Menu

berikutnya

Firman Tuhan Harian: Mengenal Tuhan | Kutipan 1

322 Mei 31, 2020

Setiap orang dari antaramu harus memeriksa sekali lagi kehidupan imanmu kepada Tuhan untuk melihat apakah, dalam pengejaranmu akan Tuhan, engkau telah benar-benar mengerti, telah benar-benar memahami, dan telah benar-benar mengenal Tuhan, apakah engkau benar-benar mengetahui sikap Tuhan terhadap berbagai jenis manusia, dan apakah engkau benar-benar mengerti apa yang sedang dikerjakan Tuhan dalammu dan bagaimana Tuhan mengartikan setiap tindakanmu. Tuhan ini, yang berada di sisimu, membimbing arah kemajuanmu, menentukan takdirmu, dan menyediakan kebutuhanmu—jadi setelah engkau merenungkannya lagi, berapa banyak yang engkau pahami dan benar-benar ketahui tentang-Nya? Apakah engkau tahu apa yang Ia kerjakan dalammu setiap harinya? Apakah engkau tahu prinsip-prinsip dan tujuan yang menjadi dasar setiap tindakan-Nya? Apakah engkau tahu bagaimana Ia membimbingmu? Apa engkau tahu sarana yang Ia gunakan untuk menyediakan kebutuhanmu? Apakah engkau tahu cara-cara yang Ia gunakan untuk memimpinmu? Apakah engkau tahu apa yang ingin Ia dapatkan darimu dan apa yang ingin Ia capai di dalammu? Apakah engkau tahu sikap-Nya dalam menghadapi tingkahmu yang macam-macam itu? Apakah engkau tahu jika engkau adalah orang yang dikasihi-Nya? Apakah engkau tahu asal suka cita-Nya, amarah-Nya, kesedihan-Nya, dan kesenangan-Nya, juga pikiran-pikiran dan ide-ide di baliknya, serta esensi-Nya? Apakah engkau tahu, pada akhirnya, Tuhan seperti apakah yang engkau percayai ini? Apakah pertanyaan-pertanyaan ini dan juga pertanyaan-pertanyaan senada merupakan hal-hal yang tak pernah engkau pahami dan pikirkan? Dalam mengejar kepercayaanmu kepada Tuhan, sudahkah engkau, lewat penghargaan nyata dan pengalaman akan firman Tuhan, memperjelas kesalahpahamanmu tentang-Nya? Sudahkah engkau, setelah menerima disiplin dan didikan Tuhan, memiliki ketundukan dan kepedulian yang sejati? Sudahkah engkau, di tengah hajaran dan penghakiman Tuhan, menyadari sifat manusia yang memberontak dan menyerupai Iblis dan mendapatkan sedikit pengertian tentang kekudusan Tuhan? Sudahkah engkau, di bawah bimbingan dan pencerahan firman Tuhan, mulai memiliki pandangan hidup yang baru? Sudahkah engkau, di tengah ujian yang dikirimkan oleh Tuhan, merasakan betapa tidak tolerannya Ia terhadap pelanggaran-pelanggaran manusia dan juga apa yang Ia kehendaki darimu dan bagaimana Ia menyelamatkan engkau? Jika engkau tidak tahu artinya salah paham terhadap Tuhan, atau bagaimana mengatasi kesalahpahaman ini, dapat dikatakan bahwa engkau tidak pernah memasuki persekutuan yang sejati dengan Tuhan dan tidak pernah mengerti Tuhan, atau paling tidak dapat dikatakan engkau tidak pernah ingin memahami-Nya. Apabila engkau tidak tahu apa itu disiplin dan didikan Tuhan, sudah pasti engkau tidak tahu apa itu tunduk dan peduli, atau paling tidak engkau tidak pernah benar-benar tunduk atau peduli pada Tuhan. Jika engkau tidak pernah mengalami hajaran dan penghakiman Tuhan, engkau pasti tidak akan tahu apa itu kekudusan-Nya, dan pembangkangan manusia akan lebih tidak jelas bagimu. Jika engkau tidak pernah benar-benar memiliki pandangan hidup yang benar, atau tujuan hidup yang benar, melainkan masih berada dalam keadaan bingung dan bimbang tentang jalan hidupmu di masa depan, bahkan sampai pada titik ragu untuk bergerak maju, dapat dipastikan bahwa engkau tidak pernah benar-benar menerima pencerahan dan bimbingan Tuhan, dan dapat dikatakan juga bahwa engkau tidak pernah benar-benar dibekali atau diperbarui oleh firman Tuhan. Jika engkau belum mengalami ujian Tuhan, dapat dipastikan bahwa engkau tidak akan tahu tentang intoleransi Tuhan terhadap pelanggaran manusia, dan engkau tidak akan mengerti apa yang pada akhirnya dikehendaki Tuhan darimu, lebih lagi, engkau tidak akan mengerti pekerjaan-Nya dalam mengelola dan menyelamatkan manusia. Tidak peduli berapa tahun lamanya seseorang telah percaya kepada Tuhan, jika ia tidak pernah mengalami atau memahami apa pun dari firman Tuhan, maka sudah pasti ia tidak melangkah di jalan menuju keselamatan, imannya kepada Tuhan dapat dipastikan tidak memiliki isi, pengenalannya akan Tuhan sudah pasti nol, dan tidak perlu dipertanyakan lagi bahwa ia tidak mengerti sama sekali tentang apa yang dimaksud dengan menghormati Tuhan.

—Firman, Vol. 2, Tentang Mengenal Tuhan, "Kata Pengantar"

Tinggalkan komentar