta jauh lebih nyata, serta pengetahuan yang lebih berharga daripada pekerjaan Roh. Pekerjaan paling bernilai bagi manusia yang rusak adalah firman yang akurat, dan tujuan yang jelas, dan yang bisa dilihat maupun disentuh. Hanya pekerjaan yang realistis dan bimbingan di saat yang tepatlah yang memenuhi selera manusia, hanya pekerjaan yang nyata yang dapat menyelamatkan manusia dari kerusakannya dan watak berdosanya. Hal ini hanya dapat diraih oleh Tuhan yang berinkarnasi; hanya Tuhan yang berinkarnasilah yang dapat menyelamatkan manusia dari kecemaran masa lalu dan watak berdosanya. Meskipun Roh adalah hakikat yang melekat pada diri Tuhan, pekerjaan semacam ini hanya dapat dikerjakan oleh diri-Nya dalam daging. Jika Roh bekerja sendiri, maka tak mungkinlah pekerjaan-Nya akan berhasil—ini kebenaran yang nyata. Meskipun hampir seluruh manusia telah menjadi musuh Tuhan karena daging ini, saat Dia menyelesaikan pekerjaan-Nya, mereka yang melawan-Nya tak hanya akan berhenti menjadi musuh-Nya, namun sebaliknya mereka akan menjadi saksi-Nya. Mereka akan menjadi saksi yang telah ditaklukkan oleh-Nya, saksi yang selaras dengan-Nya dan tak terpisahkan dari-Nya. Dia akan membuat manusia mengerti pentingnya pekerjaan-Nya dalam daging bagi manusia, dan manusia akan mengenal pentingnya daging ini bagi keberadaan manusia, akan mengenal nilai sejati-Nya bagi pertumbuhan hidup manusia, dan, lebih jauh lagi, akan mengenal bahwa daging ini akan menjadi mata air kehidupan yang manusia tak bisa terpisah darinya. Meski inkarnasi Tuhan dalam daging jauh dari identitas dan kedudukan Tuhan, dan tampak bagi manusia tidak sesuai dengan status Tuhan sesungguhnya, daging ini, yang tidak memiliki citra sejati Tuhan, atau identitas sejati Tuhan, dapat melakukan pekerjaan yang tak dapat dilakukan Roh Tuhan secara langsung. Itulah makna dan nilai sesungguhnya dari inkarnasi Tuhan, dan inilah makna dan nilai yang tak dapat dihargai dan diketahui manusia. Meskipun semua manusia menghormati Tuhan dalam bentuk Roh dan memandang rendah Tuhan dalam rupa daging, terlepas dari bagaimana mereka memandang ataupun berpikir, makna dan nilai sesungguhnya dari Tuhan dalam rupa daging jauh melampaui Tuhan dalam bentuk Roh. Tentu saja, ini hanya berkaitan dengan manusia yang cemar. Bagi setiap orang yang mencari kebenaran dan merindukan wajah Tuhan, pekerjaan Roh hanya dapat menyentuh dan memberi wahyu, serta rasa takjub yang tak dapat dijelaskan dan tak terbayangkan, dan kesan yang begitu luar biasa dan mengagumkan, serta tak terjangkau dan tak dapat diraih oleh semua orang. Manusia dan Roh Tuhan hanya dapat saling memandang dari kejauhan, seolah ada jarak yang jauh sekali di antara mereka, dan mereka tidak pernah bisa bersama-sama, seolah terpisah oleh pemisah yang tak terlihat. Pada kenyataannya, ini adalah ilusi yang diciptakan Roh bagi manusia, yang karena Roh dan manusia tidaklah sama, dan karena Roh dan manusia tak pernah akan hidup bersama di dunia yang sama, dan karena Roh tak memiliki apa pun yang dimiliki manusia. Jadi, manusia tidaklah membutuhkan Roh, karena Roh tidak dapat secara langsung mengerjakan pekerjaan yang sangat dibutuhkan manusia. Pekerjaan daging memberikan tujuan yang jelas untuk dicapai manusia, kata-kata yang jelas, dan nalar bahwa Tuhan itu nyata dan wajar, bahwa Tuhan itu rendah hati dan manusia biasa. Meskipun mungkin manusia takut kepada-Nya, bagi kebanyakan orang berhubungan dengan-Nya itu mudah: Manusia dapat menyentuh wajah-Nya, dan mendengar suara-Nya, dan tak perlu memandang-Nya dari kejauhan. Daging ini terasa lebih bisa didekati manusia, tidak jauh, atau tidak tak terselami, namun bisa dilihat dan disentuh, karena daging ini berada di dunia yang sama dengan manusia.

—Firman, Vol. 1, Penampakan dan Pekerjaan Tuhan, "Manusia yang Rusak Lebih Membutuhkan Keselamatan dari Tuhan yang Berinkarnasi"

Tinggalkan komentar